• MENGENAL PEMIKIRAN  KLASIC TENTANG METAFISIS AWAL  EKSISTENSI

.Pada pembahasan makalah ini  kami akan menjelaskan mengenai filsafat pra Sokrates. Filosof-filosof  pra Sokrates diantaranya adalah Thales, Anaximander, Anaximenes, (Milensian) serta Pythagoras,namun dalam makalah ini kami hanya akan membahas pemikiran “Heraklitus  dan Parmenides”, dimana kedua filosof inidikenal sebagai filosof yang mempunyai pandangan yang lebih bersifat metafisik dan sangat berlawanan.Heraklitus mengatakan hakikat sesuatu  menjadi atau berubah, sedangkan Parmenides  sangatlah bertolak belakang, Ia menganggap semuanya itu adalah satu, tetap dan abadi.

            Mengenai pandangan –pandangan filosof dunia timur. Pemikiran mereka lebih kepada bagaimana agar fisafatnya itu dapat teraktualisasi dalam kehidupan sehari-hari mereka,sebagaiman pemikran yang dipentingkan oleh Konfusianis meadalah ritualdan harus menguasai aspek keagamaan dan sosial  dan menurut pemikiran Taoisme hendaknya kita memberikan kasih sayang kita tidak terbatas pada anggota keluarganya saja, akan tetapi kita sesama manusia harus saling menyayangi tanpa memandang suku, ras dan agama.

1.      HERACLITUS

  1. a.      Sejarah singkat  Heraclitus

Seorang filsuf dari Efesus yang lebih mudah dari Anaximenes, Pythagoras dan Xenophanes, adalah Heracleitus, ia lahir di kota Ephesos di Asia minor italia selatan. (540- 475 SM).Ia adalah seorang berperangai melankolik, suka menyendiri, soliter.Ia juga seorang tokoh yang sangat kritis,  yang sama sekali tidak menghargai pemikiran  orang –orang ternama sebelumnya seperti Pythagoras dan Xenophanes.

  1. b.      Sejarah Pemikirannya

Filsafatnya adalahtentang “menjadi” yakni,tidak ada sesuatupun  yang betul-betul berada ,sebab semuanya “menjadi”. Segala sesuatu yang ada bergerak  terus-menerus,bergerak secara abadi.

Heraclitus dikenal karena ajarannya :panta rhei, yang artinya segala sesuatu  mengalir (all things  are in state of flux). Tetapi, kata Coppleston ucapan ini tidak mewakili  inti pemikiran filosofisnya, meski memang mewakili suatu aspek penting dari ajarannya.

You cannot  step twice into the same river,for fresh waters are ever flowing in upon you”, “Engkau tak dapat turun dua kali ke dalam arus sungai yang sama, karena air segar senantiasa melintasimu.”[1] Dan ”Matahari selalu baru setiap hari.”

Demikian kata Heraclitus, sebab air sungai itu  terus berlalu, bergiliran, dan jika kita mengamati,air itu sama seperti air tadi, tetapi  sebenarnya sudah berganti karena sifat air itu sendiri adalah mengalir,dan berganti-ganti. Demikian juga halnya dengan segala sesuatu tiada yang tetap. Tentang ini, Aristoteles berkomentar bahwah  doktrin utama Heraclitus adalah bahwah  segala sesuatu ada dalam gerakan ,tak ada sesuatu yang tetap dan statis (all thins are in motion nothing steadforthy).

Menurut Heraclitus,tiap benda terdiri dari hal-hal yang saling berlawanan, hal ini membawa Heraclitus juga kepada pendirian bahwah:tidak ada satu realitas pun yang dapat dipikirkan tanpa realitas lawannya. Begitu, misalnya kita tidak akan pernah dapat


[1]Tjahjadi Simon Petrus L,Petualangan Intelektual,(Yogyakarta,Kanisius,2004) Hlm 27

1.      PARMENIDES

  1. a.      Sejarah singkat Parmenides

Parmenides  adalah seorang filsuf dari mazhab Elea. Di dalam mazhab Elea,  Parmenides  merupakan tokoh yang paling terkenal. Parmenides lahir menjelang  pada tahun 540 SM  dan meninggal pada tahun 470 di kota Elea, Italia Selatan .Ia berasal dari keluarga kaya dan terhormat di Elea. Ia juga merupakan murid dari Xenophanes namun tidak mengikuti pandangan-pandangan gurunya, pengaruh Xenophanes hanyalah di dalam penggunaan puisi di dalam menyampaikan filsafatnya.

Menurut kesaksian plato, sekitar tahun 451- 449 Parmenides pernah mengunjungi Sokrates bersama Zeno muridnya.Pada saat itu  Parmenides berusia 65 tahun, ia bertukar pikiran  dengan sokrates yang jauhlebih muda, tepatnyadi kota Athena. Parmenides juga merupakan seorang ahli politik dan pernah memangku jabatan pemerintahan, tetapi, bukan karena itu namanya tersohor, melainkan karena ia adalah seorang ahli pikir yang tak seorang pun bisa melebihinya pada masa itu.

  1. a.      Sejarah Pemikiranya

Pandangan Parmenides justru sebaliknya dari  pandangan Heracleitus, yang mengajarkan  bahwah hakekat segalakenyataan adalah perubahan,maka Parmenides menentangnya dan mengemukakan  bahwah kenyataan  bukanlah gerak dan perubahan, melainkan keseluruhan yang bersatu , yang tidak bergerak ,dan tidak berubah.  Bahkan dia menulis dalam bentuk puisi yang berjudul On Nature. Ia menganggap  indra bersifat menipu  dan berbagai benda lainnya[1].

Mengenai hakikat yang ada (Being)

Inti ajarannya adalah: Being, the one, is, and that becoming, change, is ilussion. Menurut Parmenides, jika sesuatu itu ada, maka ada dua kemungkinan asalnya, yakni ia bisa  berasal dari  ada (being) yang tidak dapat hilang  menjadi” tidak ada”atau bisa pula berasal dari tidak ada (not-being), yang tidak mungkin  muncul menjadi” ada”, sehingga yang tidak ada itu tidak dapat dipikirkan, dan yang dapat dipikirkan hanyalah  yang ada saja. Oleh sebab itu, menjadi atau perubahan  itu adalah ilusi.Oleh sebab itu hanya akal yang dapat mengatakan bahwa “yang ada itu mesti ada” serta mengakui bahwa “yang tidak ada “ itu mustahil ada.

Ia juga mengatakan  bahwa ada dua jalan untuk mendapatkan pengetahuan, yaitu jalan yang benar, dan jalan yang sesat, dan memberi pengetahuan  yang semu, Sebab itu pluralitas adalah ilusi. Jadi inilah yang menjadikan pandangan  Parmenides  bertolak belakang  dengan pandangan Heraclitus.

Apabila kita bayangkan bagaimana terjadinya seorang filsuf modern jika ia hanya dikenal melalui polemik- polemik yang dikemukakan oleh lawannya, maka bisa kita perkirakan  betapa hebat para  filsuf pra-Sokrates tersebut, sebab kendatipun  mereka hanya bisa dilihat dari balik kabut permusuhan  yang ditebarkan lawan-lawannya, mereka tetap tampak agung. Bagaimana pun kenyataannya, Plato dan Aristoteles sepakat bahwah heraklitus mengajarkan  “tak ada yang abadi dan tetap (Aristoteles), dan  segala sesuatu” menjadi” (Plato).

Sebelummasukkepadaberbagai aliran di timur, sedikit kami menggali makna filsafat itu sehingga kedepannya pembahan kami ini akan menjadi sub-topik yang dapat dipahami. Filsafat adalah kegiatan perenungan yang menyelidiki sekaligus mendasari segala sesuatu yang berfokus pada makna di balik kenyataan/teori yang ada untuk disusun dalam sebuah sistem pengetahuan rasional. Dalam hal kerohaian filsafat sering digambarkan sebagai pandangan hidup seseorang, filsafat berbeda dengan agama, agama lebih dari sekedar  pengetahuan, agama mencari keharmonisan, keselamatan, dan perdamaian. Dunia timur yang mencangkup India, Cina, Timur Tengah dan bahkan Indonesia menyimpan potensi filosofis yang begitu besar untuk digali dan dikembangkan. Lepas dari apakah itu timur atau barat, penggalian dan pengembangan pemikiran timur dilakukan agar dapat memperkaya khasanah filsafat.

Filsafat Cina

Kedudukanfilsafatdalamperadaban cina dapat disamakan dengan kedudukan agama dalam peradaban-peradaban lain. Di cina filsafat senantiasa merupakan urusan setiap orang yang berpendidikan. Jadi filsafat menjadi pendidikan pertama yang diajarkan, dari sinilah kami ingin membahas berbagai pandangan yang kemudian mewarnai filsafat cina itu sendiri. Dalam kitab klasik tiga aksara – buku neo-confusius – sesungguhnya kitab inilah yang kemudian menjadi pemula dari berbagai pandangan di timur, di dalamnya terkandung pernyataan “pada awal mulanya kodrat manusia adalah baik”.

Secaragarisbesar Ada tiga tema pokok sepanjang sejarah filsafat cina, yakni harmoni, toleransi dan perikemanusiaan. Selalu dicarikan keseimbangan, harmoni  adalah suatu jalan tengah antara dua ekstrem: antara manusia dan sesama, antara manusia dan alam, antara manusia dan surga. Toleransi kelihatan dalam keterbukaan untuk pendapat-pendapat yang sama sekali berbeda dari pendapat-pendapat pribadi, suatu sikap perdamaian yang memungkinkan pluralitas yang luar biasa, juga dalam bidang agama. Kemudian, perikemanusiaan dalam pemikiran Cina lebih antroposentris daripada filsafat India dan filsafat Barat. Namun disini kita tidak membahasnya secara lebih terperinci, kita akan mengkaji aliran-aliran yang timbul pada masa filsafat timur ini yaitu Confociusme dan taoisme.

  1. 1.      Confucius, Guru Pertama.

Confucius adalah nama seseorang yang dilatinkan, yang di cina dikenal sebagai K’ung fu Tze atau empu K’ung[2]. Nama keluarganya ialah K’ung dan nama pribadinya adalah ch’iu. Menurut sejarah ia lahir pada tahun 551 SM, dinegara Lu, dibagian selatan yang saat ini disebut propinsi Shantung di Cina bagian timur. Leluhurnya adalah bangsawan penguasa negara Shung. Karena terjadinya kekacauan politik, maka sebelum confucius lahir keluarganya kehilangan kedudukan kebangsawanan dan pindah ke negeri Lu[3]. Ia mengajar bahwa Tao (“jalan” sebagai prinsip utama dari kenyataan) adalah “jalan manusia”. Artinya: manusia sendirilah yang dapat menjadikan Tao luhur dan mulia, kalau ia hidup dengan baik. Keutamaan merupakan jalan yang dibutuhkan. Kebaikan hidup dapat dicapai melalui perikemanusiaan, yang merupakan model untuk semua orang. Secara hakiki semua orang sama walaupun tindakan mereka berbeda Dalam bahasa Mandarin aliran ini disebut Rujia. Rujia memang sering diartikan sebagai filsafat Khonghucu. Sebenarnya Rujia berarti filsafat cendikiawan, Ru sendiri berarti cendikiawan atau sarjana. Seperti filsuf – filsuf lainnya dari zaman chou , tujuan Confucius yang terutama adalah mencapai kehidupan yang ideal . Untuk mencapai cita – citanya itu ia bercermin pada masa silam, karena itu ia banyak menyelidiki sejarah .

Pemikirannya, suatu hal yang dipentingkan oleh K’ung fu tzeadalah ritual dan harus menguasai aspek keagamaan dan sosial. Ia mengatakan, bahwa Gagasannya sudah ada sejak zaman permulaan kerajaan Chou ,yaitu konsepsi mengenai masyarakat , terutama tentang keluarga ,negara dan pemerintahan. dalam konsepsi Confuciasme ketertiban hubungan sosial dibagi menjadi 5 hubungan yang disebut Wu Lun,yaitu :

  • Hubungan antara raja atau pemerintahan dengan rakyat
  • Hubungan ayah dengan anak
  • Hubungan suami dengan istri
  • Hubungan kaka dengan adik
  • Hubungan kawan dengan kawan.

Apabilasikapsetiap orang sesuai dengan setatusnya, maka akan lahir kesadaran hak dan kewajiban. Sistem kekerabatan harus didasarkan pada syian[4], aspek inilah yang menjadikan budaya cina tetap terwariskanhinggasaatini.

  1. 2.      Taoisme

Taoisme diajarkan oleh Lao Tse (“guru tua”) yang hidup sekitar 550 S.M. Ia lahir pada tahun 604 SM, Lao Tse melawan Konfusius. Menurut Lao Tse, bukan “jalan manusia” melainkan “jalan alam”-lah yang merupakan Tao. Tao menurut Lao Tse adalah Jalan yang dilalui kejadian-kejadian alam dengan daya cita yang timbul dengan sendirinya ditambah selingan-selingan yang teratur[5]. Ajaran Lao Tse lebih-lebih metafisika, sedangkan ajaran Konfusius lebih-lebih etika. Puncak metafisika Taoisme adalah kesadaran bahwa kita tidak tahu apa-apa tentang Tao. Ajaran Taoisme dalam berabad-abad telah menempuh perkembangan ,yang disamping bersifat mistik aslinya yang murni dari Lao Tzu ,juga menuju kepada agama yang penuh kepercayaan takhayul. Taoisme mempunyai daya tarik yang sangat besar terhadap rakyat biasa sehingga disebut agama Taoisme.

Pemikirannya, seseorang hendaknya memberikan kasih sayanghnya tidak hanya terbatas pada para anggota keluarganya saja, tetapi harus kepada seluruh anggotakeluarga yang lain.

Filsafat India

India adalah suatu wilayah yang dibatasi pegunungan yang terjal.pada zaman kuno, daerah india sulit dimasuki oleh musuh sehingga penduduknya dapat menikmati kehidupan yang tenang dan banyak peluang untuk memikirkan hal-hal yang berkaitan tentang kerohanian.

Filsafat india berkembang dan menjadi satu dengan agama sehingga pemikiran filsafatnya bersifat religius dan tujuan akhirnya adalah mencari kesalamatan akhirat. Dalam filsafat india ini kami akan sedikitnya mengkaji tentang dua aliran filsafat besar yang berpengaruh di dataran india itu sendiri yaitu Budhisme dan Hinduisme.

  1. 1.      Budhisme

Buddhisme merupakan suatu ajaran tentang bagaimana menyikapi hidup dan kehidupan ini. Ajaran ini dibawa oleh Sidharta Gautama, seorang pangeran dari keluarga istana di suatu tempat yang sekarang disebut Nepal. Ayah Sidharta(Suddodhana) sebenarnya mengetahui bahwa nantinya Sidharta akan menjadi seorang bijaksana yang akan menjadi guru bagi umat manusia. Melihat ramalan ini ayah Sidharta menjadi gusar. Sebab dia tidak menginginkan anaknya meninggalkan istana. Dia ingin Sidharta nantinya yang menjadi raja penggantinya bila dia sudah wafat. Oleh karena itu sejak kecil Sidharta tidak pernah diperlihatkan “kehidupan” yang sebenarnya. Sidharta selalu ditempatkan pada kesenangan-kesenangan dan kemewahan di dalam istana.

Namun Sidharta ternyata memiliki keinginan yang sangat besar untuk mengetahui keadaan di luar istana. Ia meminta ijin kepada ayahnya untuk jalan-jalan keluar istana. Dengan berat hati akhirnya ayahnya mengijinkannya. Maka pada suatu hari pergilah Sidharta ditemani seorang pengiring. Di perjalanan ia mengalami peristiwa-peristiwa yang mengejutkan dirinya. Berturut-turut ia berjumpa dengan seorang tua, seorang sakit, dan seusung jenazah. Dalam tiap pertemuan itu ia bertanya pada pengiringnya “Apakah itu?” dijelaskanlah oleh pengiringnya masing-masing peristiwa itu. Pengiringnya selalu berkata “Ini akan menimpa tiap manusia”. Melihat kenyataan ini Sidharta menjadi semakin penasaran. Apa yang dialaminya sangatlah bertantangan dengan apa yang dia lihat. Oleh karena itu dia kemudian memutuskan untuk pergi keluar istana dan mencari hakikat hidup yang sebenarnya.

Setelah bertahun-tahun mencari dia kemudian berkesimpulan :

  • Bukan dalam pemutlakan pemenuhan diri akan kenikmatan sebanyak mungkin agar terhindar dari derita.
  • Bukan pula dalam matiraga yang berlebihan manusia dapat menemukan tuntunan dalam mengatasi derita.

Setelah Sidharta merenung di bawah pohon bodhi dia kemudian mencapai apa yang disebut sebagai pencerahan. Sidharta lalu disebuit sebagai Buddha artinya yang sudah dicerahi. Dia mengemukakan empat kebenaran luhur untuk dapat mencapai keselamatan[6]. Yaitu : (1) Hidup adalah menderita, (2) Penderitaan itu ada sebabnya, (3) Penderitaan dapat diatasi dengan melenyapkan keinginan, (4) Cara mengatasi sebab-sebab derita itu terdiri dari delapan jalan. Delapan jalan itu adalah :

  1. Melihat dengan benar
  2. Memecahkan masalah dengan benar
  3. Berbicara dengan benar
  4. Bertindak dengan benar
  5. Hidup dengan benar
  6. Berikhtiar dengan benar
  7. Bernalar dengan benar
  8. Bermeditasi dengan benar.

Budha kemudian meyebarkan ajarannya itu pada murid-muridnya. Setelah beberapa tahun ajaran Budha dikumpulkan jadi satu dalam kitab yang disebut Dhammapada. Kitab ini juga membahas tentang hakikat benda-benda secara filsafati-buddhisme. Benda-benda itu sesungguhnya (1) bersifat fana, (2) mengandung penderitaan, (3) segala sesuatu adalah tanpa ego.

  1. 2.      Hinduisme

Dalam pembahasan filsafat hindu, secara garis besar kita akan dihadapkan pada lima zaman pemikiran-pemikiran hinduisme itu sendiri, yang disini kami akan menyinggung secara ringkas.

  1. Zaman Weda (1500-600 SM)

Zaman ini diisi oleh peradaban bangsa Arya, pada saat itu muncul benih pemikiran filsafat yang berupa mantra-mantra, ppujian keagamaan yang terdapat dalam sastra brahmana dan upanishad.

  1. Zaman wiracarita (600-200 SM)

Zaman ini diisi oleh perkembangan sistem pemikiran filsafat yang berupa Upanishad. Ide pemikiran filsafat tersebut muncul berupa tulisan-tulisan tentang kepahlawanan dan tentang hubungan antara manusia dengan dewa.

  1. Zaman sastra sustra (200 SM- 1400 M)

Zaman ini diisi oleh semakin banyaknya bahan-bahan pemikiran filsafat (sutra), ditandai dengan lahirnya tokoh-tokoh seperti; sankara, ramanuja, madhwa, dan lainnya

  1. Zaman kemunduran (1400-1800 M)

Zaman ini diisi oleh pemikiran filsafat yang stagnan karena para ahli hanya menirukan pemikiran filsafat yang lampau. Timbulnya keadaan ini disebabkan oleh pertemuan antara kebudayaan barat dengan pemikiran india sehingga menimbulkan reaksi hebat dari para pemikir india.

  1. Zaman pembaharuan (1800-1950 M)

Zaman ini diisi oleh kebangkitanm pemikiran filsafat india. Pelopornya adalah Ram Mohan Ray, seorang pembaharu yang mendapatkan pendidikan di barat.[7]

 

Kesimpulan

Dan harus dikatakan bahwa  Heraclitus  tergolong  filsuf yang terbesar sebelum Socrates. dianggap sebagai Bapa dari pada yang bergerak senanatiasa yang selalu dalam kejadian dunia dinamis. Sedangkan Parmenides adalah bapak dari pada yang tetap dan tidak berubah-ubah, dunia statis.[8] Adapun ajarannya banyak yang  tidak memuaskan  bagi orang-orang yang  semasa dengan dia, dengan banyak keterangan  yang bertentangan, dengan tampaknya dengan yang lahir. Oleh karena itu banyak yang membantah.

Daftar Pustaka

  • Tjahdi Simon Petrus L, 2004.Petualangan Intelektual: Yogyakarta,Kanisius
  • Achmadi Asmoro, 2010.Filsafat Umum: Jakarta Raja wali Press
  • Russell Betran, 2002. Histori of  western Philosophy: Yogyakarta Pustaka  Pelajar
  • HattaMohammad ,1996.Dalam Pemikiran Yunani: jakarta UI Press

Internet


[1]  Russell Betran, History of western Philosophy (Yogyakarta, Pustaka Pelajar, 2002) hlm. 66

[2] Kata “Tzu” atau “Empu” merupakan akhiran sebagai penghormatan yang ditambahkan kepada sebagian nama-nama filsuf pada masa dinasti chao, seperti chuang tzu yang berarti Empu Chuang.

[3] Bab 4, Filsafat Cina karangan soejono soemargono, yogyakarta.

[4]Syian, suatu perasaan keterikatan terhadap orang-orang yang menurunkannya.

[5]Ibid, hal 96

[6]Bagus takwin

[7]Asmoro ahmadi,op. Cit; 86

[8]Hatta Mohammad,Dalam Pemikiran Yunani (Jakarta ,UI Press, 1986) hlm