filosof

A.Asal Usul mazhab Syi’ah Ja’fari

Mazhab ja’fariyah  adalah sebuah  kelompok besar dari umat islam pada masa sekarang ini, dan jumlah mereka  diperkirakan seperempat dari jumlah umat islam. Mazhab Syiah Imamiyah Isna Asyariyah ini satu aliran dengan Mazhab Ja’fariyah dengan beracuan  pada 12 keturunan Nabi a.s. (Ahlul Bait). Latar belakang sejarahnya bermuara pada permulaan islam, yaitu saat turunya firman Allah Swt.surat Al-Bayyinah ayat 7 yaitu:

Artinya: “sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal shaleh, mereka adalah sebaik-baiknya  penduduk bumi”.(QS. Al-Bayyinah:7).

Selekas itu, Rasulullah meletakkan tangannya  di atas pundak Ali bin Abi Thalib   a.s.  sedang para sahabat hadr menyaksikannya, seraya bersabda: “Hai Ali!, kau dan para syi’ahmu adalah sebaik-baik penduduk bumi”. Dari sinilah, kelompok ini disebut dengan nama”Syi’ah” ,dan dinisbatkan kepada Ja’far Ash-Shadiqa.s. karena mengikuti beliau dalam bidang Fiqhi.

B. Siapakah Imam Ja’far itu..?

v  Ja’far Ash Shadiq a.s. adalah Ja’far bin Muhammad Al-Baqir Bin Ali Zainal Abidin  bin Husain Bin Ali  bin Abi Thalib  suami Fatimah Az-Zahra  binti Rasulullah muhammad Saw. Beliau dilahirkan  lahir di madinah  Al-Munawwarah pada tanggal 17 Rabiul Awwal  tahun 80 H/ 669 M. Ibunya bernama Ummu Farwa binti al-Qasin  bin Muhammad bin Abu Bakar As-Shiddiq. Pada beliaulah  terdapat perpaduan  darah Nabi dengan Abu Bakar As-Shiddiq. (menurut catatan  yang masyhur, pada masa  pemerintahan  khalifah pada masa pemerintahan khalifah Abdul Malik  bin Marwan dari dinasti Umayyah). Imam Ja,far bin Muhammad Ash-Shadiq a.s dilahirkan dan dibesarkan di bawah naungan  ayahnya, Muhammad Al-Baqir a.s dan kakenya Ali bin Husain yang darinya mengambil ilmi-ilmu syariat dan ilmu pengetahuan  islam lainnya. Ja’far As-Shadiq adalah seorang ulama besar dalam banyak bidang ilmu, seperti ilmu filsafat, tasawwuf, Fiqhi, kimia, dan ilmu kedokteran. Di antaranya beliau menjadi guru Jabir bin Hayyam –ahli kimia dan kedokteran islam. Dalam mazhab Syi’ah, fiqhi ja’farilah sebagai fiqhi mereka, karena sebelum Ja’far As-Shadiq dan pada masanya   tidak ada perselisihan,  perbedaan pendapat muncul masa beliau.

C. Beberapa Pendapat Ulama Mengenai Imam Ja’far

  • Ahli Sunnah  berpendapat bahwa ja’far Ash-Shadiq adalah seorang mujtahid  dalam ilmu fiqhi, yang mana beliau telah mencapai ilmi laduni beliau dianggap  sebagai sufi Ahlu Sunnah dikalanga Syaikh-Syaikh mereka yang besar, beserta padanyalah tempat puncak pengetahuan dan darah nabi yang suci. Syarastani mengatakan bahwa ja’far As-Shadiq, adalah seorang  yang berpengatuhuan  dalam agama  mempunyai budi pekerti yang sempurna Serta sangat bijaksan,  zahid dari keduniaan,  jauh dari segala hawa nafsu.
  • Imam Abu Hanifah  berkata :” saya tidak dapati orang yang lebih faqih dari ja’far bin Muhammad.
  • George Zaidan berkata” diantara muridnya adalah Abu Hanifah (w.150 H/ 767 M) Malik bin Anas (w.181 H/ 797 M). Abu Nuaim Mengatakan bahwa  diantara murid beliau juga adalah Muslim bin al-Hajjaj perawi hadits shahih yang masyhur. Bahkan  se4dikitnya ada 900 orang  Syaikh belajar kepada beliau di Masjid Kufah.
  • Abu Zuhra berkata:” Beliau ( Ja’far As-Shadiq) berpandukan kitab  Allah (al-Qur-an ), pengetahuan serta pandangan beliau sangat  jelas,  beliau mengeluarkan hukum-hukum fiqhi dari nash-nashnya  serta berpegang teguh pula pada Sunnah Nabi Saw. Setelah  masa  Dikalangan kaum sufi  beliau  adalah  guru dan syaikh yang besar dan dikalangan ahli kimia beliau  dianggap sebagai pelopor.

Sebagaimana yang telah disebutkan diawal  bahwa dalam Mazhab  ja’fariyah meyakini ada 12 imam yaitu:

  1. Imam Ali bin Abu Thalib Al-Mujtabah a.s.
  2. Imam Hasan Al-Mujtabah a.s
  3. Husain Sayyid Asy-Syuhada a.s.( keduanya adalah putra Iman  Ali dan Sayyidah Fatimah a.s. dan cucunda Nabi Saw.)
  4. Imam Ali Zainal Abidin  As-Sajjad a.s.
  5. Imam Muhammad Al- Baqir a.s
  6. Imam Ja’far bin Muhammad As-Shadiq a.s.
  7. Imam  Musa bin Ja’far Al-Kadzimi a.s.
  8. Imam Ali bin Musa Ar-Ridha a.s.
  9. Imam Muhammad bin Ali  Al-jawad At-Taqi .a.s.
  10. Imam  Ali bin Muhammad Al-Hadi-An Naqi a.s.
  11. Imam  Hasan bin Ali Al-Askari a.s.
  12. Imam Muhammad bin Hasan  Al-mahdi Al-Muntazhar a.s. yang dijanjikan dan dinantikan.
  1. a.      Keghaiban Imam Mahdi

Dalam syi’ah ja’fariyah meyakini adanya Imam Mahdi yang dinannti berdasarkan riwayat-riwayat yang begitu banyak dari Nabi Saw. H yang menyebutkan bahwa dari keturunan Fathima dan dia keturunan yang ke-9 dari Imam Husain a.s karena anak atau keturunan  yang ke-8 dari imam Hasan  adalah Imam Hasan Askari yang telah meninggal pada tahun 260 H sedangkan

Beliau tidak mempunyai anak kecuali  anak yang diberi nama Muhammad. Dialah Imam Mahdi  yang di beri panggilan  Nasab Abul Qasim. Banyak orang  yang terpercaya dari umat islam yang telah melihatnya. Dan mereka telah mengabarkan  akan kelahirannya,  ciri-ciri khasnya, keimamahannya dan nas dari ayahnya yang menunjukkan kepemimpinannya.

Dia telah gaib setelah 50 tahun kelahirannya, karena musuh-musuh ingi membunuhnya. Oleh karena itu Allah menyimpannya untuk menegakkan  pemerintahan yang adil, unuversal pada akhir zaman dan mensucikan bumu dari kezaliman  dan kerusakan setelah dipenuhi oleh keduanya. Maka tidak aneh atau mengherankan panjangnya akan usia beliau dan masih hidup sampaai sekarang meskipun sudah melampaui abad 20  dari kelahirannya. Sebagaimana Nabi Nuh a.s pernah hidup selama 950 tahun ditenganya umatnya.  Dan menyeru mereka kepada Allah  atau nabi Khaidir a.s. yany sampai saat ini masih hidup. Allah Swt mahakuasa atas segala sesuatu dan kehendaknya  berjalan tanpa ada yang bisa mencegah dan menolaknya. Bukankah Allah swt telah menegaskan  ihwal Nabi Yunus a.s. dalam Firmannya. Maka sekiranya  dia termasuk orang-orang yang banyak mengingat Allah. Niscaya ia akan tetap akan tinggal di perut ikan  sampai hari kebangkitan (QS.As-Shaffat: 143-144

2. Keberagamaan Mazhab Ja’fariyah

Pada dasarnya, baik Ahlul sunnah maupun mazhab  ja’fari mempunyai sumber dan tujuan  yang sama dalam beribadah,  ajarannya sama-sama bersumber dari Rasulullah Muhammad Saw. begitu pula tujuan semuanya ingin memperoleh  keridhaan Allah swt. Namun, dalam mencapainya, khususnya dalam  melaksanakan syariat, dalam mazhab ini mempunyai cara yang sedikit berbeda dengan Mazhab lainnya yang tentunya tidak hanya  berdasarkan keyakinan semata akan tetapi didukung pula dengan berbagai dalil-dalil yang kuat  bagi mazhab ini. Diantaranya adalah sebagai berikit:

v  Kaum Syi’ah Ja’fariyah melakukan  shalat, puasa, haji,  membayar khumus (1/5) pendapatan mereka, haji ke Mekkah yang mulia melaksanakan manasik  haji dan umrah dan haji seumurr hidup sekali, sedang adapun dari itu adalah sunnah. Mereka percaya  bahwah setiap kewajiban yang bersifat harian, memiliki waktu tertentu, dan waktu-waktu shalat  harian adalah Shubuh, Zuhur, Ashar, Maghrib, Isya. Hanya saja,  mereka melakukan jamak  antara dua shalat Zuhur dan Ashar dan antara Magrib dan Isya karena Rasulullah Saw. Melakukan jamak  dua shalat tanpa ada tanpa uzur, tanpa sakit dan tanpa bepergian  sebagaimana yang disebutkan dalam  shahih muslim dan kitab hadits lainnya,” Sebagai keringanan untuk umat  serta untuk mempermudah bagi mereka”.Dan itulah yang menjadi masalah biasa pada masakita sekarang ini.

v  Mereka mengumandangkan azan  sebagaimana azannya umat islam yang                      lain, hanya saja mereka sebutkan setelah hayya ‘alal falah dengan redaksi hayya ‘alal khairil amal karena telah ada sejak zaman Nabi Saw. Hanya saja pada zaman Umar bin khathab, kalimat itu dihapus atas jihad pribadinya, dengan alasan hal itu dapat memalingkan  umat islam dari berjihad. Padahal mereka tahu bahwa shalat itu adalah sebaik-baik perbuatan ( sebagaimana pengakuan Allamah Qusyi  Al Asy’ari  dalam kitab  Syarah ) Syarah Tajrid Al-Itiqad, Al-Mushannaf, karya Al-Kindi, kanz Al-Ummal karya al Muttaqi Hindi, dll. Ummar telah menambahkan  sebuah  redaksi Assalatu Khairul minannaum. Sementara kalimat itu tidak pernah  ada di zaman Nabi Saw. Dan adapun yang ditambahkan Syi’ah Ja’fariyah  setelah Syahada kepada Rasulullah Saw. (Asyhadu anna Muhammadan Rasulullah), berupa kalimat Asyhadu anna Aliyyun Waliyullah karena danya riwayat-riwayat dari Nabi Saw. Dan Ahlil baitnya a.s. yang menjelaskan bahwa tidaklah disebutkan kalimat Muhammad Rasulullah tersebut diatas pintu Surga, kecuali diikuti kalimat Aliyun Waliyullah, yaitu sebuah kalimat yang menjelaskan  bahwah syi’ah tidak mempercayai  kenabian Ali bin Abi Thalib, apalagi sampai mengatakan ketuhanannya. Karenanya, diperbolehkan  untuk membaca kalimat itu setelah dua syahadat, dengan niat bahwah itu tidak termasuk bagian  dari azan. Inilah pendapat mayoritas ulama-ulama ahli fiqhi Syi’ah Ja’fariyah.

v   Sujud  Diatas Tanah

Mereka sujud diatas tanah, debuh, kerikil,  atau diatas batu dan apa saja  yang termasuk bagian dari bumi atau  tanah yang tumbuh di atasnya, seperti tikar yang terbuat dari  bukan terbuat dari kain. Karena ada banyak riwayat di dalam sumber Syi’ah dan Ahlu sunnah bahwah kebiasaan Nabi Saw. adalah sujud di atas  debu atau tanah, bahkan, memerintahkan  akum muslimin  untuk diikuti.

Suatu hari Bilal  sedang sujud diatas serban (ammamah), karena akan takut  akan panas yang menyengat, maka Nabi menarik ammamah itu dari dahinya seraya berkata: “ Ratakan dahimu dengan tanah wahai Bilal”. Begitu juga Nabi pernah mengatakan pada Shuhaib dan Rabah dalam sabdanya: “Ratakan wajahmu wahai Shuhaib dan ratakan pula wajahmu  wahai Rabah”. Oleh karena sujud  dan meletakkan  dahi  di atas tanah tatkala sujud merupakan  hal yang paling layak  untuk menghantarkan kepada  kekhusyuan  dan sarana terdekat untuk merendahkan diri  di depan Tuhan, juga dapat mengingatkan manusia akan asal wujudnya. Tentunya, tanah tersebut harus suci, orang-orang Syi’ah selalu membawah tanah yang sudah dipres dan sudah jelas kesuciannya. Mungkin juga tanah ini diambil dari tanah  yang penuh berkah  seperti tanah karbala. Disanalah  Imam husain syahid  sehingga tanah itu berkah. Sebagaimana firman Allah Swt: Dan bumi (tanah) itulah kami menjadikan kamu  dan kepadanya kami akan dikembalikan  kamu sekalian,  serta darinya kami akan mengeluarkan (membangkitkan) kamu pada kali yang lain.

v  Hukum bersedekap dalam Shalat

Begitu pula dengan, tidak bersedekap (meletakkan tangan  kanan  diatas tangan kiri) sewaktu sholat karena Nabi Saw. tidak perna melakukan  hal itu, juga tidak ada nas yang kuat dan jelas yang menganjurkan hal itu. Karenanya, mazhab Maliki tidak  melakukan sedekap tersebut.

v  Syi’ah ja,fariyah  berwudhu dengan membaasuh kedua tangan; dan siku-siku sampai ujung jari-jari, bukan kebalikannya, karena menagambil cara berwudhu para Imam Ahlul Bait yang telah mengambilnya dari Nabi Saww.Tentunya mereka lebih mengetahui dari yang lainnya terhadap apa yang dilakukan oleh kakek mereka.  Rasulullah Saw. Telah berwudhu dengan  cara demikian itu,  dan tidak menafsirkan kata (Ilaa) dalam ayat wudhu (Al-Maidah: 6)  dengan kata (ma’a) hal ini juga ditulis Imam Syafi’i dalam kitabnya Nihayatul Muhtaj : begitu juga,  mengusap kaki  dan kepala mereka  atau tidak membasuhnya ketika berwudhu,  dengan alasan yang sama. Juga karena Ibnu Abbas mengatakan: “Wudhu itu  dengan basuhan  dan dua usapan”.  

v  Beberapa Doa-doa yang utam yang  Mulia.

Mereka pun mengadakan peringatan hari-hari besar  sebagaimana Mazhab lainnya dengan tujuan tertentu, karena kecintaan mereka besar, kandungannya yang agung, yang datang dari Rasulullah Saw. Dan para Imam Suci Ahlul Bait Nabinya, seperti; Doa kumail, doa Abu Hamzah, doa Simaat, dan Jauzan Kabir (doa yang mencakup  seribu asma-asma Allah swt.) doa akan nasehat dengan   mencurahkan  doa-doa yang memiliki manfaat yang makarimul Akhlak, doa Iftitah. Mereka  membaca dengan penuh kekhusyuan  dalam suasana yang penuh tangisan  dan kerendahan hati karena hal itu dapat membersihkan jiwa-jiwa mereka serta dapat mendekatkan  mereka kepada Allah swt.

v  Memperingati hari Kelahiran dan  Wafatnya  Rasulullah dan Ahlul Baitnya

Mereka membuktikan rasa cinta kepada Ahlul Bait dengan   mengadakan peringatan atas kelahiran dan hari wafatnya  manusia-manusia suci itu dengan tujuan mengenang keutamaan mereka.tentunya dalam setiap acara yang mereka adakan itu  menghindari pebuatan  yang diharamkan  seperti pencampuran  majlis antara wanita dan laki-laki makanan dan minuman yang diharamkan. Mereka pun memberikan perhatian besar  pada kuburan-kuburan Nabi Saw. Para Imam Ahlul Baitnya yang dikubur di Baqi’, Madinah Al-Munawwarah dimana disanalah  kuburan Imam Hasan Al-Mujtabah, Imam Ali Zinal Abidin, Imam Muhammad Baqir,  dan Imam Ja’far Ash-Shadiq. Di Najaf terdapat kuburan Imam Ali Bin Abu Thalib a.s.

Dan di Karbala terdapat kuburan Imam Husain  bin Ali a.s. beserta saudara-saudarnya, anak-anaknya, anak pamannya dan para sahabatnya  yang syahid bersamanya pada hari Asyura. Dan  juga di Samarra ada kuburan Imam Al-Hadi a.s. dan Imam Hasan Al-Askari.

Di Kazhimain terdapat kuburan Imam jawad a.s. dan Imam Musa Al-Kazhim a.s. semua itu ada di Irak dan dikota Masyhad-Iran  terdapat Pusara Imam Ali Al-Ridho a.s. Di damaskus  ada kuburan pahlawan wanita yaitu Sayyidah Zainab a.s Di Mesir ada kuburan Syayyidah Nafisah. Hal itu sebagai penghormatan kepada Rasulullah Saww. Sekaligus dapat mengingatkan kita akan kematian. Dan bukankah Nabi Muhammad Saw. Telah menangisi  saat kematian puteranya Ibrahim dan sering pergi ke Baqi untuk Berziarah, dan dalam haditsnya mengatakan: Ziarahilah Kubur! Karena itu mengingatkan  kalian kepada kematian. (Di dalam Syifa’As-Syaqam, karya Subhi Asyafi’i hal 107dan Sunan Ibnu majah jilid 1 hal.117dan)

v  Syi’ah Ja’fariyah senantiasa menjalin hubungan  dengan  ulama-ulama  dan ahli-ahli fiqhi mereka lewat apa yang dinamakan “taqlid” di bidang hukum-hukum mereka merujukkan problema-problema fiqihnya kepada para Mujtahid, dan mereka beramal dalam seluruh aspek kehidupan mereka  sesuai dengan fatwa-fatwa  ahli fiqhi mereka yang dianggap sebagai wakil –wakil Imam Zaman.

v  Terkadang, Syiah Ja’fariyah bersandar pada hadits-hadits Ahlu sunnah  Wal jama’ah  perlu diketahui bahwa Syi’ah Imamiah  juga seperti  Ahlu Sunna; mewreka mengambil  apa-apa yang datang dari Nabi Saw. Baik berupa perbuatan, ucapan, ataupun restu Nabi, termasuk juga riwayat tentang wasiat Nabi berkenan Ahlul Baitnya, dan mereka berpegang teguh kepadanya. Dan banyak di dapati  hadits-hadits dari sahabat Nabi a.s. istri beliau, sahabat yang masyhur serta perawi-perawi besar seperti Abu Hurairah, anas bin Malik dengan syarat shahih dan tidak bertentangan. Al-Quran dan tentunya tidak bertentangan dengan  akal budi serta ijma ulama.

Taqiyah,

Taqiyah yaitu menyembunyikan  sesuatu yang penting dari  ajaran Mazhab dan keyakinan dan sering dilakukan dalam situasi kemelut antara golongan. Taqiyah dilakukan karena ada dua faktor:

a)      Taqiyyah Makhafatiyah takut dari bahaya yakni menjaga darah mereka supaya tidak tertumpahkan  begitu saja.

b)      Taqiyyah Mudaratiyah, taqiyyah yang ditunjukkan untuk menjaga  perasaan orang yang berbeda dengannya,  demi terjadinya  hubungan  baik antarkeluarga atau umat yang berbeda demi terhindar dari fitnah yang Islam yang dapat meresahkan masyarakat  atau demi terealisasinya persatuan umat dan tidak menimbulkan perpecahan.

Perlu ditegaskan  disini bahwah  Taqhiyyah merupakan  istilah yang digunakan  oleh  para Mufassir, muhaddits, fuqaha dari berbagai kalangan.

v  Nikah Mut’ah

Syi’ah ja’fariyah membolehkan nikah mut’ah berdasarkan  Nash Al-Qur’an Sebagaiman dalam   Nash  al-Qur’an  Allah Swt berfirman:”Maka istri yang kalian nikmati   diantara mereka, berikanlah mahar mereka sebagai suatu a mufassirkewajiban”.(QS. An-Nis[4]:24). Di samping itu para sahabat dan orang-orang islam pada masa Rasulullah Saw. Sampai pertengahan masa khilafah  Umar Bi Khathab telah melakukan Nikah Mut’ah.

Mut’ah adalah  pernikahan  Syar’i yang persyaratan sama dengan Permanen aatu da’im, yaitu:

a)      Hendaknya pihak wanita tersebut tidak bersuami, dan membaca shighab ijab dan pihak laki-laki membaca shighab kabul.

b)      Pihak laki-laki wajib memberikan harta kepada wanita, yang disebut mahar dalam nikah da’im dan dalam nikah mut’ah disebut upah, sebagaimana yang disebutkan dalam Al-Qur’an.

c)      Wanita harus menjalani  ‘iddah (setelah cerai dengan suaminya). Ini dilakukan Setelah  kepada ayahnya masa mut’ahnya habis. Apabila ia melahirkan  seorang anak, maka, maka anak itu ikut kepada ayahnya. Juga seorang  wanita hanya dapat memiliki satu suami saja.

d)     Dalam pewarisan  antara  anak  dan ayahnya, dan ibunya  dan begitu juga sebaliknya.

Yang membedakan nikah daim dengan nikah mut’ah  adalah bahwah  dalam nikah mut’ah terdapat penentuan masa, tidak adanya kewajiban memberikan nafkah dan masa gilir atas suami  untuk sang istri Mut’ah, tidak adanya saling  mewarisi  antara suami dan istri, tidak perlu adanya talak, tetapi cukup dengan  habisnya masa yang telah ditentukan,  atau mengibahkan  sisa masa yang telah ditentukan tersebut

Hikmah nikah Mut’ah

Hikmah disyariatkan  nikah semacam  ini adalah  tuntutan  yang disyariatkan  dan bersyarat untuk kebutuhan biologis laki-laki dan perempuan yang tidak mampu menjalankan  setiap kewajiban didalam nikah da’im (permanen). Atau adanya halangan dari istri yang terjadi akibat kematian  atau sebab lainnya,begitu pula sebaliknya. Semua ini masih dalam rangka membina kehidupan yang terhormat dan mulia.maka itu, nikah mut’ah  adalah solusi tingkat pertama bagi kebanyakan  problematika sosial yang cukup serius dan berbahaya  dan juga mencegah terperosoknya  masyarakat islam dalam menghalakan  segala macam cara. Terkadang, nikah ini digunakan  dengan tujuan  agar kedua calon  suami istri saling mengenal  sebelum memasiki jenjang pernikahan permanen. Hal  ini dapat mencegah perjumpaan yang diharamkan, zina, mengkebiri atau cara-cara lain yang diharamkan seperti onani, bagi orang yang tidak sabar atas satu orang  istri atau lebih dari  satu. Yang jelasnya  nikah mut’ah berdasarkan  pada Al-qur’an  dan Sunnah dan sahabat perna melakukan  itu selama  beberapa masa.

v  Dalam Mazhab ini, mereka pun meminta Syafaat kepada Rasulullah Saw.  dan para Imam Ahlul bait Yang Suci,  serta Berwasilah  melalui MerekaKepada Allah Swt. Untuk pengampunan dosa-dosa, pengabulan  Hajat, Penyembuhan orang-orang yang sakit, karena Al-Qur’an Membolehkan hal itu bahkan  menganjurkannya, seraya berfirman : sesunggunya jika mereka menganiaya dirinya sendiri (berhakim selain dirinya dari Nabi) datang kepadamu lalu memohon ampun kepada Allah dan Rosul pun memohonkan  ampun untuk mereka endapati Allah Maha penerima taubat  lagi maha penyayang (QS. Nisa[4]: 64).

Bagaimana masuk akal Allah Swt  akan memberikan   kepada Nabi-Nya syafaat untuk orang-orang yang berdosa dan memberikan makam wasilah (perantara)  bagi orang-orang yang memiliki hajat  kemudian dia menolak dan manusia yang meminta syafaat darinya  atau dia akan melarang Nabi-Nya bukankah allah meminta  syafaat dari Nabi-nya untuk menggunakan kedudukan ini..?

Bukankah Allah telah menceritakan  kepada Anak-anak Ya’kub yaitu disaat mereka meminta Syafaat dari oarang tuanya  dan berkata: Wahai ayah kami, mohonkanlah ampun bagi kami terhadap dosa-dosa kami, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang bersalah.(QS. Yusuf [12]:97).

Maka, Nabi Ya’qub tidak menolak permohonan permohonan mereka, dan menjawab: Aku  akan   memohonkan  ampun untuk kalian  kepada tuhannku. (QS. Yusuf [12]:98).

Tidak Mungkin  seseorang mengatakan  bahwa Nabi Saw. Dan para Imam Maksum a.s adalah oarang-orang yang telah mati, lantas orang itu meminta doa dari mereka kemudian tidak ada faedanya. Mengapa ? karena Nabi Saw. Itu hidup, khususnya Rasulullah Saw.Yang telah dinyatakan dalam Al-Qur’an: dan demikian pula kami telah menjadikan kalian sebagai umat yang adil dan pilihan agar kalian  menjadi saksi atas perbuatan manusia dan agar Rasulullah menjadi saksi atas perbuatan kalian.(QS.Al-Baqarah [2]:143).

Ayat-ayat ini akan terus  berlaku sampai hari kiamat, selama matahari dan bulan beredar serta malam dan siang silih berganti. Di samping itu, karena Nabi dan para Imam Ahlul Bait a.s adalah orang-orang yang Syahid ( penyaksi) dan dalam pandangan Al-Qur’an, mereka hidup sebagaimana Allah Swt mengatakannya dalam banyak ayat.

3.      Pertumbuhan dan Perkembangann Mazhab Ja’fariyyah

Mazhab Ja’fari mengalami perkembangan yang cukup pesat dalam bidang fiqhi dan ushul Fiqhi. Namun mengenai periodesasi perkembangan  fiqhi Mazhab Ja’fari, dikalangan Syi’ah muncul sebuah perbedaan. Murtaza Mutahhari mengungkapkan bahwah perkembangan fiqhi dimulai dari masa “kegaiban kecil” Imam Mahdi (260-329 H) ia memperkuat alasannya dengan  dua alasan :

  1. Masa sebelum  “kegaiban  kecil” pada masa ini meskipun  ada ahli fiqhi   adalah masa keberadaan para imam. Meskipun ada ahli fiqhi yang membuat fatwa sendiri namun tidak menyaingi kedudukan Imam.
  2. Tidak ada kitab yang ditulis  sebelum kegaigan kecil.

Sedangkan menurut Ahmad Kazemi Mousavi, ahli fiqhi iran, Mazhab Ja’fari memulai perkembangan fiqhinya  sejak masa ketika  Mazhab Syi’ah menemukan  ekspresi doktrinalnya   sekitar 132H/750M, yaitu ketika  Imam Ja’far Ash-Shadiq melakukan perjalanan ke Kufah. Saat itu  ajarannya direkam oleh muridnya dengan sistematis.

Periode pertama berlangsung sampai tahun  408 H /1017M. Ketika muncul  kaum Usuli. Masa awal ini ditandai dengan pengumpulan hadits yang diriwatkan  oleh para Imam Syi’ah yang lazim disebut  dengan usul al-arba’u mi’ah ( empat ratus sumber hukum). Hanya saja, meskipun buku-buku  tersebut  hasits-hadits Shahih,  para penulis atau pengarang  dan orang-orang Syi’ah Ja’fari  sendiri tidak memutlakkan dengan judul Shahih karena para ulam Fiqhi tidak meyakini seluruh keshahihan Haditsnya.  Akan tetapi mereka hanya menolak hadits yang dianggap riwayatnya tidak shahih atau akan mengambil hadits-hadits yang menurut  ilmu dirayah, ilmu Rijal dan kaedah-kaedah ilmu Hadits, tidak bermasalah dan dan tidak cacat.  Usaha demikian terutama terpusat di kota Ray dan kota Qum, Iran. Dan  usaha seperti ini diteruskan  Abu Ja’far Muhammad bin Ya’qub  Al-khulany (w.329 H/940 M) Al-Kulainy juga mengumpulkan hadits itu dalam karyanya “al-kafi”(kitab yang sempurna) sedangkan As-saduk mengumpulkannya di dalam Karyanya “man layahduru al-faqih
“ ( orang yang tidak disesatkan oleh ahli fiqhi), buku-buku tersebut sangat bernilai sekali dibidang hadits.

Begitu juga dibidang Akidah, Fiqih, Doa dan akhlak,                                mereka menggunakan  buku-buku lain yang di dalamnya terdapat aneka  macam riwayat dari imam-imam Ahlul Bait. Seperti  kitab Nahj Al-Balgha yang dicatat oleh  Sayyid Murtadha dari kumpulan-kumpulan khutbah Imam Ali bin Abi Thalib, surat-suratnya,hikmah-hikmah pendeknya, Risalah  Al-Huquq,  Shahifah Sajjadiyah karya Imam Ali Zainal Abidin. At-Tauhid, Al-khisya, ‘ilalu As-Syarai dan Ma’ani Al-Akhbar karyanya Syekh As-Shaduq.

Mazhab ja’fari memasuki fase baru ketika Muhammad bin Muhammad  Bin Nu’man (336-413 H) yang populer dengan Syek Mufid, menerapkan argumen rasional dalam menulis Karyanya “al-Muqni’ah fi al- usul wa al furu (yang memuaskan dalam ushul Fiqhi dan fiqhi ). Sebenarnya, sebelum  Syekh Mufid,  kaum syi’ah sudah mengenal sudah pemikiran  usuli yang diterapkan oleh  Ahmad al-Junaid al-Iskafi (w. 381 H) dan Muhammad bin Aqil, namun secara praktis belum menjadi basis doktrinal Mazhab Ja’fari. Dengan munculnya  pemikiran  usuli yang diterapkan  Syek Mufid ini, terpecahlah aliran  dalam Mazhab Ja’fari, yakni aliran  Akhbari( aliran para ahli hadits yang tidak mau menggunakan akal rasio) dan aliran usuli ( aliran yang berupaya  menggali  hukum dengan rasio).

Usaha Syekh Mufid dilanjutka oleh muridnya yaitu Sayyid al Murtaza yang                      menulis buku “ Az- ila asul  asy-Syi’ah.(mediator menuju Fiqhi  Syiah). Dalam karya tersebut memisahkan antara  kajian fiqhi dari  ushul fiqhi namun didalam usul fiqhinya terlihat unsur –unsur kalam. Dengan munculnya kitab  “az-Zariah Ini”.

Kelompok Mazhab ini  telah banyak mengalami perkembangan di berbagai    negara.  Seperti  di Irak,  Iran, Palestina, Afganistan , India dan tersebar  secara  luas ke negara-negara  Eropa,  seperti Inggiris, jerman, Prancis, Amerika, Dan Benua  Afrika serta timur. Mereka memiliki masjid-masjid, islamic Center,  Pusat –pusat  kegiatan keagamaan dan  sosial.

Kaum Ja’fariyah  terdiri dari bangsa, suku, bahasa,  dan  warna yang berbeda- beda. Mereka hidup  secara berdampngan dengan  saudara-saudara muslim yang lain terdiri dari golongan dan Mazhab yang berbeda dengan penuh kedamaian dan kasih sayang. Ini  semua berpijak pada  ayat Al-Qur’an: sesungguhnya  orang-orang mukmin adalah saudara.(Al-Hujurat: 10)

4. Pengaruhnya Terhadap Peradaban Islam

Pada masa lahirnya mazhab Ja’fariyah memiliki ciri-ciri sebagai masa terjadinya pertumbuhan dan interaksi pemikiran dan peradaban  antara kebudayaan  dan pemikiran  islam di satu pihak dengan kebudayaan  dan ilmu yang dimiliki oleh bangsa-bangsa lain, serta  perkembangan dibidang, politik,ekonomi. Sepanjang sejarah islam, Mazhab Ja’fari memiliki sikap  disegani  dan posisi  yang cemerlang  dalam membela islam  dan kaum  muslimin  mereka juga telah, mereka telah mampu  mendirikan  pemerintahan negara-negara yang berkhidmat  pada pradaban islam, begitu juga  mereka memiliki ulama-ulama serta ahli-ahli yang telah menyumbangkan  tenaga  dan seluruh pikiran  mereka untuk memperkaya warisan-warisan islam; maka tumbuh dan berkembanglah  masyarakat islam  gerakan keilmuan  da serta penelitian ilmiah dan penulisan ratusan ribu  karangan, buku-buku kecil dan besar antara lain  seperti  di pesantren  dibidang :

a)      Bidang Ilmu-ilmu keislaman

ü  Tafsir Al-Qur’an dan Hadits,

ü   Akidah  dan akhlak,

ü  Fiqih dan ushul fiqhi

ü   Ilmu dirayah rijal, dan kajian filsafat.

b)     Sistem  pemerintahan dan kemasyarakatan.

c)      Ilmu pengetahuan umum dan Sains.

ü  Bidang bahasa dan sastra.

ü  Bidang kedokteran.

ü   Fisika, kimia, matematika, astronomi,  dan ilmu biologi. Dan  cabang-cabang ilmu lainnya. Dalam berbagai disiplin ilmu mereka memainkan  peran sebagai perintis dan pencetus berbagai bidang keilmuan. Selain  itu pada masa ini terjadi pula perkembangan  kegiatan penerjemahan, dan banyak ilmi pengetahuan, makhrifat dan filsafat, logika, prinsip-prinsip berpikir dan keyakinan-keyakinan  dari bahasa Yunani, Persia  diterjemahkan ke dalam bahasa Arab.  Maka kaum Muslimin   pun mengenal  cara-cara yang baru dalam pemikiran,  keyakinan, dan Filsafat.

d)  Di bidang perekonomian

Perekonomian  hauzah-hauzah (pesantren) ilmiah daan pusat pendidikan  agama dalam rangka  menghasilkan  para fuqaha ditanggung dan ditutupi  dari zakat dan khumus, dari keuntungan usaha  dan ini ada dalil-dalilnya jelas yang termuat dalam sejumlah kitab Shahih dan Sunan yang ditunaikan  oleh  para Fuqaha, sebagai kewajiban dari sekian  kewajiban  syariat lainnya, seperti shalat dan puasa.