Ringkasan Materi Kuliah Sejarah Peradaban Islam

 

Kelahiran Peradaban Islam

  1. Masyarakat Arab Jahiliyah

—  Objek dakwah Rasulullah SAW pada awal kenabian adalah masyarakat Arab Jahiliyah, atau masyarakat yang masih berada dalam kebodohan. Dalam bidang agama, umumnya masyarakat Arab waktu itu sudah menyimpang jauh dari ajaran agama tauhid, yang telah diajarkan oleh para rasul terdahulu, seperti Nabi Adam A.S. Mereka umumnya beragama watsani atau agama penyembah berhala. Berhala-berhala yang mereka puja itu mereka letakkan di Ka’bah (Baitullah = rumah Allah SWT). Di antara berhala-berhala yang termahsyur bernama: Ma’abi, Hubai, Khuza’ah, Lata, Uzza dan Manar.Read More

2. Pengangkatan Nabi Muhammad SAW sebagai Rasul
Pengangkatan Muhammad sebagai nabi atau rasul Allah SWT, terjadi pada tanggal 17 Ramadan, 13 tahun sebelum hijrah (610 M) tatkala beliau sedang bertahannus di Gua Hira, waktu itu beliau genap berusia 40 tahun. Gua Hira terletak di Jabal Nur, beberapa kilo meter sebelah utara kota Mekah.

Versi lain menyatakan bahwa peristiwa bi’tsah itu terjadi tanggal 27 Rajab.
Muhamad diangkat Allah SWT, sebagai nabi atau rasul-Nya ditandai dengan turunnya Malaikat Jibril untuk menyampaikan wahyu yang pertama kali yakni Al-Qur’an Surah Al-‘Alaq, 96: 1-5.

—  Iqra’ atau perintah membaca, adalah kata pertama dari wahyu pertama yang diterima oleh Nabi Muhammad Saww. Kata ini sedemikian pentingnya sehingga diulang dua kali dalam rangkaian wahyu pertama.

—  Ketiadaan objek dalam redaksi wahyu menandakan bahwa objeknya bersifat umum. Objek membaca mencakup segala yang dapat terjangkau, baik bacaan suci yang bersumber dari Tuhan maupun yang bukan. Menyangkut ayat2 tertulis maupun yang tidak, sehingga mencakup telaah terhadap alam-raya, masyarakat, diri sendiri, ayat Alquran, majalah, koran, dsb.

—  Kata Iqra juga menunjukkan bahwa peradaban Islam adalah peradaban literer, yang sangat mengagungkan baca-tulis. Dalam konteks Islam, orang yang paling beradab adalah yang paling tinggi ilmunya.

Setelah itu, pada periode Mekah) selama 13 tahun (610-622 M), secara berangsur-angsur diturunkan kepada beliau wahyu Al-Qur’an sebanyak 4.726 ayat, yang meliputi 89 surah. Surah-surah yang diturunkan pada periode Mekah dinamakan Surah Makkiyyah.

Ajaran Islam Periode Mekah
Ajaran Islam periode Mekah, yang harus didakwahkan Rasulullah SAW di awal kenabiannya adalah sebagai berikut:

a. Tauhid

b. Hari Kiamat sebagai hari pembalasan
c. Kesucian jiwa
d. Seruan untuk melawan kezaliman karena syirik dan kezaliman adalah dua hal yang berkorelasi secara kuat.

Kutipan artikel tentang korelasi antara kezaliman dan syirik

Kuil Amun sudah berkuasa di Mesir selama tiga ribu tahun. Mereka sangat kaya raya. Di dalam kuil, ada ruangan khusus tempat penyimpanan berpeti-peti uang emas. Mereka punya berhektar-hektar ladang gandum, kebun papyrus, pertambangan batu, peternakan, industri gerabah, dan lain-lain. Dengan kekayaan berlimpah itu, mereka mampu membentuk satuan-satuan tentara Kuil. Para pendetanya memiliki rumah yang bagus dan istri-istri simpanan yang cantik. Dari manakah kekayaan tersebut mereka peroleh?

Modal awalnya hanyalah dari persembahan-persembahan yang diberikan oleh rakyat Mesir yang sebagian besarnya memang menganut ajaran Amun. Dari persembahan-persembahan yang tak pernah berhenti mereka terima itu, merekapun melakukan berbagai macam usaha di bidang peratanian, perkebunan, peternakan, dan industri tersebut. Hebatnya, ketika usaha mereka menghasilkan keuntungan, modal yang mereka peroleh dari persembahan juga tidak pernah berhenti. Maka, Kuil pun menjadi kekuatan ekonomi yang hampir-hampir menyamai kekuatan raja.

Jadi, selain memang ada sistem yang berhasil dibangun, keberhasilan Kuil Amun tersebut betul-betul mengandalkan kepada pemasukan dari persembahan-persembahan. Di sinilah terjadi rekayasa kepercayaan yang dilakukan oleh para pendeta kuil.

Di Kuil Pusat, ada patung Amun yang terbuat dari emas. Setiap pagi, patung itu dimandikan di sungai Nil, didandani, diberi wewangian, serta bersemayam di muka umum. Warga yang datang pada ritual peribadatan di pagi hari, akan mendengar “suara” Amun yang menggelegar dan mistis.

Suara tersebut memberikan perintah harian kepada para pengikut. Perintah harian tersebut diawali dan diakhiri dengan perintah agar para pengikut setia Amun untuk selalu memberikan persembahan kepada Kuil, supaya Amun terus-menerus menurunkan berkahnya kepada warga. Belakangan terungkap bahwa suara Amun tersebut sebenarnya adalah suara Pendeta Kepala bernama Anikhmahu. Ia bicara di sebuah ruangan menara yang didesain sedemikian rupa hingga suara Anikhmahu berubah menjadi keras dan mistis.

Di sinilah letak rekayasa kepercayaannya. Patung Amun, benda mati yang sebenarnya tak mampu melakukan apapun, dikesankan sedemikian rupa agar terlihat sakti, perkasa, memiliki kemampuan mengontrol kehidupan, serta terus-menerus memberikan bimbingan harian. Keajaiban yang ditunjukkan patung Amun itu membuat pengikutnya tunduk secara sepenuhnya terhadap apapun yang ‘dikatakan’ Amun. Padahal, yang memberikan bimbingan dan perintah itu adalah para pendeta. Amun menjadi ‘tuhan-boneka’ yang digerakkan oleh para pendeta.

Ribuan tahun lamanya para pendeta berkuasa, memberikan perintah, serta menerima persembahan. Semuanya dilakukan atas nama Amun dan dewa-dewa lainnya. Otoritas tersebut terkadang digunakan untuk kebaikan, jika tidak bertentangan dengan kepentingan Kuil. Akan tetapi, jika sedikit saja bertentangan dengan kepentingan Kuil dan para pendetanya, otoritas tersebut berubah menjadi instrumen kezaliman. Inilah yang menyebabkan rezim Kuil semakin kaya dan tamak. Kekayaan tersebut diperas dari darah dan keringat rakyat kecil yang kian hari kian susah. Maka, terciptalah disparitas kesejahteraan yang menganga lebar.

Demikianlah kurang lebih potret rezim-rezim syirik sepanjang sejarah yang diperangi oleh para nabi. Ternyata, bendera perang dikibarkan oleh para nabi bukanlah hanya karena rezim-rezim tersebut mengembangkan ajaran kemusyrikan. Lebih dari segalanya, kemusyrikan diperangi karena berkorelasi kuat dengan kesewenang-wenangan dan kezaliman.

Proses Dakwah Rasulullah di Makkah

1. Dakwah secara Sembunyi-sembunyi Selama 3-4 Tahun
Pada masa dakwah secara sembunyi-sembunyi ini, Rasulullah SAW menyeru untuk masuk Islam, orang-orang yang berada di lingkungan rumah tangganya sendiri (Sayyidah Khadijah, Imam Ali) dan kerabat serta sahabat dekatnya (Abu Bakar).

2. Dakwah secara terang-terangan
Dakwah secara terang-terangan ini dimulai sejak tahun ke-4 dari kenabian, yakni setelah turunnya wahyu yang berisi perintah Allah SWT agar dakwah itu dilaksanakan secara terang-terangan. Wahyu tersebut berupa ayat Al-Qur’an Surah Asy-Syuara: 214-216.

—  وَأَنذِرْ عَشِيرَتَكَ الْأَقْرَبِينَ

—  وَاخْفِضْ جَنَاحَكَ لِمَنِ اتَّبَعَكَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ

—  فَإِنْ عَصَوْكَ فَقُلْ إِنِّي بَرِيءٌ مِّمَّا تَعْمَلُونَ

Tahap-tahap dakwah Rasulullah SAW secara terang-terangan ini antara lain sebaga berikut:

—  Mengundang kaum kerabat keturunan dari Bani Hasyim, untuk menghadiri jamuan makan dan mengajak agar masuk Islam.

—  Rasulullah SAW mengumpulkan para penduduk kota Mekah, terutama yang berada dan bertempat tinggal di sekitar Ka’bah untuk berkumpul di Bukit Shafa.

Reaksi Kaum Kafir Quraisy terhadap Dakwah Rasulullah SAW

—  Kaum kafir Quraisy, terutama para bangsawannya sangat keberatan dengan ajaran persamaan hak dan kedudukan antara semua orang. Mereka mempertahankan tradisi hidup berkasta-kasta dalam masyarakat. Mereka juga ingin mempertahankan perbudakan, sedangkan ajaran Rasulullah SAW (Islam) melarangnya.

—  Kaum kafir Quraisy menolak dengan keras ajaran Islam yang adanya kehidupan sesudah mati yakni hidup di alam kubur dan alam akhirat, karena mereka merasa ngeri dengan siksa kubur dan azab neraka.

—  Kaum kafir Quraisy merasa berat meninggalkan agama dan tradisi hidup bermasyarakat warisan leluhur mereka.

—  Dan, kaum kafir Quraisy menentang keras dan berusaha menghentikan dakwah Rasulullah SAW karena Islam melarang menyembah berhala.

Hijrah ke Madinah

Faktor yang mendorong hijrahnya Nabi SAW

1.  Ada tanda-tanda baik pada perkembangan Islam di Yatsrib, karena:

—    pada tahun 621 M telah datang 13 orang penduduk Yatsrib menemui Nabi Muhammad SAW di bukit Akabah.

—    pada tahun berikutnya, 622 M datang lagi sebanyak 73 orang Yatsrib ke Mekkah yang terdiri dari suku Aus dan Khazraj. Saat itu mereka tampaknya datang untuk melakukan haji, tetapi sesungguhnya kedatangan mereka adalah untuk menjumpai Rasulullah SAW dan mengundang mereka agar pindah ke Yatsrib. Mereka berjanji akan membela dan mempertahankan serta melindungi Rasulullah besert para pengikut dan keluarganya seperti melindungi keluarga mereka sendiri. Perjanjian ini disebut Perjanjian Aqabah II. Akhirnya, Rasululah SAW menyuruhlah sahabat-sahabat Nabi pindah bersama.

2. Rencana pembunuhan Nabi saw oleh kaum Quraisy yang hasil kesepakatannya diputuskan oleh pemuka-pemuka Quraisy di Darun Nadwah. Mereka menyatakan bahwa :

—  Mereka sangat khawatir jika Muhammad dan pengikutnya telah berkuasa di Yatsrib, psti Muhammad akan menyerang kafilah-kafilah dagang Quraisy yang pulang pergi ke Syam. Hal itu akan mengakibatkan kerugian bagi perniagaan mereka.

—  Membunuh Nabi saw sebelum beliau ikut pindah ke Yatsrib. Dengan cara setiap suku Quraisy mengirimkan seorang pemuda tangguh sehingga apabila Rasulullah SAWW terbunuh, keluarganya tidak akan mampu membela diri di hadapan seluruh suku Quraisy, kemudian mengepung rumah Nabi SAWW dan akan membunuhnya di saat fajar, yakni ketika Rasulullah SAWW akan melaksanakan sholat Subuh. Rencana-rencana tersebut diketaui oleh Nabi SAWW dan para pemuda Qurasy terkecoh. Karena yang tidur adalah Imam Ali as.

Periode Madinah

Empat Pilar Penting Pembangunan Peradaban:

  1. Legislasi konstitusi (Piagam Madinah)
  2. Aplikasi konstitusi (pembangunan masyarakat).
  3. Pertahanan (berbagai peperangan)
  4. Kaderisasi (penunjukan pemegang tongkat estafet kepemimpinan)

 

Pokok-pokok pikiran yang terkandung di dalam Piagam Madinah yaitu :

—  Masyarakat pendukung piagam ini adalah masyarakat majemuk, baik ditinjau dari asal  keturunan, budaya, maupun agama yang dianutnya. Tapi, semuanya dipersatukan dengan cita-cita bersama. (bhinneka tunggal Ika)

—  Masyarakat yang sangat majemuk itu dapat dikelompokkan kedalam dua kategori: muslim dan non-muslim. Bagi kaum Muslimin mereka diikat oleh ikatan lain, yaitu ukhuwah Islamiyah. (kebebasan beragama)

—  Negara mengakui dan melindungi kebebasan menjalankan ibadah bagi orang-orang yang bukan muslim , termasuk kaum Yahudi. (toleransi)

—  Semua warga Negara mempunyai kedudukan sosial yang sama sebagai anggota masyarakat. Semuanya wajib saling membantu, dan tidak boleh seorang pun diperlakukan secara buruk. Kaum lemah bahkan harus dilindungi dan dibantu.

—  Semua warga Negara mempunyai hak dan kewajiban yang sama terhadap Negara. (keadilan sosial).

—  Semua warga negara mempunyai kedudukan yang sama dihadapan hukum. Siapapun tidak boleh melindungi kejahatan, apalagi berpihak kepada orang-orang yang melakukan kejahatan. Demi tegaknya keadilan dan kebenaran siapapun perilaku kejahatan tanpa pandang bulu harus dihukum.

—  Segala macam tradisi lama yang tidak melanggar keadilan dan kebenaran tetap diberlakukan.

—  Perdamaian adalah tujuan penting. Namun, keadilan dan kebenaran tetap harus diprioritaskan. Artinya, keadilan dan kebenaran tidak boleh dikorbankan demi perdamaian.

—  Hak milik individu semua orang harus dihormati.

Aplikasi

Dengan cara menerapkan berbagai ketentuan yang termaktub dalam Al Quran dan piagam Madinah

 

 

Peperangan pada Zaman Rasulullah

  1.  Seluruh perang yang dilakukan di zaman Rasulullah dilakukan dalam rangka mempertahankan diri, atau setelah ada bukti yang sangat kuat yang menunjukkan bahwa musuh telah mengingkari perjanjian atau bersiap untuk melakukan penyerangan.
  2.  Imam Ali selalu menjadi pahlawan penentu dalam setiap perang mayor yang diikutinya. Tapi, ini berakibat kepada munculnya benih kedengkian di pihak musuh yang kemudian secara terpaksa masuk agama Islam

Kaderisasi Imamah atas Ummat
(Peristiwa Al Ghadir)

—  Tak ada satupun peradaban yang terbangun tanpa adanya proses kaderisasi. Ini karena pembangunan peradaban tidak mungkin dilaksanakan dalam satu periode generasi.

—  Rasulullah juga menunjuk penggantinya, yaitu Imam Ali, dalam peristiwa Al Ghadir.

 

Pasca Wafatnya Rasul

Terjadi peristiwa Saqifah Bani Saidah. Dalam peristiwa itu, sebagian dari orang-orang yang berkumpul membaiat Abu Bakar sebagai khalifah.

 

Masa Khulafaur Rasyidin (Empat Khalifah)

Abu Bakar

Abu Bakar menjadi khalifah selama dua tahun. Pada masa yang singkat itu, Abu Bakar disibukkan dengan upaya menyelesaikan persoalan dalam negeri terutama tantangan yang disebabkan oleh suku-suku bangsa Arab yang enggan mengakui pemerintahannya. Abu Bakar menyelesaikan persoalan ini dengan apa yang disebut Perang Riddah (perang melawan kemurtadan). Khalid ibn Al-Walid adalah orang yang paling sering diberi tugas memimpin sejumlah Perang Riddah.

Setelah menyelesaikan urusan perang dalam negeri, barulah Abu Bakar mengirim kekuatan ke luar Jazirah Arab. Khalid ibn Walid dikirim ke Iraq dan dapat menguasai wilayah al-Hirah di tahun 634 M. Ke Syria dikirim ekspedisi di bawah pimpinan empat panglima yaitu Abu Ubaidah Bin Jarrah, Amr bin ‘Ash, Yazid bin Abi Sufyan, dan Syurahbil. Sebelumnya, pasukan ini dipimpin oleh Usamah ibn Zaid yang masih berusia 18 tahun. Untuk memperkuat tentara ini, Khalid ibn Walid diperintahkan meninggalkan Irak  menuju Syria.

Abu Bakar meninggal saat berusia 61 tahun pada tahun 634 M akibat sakit yang dialaminya.

 

Umar bin Khattab (586-590 – 644 M, menjadi khalifah 634 – 644 M)

Umar adalah khalifah ke-2 dalam sejarah Islam. Pengangkatan Umar bukan berdasarkan konsensus, melainkan surat wasiat yang ditinggalkan oleh Abu Bakar. Umar memerintah selama sepuluh tahun dari tahun 634 hingga 644.

Di zaman Umar, terjadilah gelombang ekspansi (perluasan daerah kekuasaan). Damaskus, ibu kota Syria, jatuh tahun 635 M. Setahun kemudian, setelah tentara Bizantium kalah di pertempuran Yarmuk, seluruh daerah Syria jatuh ke bawah kekuasaan Islam. Dengan memakai Syria sebagai basis, ekspansi diteruskan ke Mesir di bawah pimpinan ‘Amr ibn ‘Ash dan ke Irak di bawah pimpinan Sa’ad ibn Abi Waqqash. Iskandariah, ibu kota Mesir waktu itu, ditaklukkan tahun 641 M. Dengan demikian, Mesir jatuh ke bawah kekuasaan Islam. Al-Qadisiyah, sebuah kota dekat Hirah di Iraq, jatuh pada tahun 637 M. Dari sana, serangan dilanjutkan ke ibu kota Persia, al-Madain yang jatuh pada tahun itu juga. Pada tahun 641 M, Moshul dapat dikuasai. Dengan demikian, pada masa kepemimpinan Umar, wilayah kekuasaan Islam sudah meliputi Jazirah Arabia, Palestina, Syria, sebagian besar wilayah Persia, dan Mesir.

Luasnya daerah kekuasaan yang berlangsung dengan sangat cepat, membuat Umar segera mengatur administrasi negara dengan mencontoh administrasi yang sudah berkembang terutama di Persia. Administrasi pemerintahan diatur menjadi delapan wilayah propinsi: Makkah, Madinah, Syria, Jazirah Basrah, Kufah, Palestina, dan Mesir. Beberapa departemen yang dipandang perlu didirikan. Pada masanya, mulai diatur dan ditertibkan sistem pembayaran gaji dan pajak tanah. Pengadilan didirikan dalam rangka memisahkan lembaga yudikatif dengan lembaga eksekutif. Untuk menjaga keamanan dan ketertiban, jawatan kepolisian dibentuk. Demikian pula jawatan pekerjaan umum. Umar juga mendirikan Bait al-Mal, menempa mata uang, dan membuat tahun hijiah.

Masa jabatannya berakhir dengan kematian. Dia mendapat luka parah setelah terkena sabetan pedang Abu Lu’lu’. Dalam keadaan sakit dan sadar bahwa kematiannya sudah dekat, Umar mencoba menentukan penggantinya. Akan tetapi, ia tidak menempuh cara sebagaimana yang dilakukan Abu Bakar. Dia menunjuk enam orang dan meminta kepada mereka untuk memilih salah seorang di antaranya menjadi khalifah, dengan aturan pemilihan yang ditetapkan ole Umar sendiri. Enam orang tersebut adalah Usman, Ali, Thalhah, Zubair, Sa’ad ibn Abi Waqqash, Abdurrahman ibn ‘Auf. Melalui proses pemilihan tersebut, terpilihlah Ustman sebagai khalifah ketiga.

Utsman bin Affan (573-655 M; menjadi khalifah 644-655 M).

Di masa pemerintahan Utsman, Armenia, Tunisia, Cyprus, Rhodes, dan bagian yang tersisa dari Persia, Transoxania, dan Tabaristan berhasil direbut. Ekspansi Islam pertama berhenti sampai di sini. Pada masa Utsman ini pulalah dilakukan kodifikasi Al Quran.

Pemerintahan Utsman berlangsung selama 12 tahun. Pada paruh terakhir masa kekhalifahannya muncul perasaan tidak puas dan kecewa di kalangan umat Islam terhadapnya. Kebijaksanaannya yang sangat nepotis menimbulkan luka di hati rakyat. Di antara kebijakannya adalah mengangkat Marwan ibn Hakam sebagai pelaksana utama atau yang menjalankan pemerintahan. Utsman dalam hal ini hanya menyandang gelar Khalifah. Setelah banyak anggota keluarganya yang duduk dalam jabatan-jabatan penting, Usman laksana boneka di hadapan kerabatnya itu. Dia tidak dapat berbuat banyak dan terlalu lemah terhadap keluarganya. Dia juga tidak tegas terhadap kesalahan bawahan. Harta kekayaan negara, oleh kerabatnya dibagi-bagikan, tanpa terkontrol oleh Utsman sendiri.

Puncak dari kemarahan kaum Muslimin saat itu diekspreskan dalam bentuk pengepungan yang dilakukan terhadap rumah Utsman. Ali memerintahkan ketiga puteranya, Hasan, Husain dan Muhammad bin Ali al-Hanafiyah mengawal Utsman dan mencegah para pemberontak memasuki rumah. Namun kekuatan yang sangat besar dari pemberontak akhirnya berhasil menerobos masuk dan membunuh Utsman.

Ali bin Abi Thalib

Setelah Utsman wafat, masyarakat beramai-ramai membaiat Ali ibn Abi Thalib sebagai khalifah. Ali memerintah hanya enam tahun. Selama masa pemerintahannya, ia menghadapi berbagai pergolakan. Tidak ada masa sedikit pun dalam pemerintahannya yang dapat dikatakan stabil. Setelah menduduki jabatan khalifah, Ali menon-aktifkan para gubernur yang diangkat oleh Utsman. Dia yakin bahwa pemberontakan-pemberontakan terjadi karena keteledoran mereka. Dia juga menarik kembali tanah yang dihadiahkan Utsman kepada beberapa orang kerabatnya dengan menyerahkan hasil pendapatannya kepada negara, dan memakai kembali sistem distribusi pajak tahunan di antara orang-orang Islam sebagaimana pernah diterapkan Umar.

Tidak lama setelah itu, Ali ibn Abi Thalib menghadapi pemberontakan Thalhah, Zubair dan Aisyah. Alasan mereka, Ali tidak mau menghukum para pembunuh Utsman, dan mereka menuntut bela terhadap darah Utsman yang telah ditumpahkan secara zhalim.

Ali sebenarnya ingin sekali menghindari perang. Dia mengirim surat kepada Thalhah dan Zubair agar keduanya mau berunding untuk menyelesaikan perkara itu secara damai. Namun ajakan tersebut ditolak. Akhirnya, pertempuran yang dahsyat pun berkobar. Perang ini dikenal dengan nama Perang Jamal (Unta), karena Aisyah dalam pertempuran itu menunggang unta. Zubair dan Thalhah terbunuh, sedangkan Aisyah ditawan dan dikirim kembali ke Madinah.

Setelah kondisi perlahan-lahan tenang, Ali. dan pasukannya bergerak menuju Kufah untuk dijadikan sebagai ibukota negara. Sebelum itu, ia mengirim utusan ke sana untuk menjelaskan duduk persoalan yang sebenarnya telah terjadi.

Alasan Ali memilih Kufah sebagai ibukota baru negara Islam dapat diurai sebagai berikut:

1. Perluasan wilayah negeri Islam yang harus diimbangi dengan sebuah ibukota yang terpusat secara administratif dan politis. Untuk itu, ibukota harus berada di wilayah yang strategis sehingga dapat bergerak cepat mencapai semua titik di negeri Islam.

2. Sebelum ditaklukkan oleh pasukan Umar, Kufah adalah salah satu kota ilmu dan peradaban, karena Kufah cukup dekat dengan kota-kota di kawasan Persia. Dengan memindahkan pusat pemerintahan ke Kufah, Ali berharap sistem pemerintahannya menjadi lebih rapi, sistematis, dan modern.

3. Pertimbangan utama lainnya adalah orang-orang yang turut membantu Ali bin Abi Thalib  dalam menumpas pasukan Jamal. Mereka adalah tokoh-tokoh dan warga Irak. Dan bantuan perang yang paling banyak adalah dari Kufah.

4. Perang Jamal telah membuat Madinah menjadi kawasan yang “panas” dan selalu siap bergolak. Tentu saja sulit menjalankan roda pemerintahan di sebuah tempat yang penuh ketegangan.

 

Akhir Masa Khulafaur Rasyidin

Dari Syam, Mu’awiyah, yang didukung oleh sejumlah bekas pejabat tinggi yang merasa kehilangan kedudukan dan kejayaan, mengobarkan perlawanan. Maka, pecahlah Perang Shiffin. Setelah itu pecah pula Perang Nahrawan. Pada tanggal 19 ramadhan 40 H (660 M), Ali terbunuh oleh salah seorang khawarij yaitu Abdurrahman bin Muljam.

Kedudukan sebagai khalifah kemudian dijabat oleh putra Ali yaitu Hasan selama beberapa bulan. Namun, karena tekanan-tekanan politis, Imam Hasan menyerahkan jabaran kekhalifahan kepada Muawiyah bin Abu Sufyan.

Isi  Perjanjian Damai

Ini adalah pernyataan damai dari Hasan bin ‘Alî kepada Mu’âwiyah bin Abî Sufyân:

—  Hasan menyerahkan kepada Mu’âwiyah wilayah Muslimîn, dan Mu’âwiyah akan menjalankan Kitâb Allâh SWT dan Sunnah Rasûl Allâh saw. dan tata cara Khulafâ’ ur-Râsyidîn yang tertuntun,

—  Mu’âwiyah bin Abî Sufyân tidak boleh mengangkat seseorang jadi khalîfah sesudahnya, tetapi akan diadakan lembaga syura di antara kaum Muslimîn.

—  Masyarakat akan berada dalam keadaan aman di daerah Allâh SWT di Syam, Iraq, Hijaz dan Yaman.

—  Sahabat-sahabat ‘Alî dan Syî’ah-nya terpelihara dalam keadaan aman, bagi diri, harta, para wanita dan anak-anak mereka.

—  Mu’âwiyah tidak akan mengganggu atau menganiaya secara tersembunyi atau terbuka terhadap Hasan bin ‘Alî atau saudaranya Husain bin ‘Alî atau salah seorang ahlu’l-bait Rasûl Allâh saw. dan tidak akan mengganggu mereka di manapun mereka berada.

—  Mu’âwiyah akan menghentikan pelaknatan terhadap ‘Alî.”

Asyura dalam Perspektif Peradaban Islam

Peristiwa Asyura terjadi pada tanggal 10 Muharram tahun 61 Hijriah. Saat itu, Imam Husein  beserta sejumlah sahabat dan kerabatnya gugur syahid di Padang Karbala.  Sebelum gugur syahid, rombongan tersebut disiksa dengan cara tidak diberi air minum selama 3 hari. Setelah dibunuh, kepala Imam Husein dan rombongannya yang juga terbunuh dipenggal dan ditancapkan di atas tombak Kepala-kepala  yang tertancap di atas tombak itu, beserta dengan rombongan sisa yang masih hidup, digiring dari Karbala menuju Kufah, lalu ke Syam.

Situasi yang Melatarbelakangi Kebangkitan Asyura

Muawiyah melanggar seluruh butir perjanjian damai, terutama point yang terkait dengan penyerahan khilafah kepada ummat pasca meninggalnya Muawiyah. Muawiyah malah menunjuk anaknya, Yazid, sebagai khalifah pengganti. Muawiyah bahkan  membunuh Imam Hasan, melalui istri Imam Hasan sendiri, yaitu Ja’dah bin As’ats Al Kindi.

Akan tetapi, secara lahiriah, selama 20 tahun masa pemerintahannya, Muawiyah masih mempraktekkan ajaran-ajaran Islam. Ia menjadi imam shalat di masjid,  mengelola zakat,  membaca Alquran, memfasilitasi ibadah haji, berkonsultasi dengan para sahabat dalam urusan pemerintahan, mengutip ayat dan hadits ketika berbicara tentang urusan ummat, dll. Hal-hal tadi membuat Islam masih terjaga, meskipun hanya sebatas lahiriah,  itupun dengan motivasi pencitraan semata.

Ketika Yazid naik takhta, situasinya betul-betul berubah.  Kehidupan sehari-hari Yazid sama sekali tidak mencerminkan perilaku seorang mukmin. Sebagian besar waktunya dalam keadaan mabuk. Ia sering secara terang-terangan meninggalkan shalat. Ia juga gemar berpesta,  serta bermain-main dengan monyet dan anjing.

Lebih jauh lagi, ketika ia takhta, langkah politik yang dilakukan Yazid adalah memerintahkan Imam Husein agar berbaiat kepadanya. Jika enggan berbaiat, Yazid akan membunuhnya.

Islam berada dalam bahaya besar. Negeri Muslim yang terbentang dari Persia hingga Mesir ternyata dipimpin (dipersonifikasikan) oleh seorang Yazid dengan segala kepribadiannya seperti itu. Islam terancam hanya tinggal nama. Esensinya sudah lama terkoyak. Kini, wujudnya pun terancam punah, lalu berganti dengan wujud jahiliah dengan nama Islam.

Imam Husein yakin, dalam kondisi seperti itu,  hanya ada satu pilihan, yaitu bangkit melawan. Resiko terbunuh harus ditempuh. Karena dengan demikian, kedok Yazid dan Bani Umayyah secara keseluruhan, akan terungkap.

 

Nilai-Nilai Asyura

1. Menjaga Islam dari kepunahan secara esensial dan eksistensial.

2. Memberi contoh kepada generasi ummat Islam berikutnya, bagaimana cara berjuang menegakkan ajaran agama Islam.

3. Mengajarkan sejumlah nilai perjuangan seperti kesabaran, keteguhan, pengorbanan, solidaritas, dlsb.

4. Menjadi penebus bagi dosa-dosa ummat manusia.

Peradaban Islam Nusantara

Definisi: Nusantara merupakan istilah yang dipakai untuk menggambarkan wilayah kepulauan yang membentang dari Sumatera sampai Papua.

Teori masuknya Islam ke Nusantara

  1. Teori Gujarat: agama Islam baru masuk ke Nusantara pada abad ke-13 Masehi yang dibawa oleh para pedagang dari Kambay (Gujarat), India.
  2. Teori Persia: agama Islam dibawa oleh para pedagang dari Persia (sekarang Iran) sekitar abad 13
  3. Teori Mekkah (Arab): Islam masuk ke Indonesia langsung dari Arab sebagai pusat agama Islam sejak abad ke-7.

Proses Islamisasi (Penerimaan dan Perkembangan Agama Islam) di Nusantara

1. Melalui perdagangan
2. Melalui pernikahan
3. Melalui Tasawuf
4. Melalui pendidikan
5. Melalui kesenian
6. Melalui politik

Kerajaan-Kerajaan Islam Nusantara

1. Perlak

Kesultanan ini terletak di wilayah Perlak, Aceh Timur, Negeri Aceh. Masa pemerintahan Islam Perlak berlangsung selama 467 tahun dari tahun 225-692 H (839-1293) dengan 13 orang sultan.

2. Kerajaan Samudra Pasai
Kerajaan Samudra Pasai terletak di sebelah utara Perlak di daerah Lhokseumawe (sekarang pantai timur Aceh). Kerajaan Samudra Pasai berdiri pada abad ke- 13 M (1260). Samudera Pasai hancur setelah ditaklukkan Portugis tahun 1521. Sisa-sisa kerajaan bergabung ke Kerajaan Aceh.

3. Kerajaan Aceh
Pendiri kerajaan ini ialah Ali Mughayat Syah (1513-1528 M). Kerajaan Aceh mencapai kejayaannya dibawah Pemerintahan Sultan Iskandar Muda (1607-1636 M). Pada masa kekuasaanya, wilayah Aceh semakin luas yaitu dari pesisir barat samudra sampai Bengkulu, pesisir timur Sumatera sampai Siale, Johar, Pahang dan Pattani.

4. Kerajaan Demak
Kerajaan Demak merupakan Kerajaan Islam pertama di Jawa. Pendirinya ialah Raden Fatah (1478 – 1518 M). Kerajaan ini memiliki wilayah yang luas dan membentang di pesisir utara Jawa, bekas Kerajaan Majapahit.

5. Kerajaaan  Mataram Islam
Pendiri Kerajaan Mataram ialah Kyai Ageng Pamanahan.
Pada tahun 1628 M dan 1629 M Mataram menyerang Batavia, namun tidak berhasil karena kurangnya persiapan logistik. Sultan Agung adalah seorang organisator, ahli politik, ahli filsafat dan ahli sastra. Berikut ini adalah hasil karya Sultan Agung, yaitu :
a.    Tahun 1833 M, Sultan Agung menciptakan Tarikh Jawa Islam yang dimulai 1 Muharam 1043 H.
b.      Mengarang buku ”sastra gending” yang berisi ajaran filsafat mengenai kesucian jiwa.
c.      Membuat buku undang-undang hukum pidana dan perdata yang diberi nama ”surya alam”.

6. Kerajaan Cirebon
Awalnya Cirebon merupakan bagian dari kerajaan Pajajaran. Pada abad ke- 16, Cirebon berkembang menjadi pelabuhan yang ramai dan pusat perdagangan di pantai Jawa Barat bagian utara. Setelah jumlah pedagang semakin banyak dan proses Islamisasi berkembang terus, Sunan Gunung Jati segera membentuk pemerintahan kerajaan Islam Cirebon.

7. Kerajaan Banten
Hasanuddin sebagai anak dari Sunan Gunung Jati dianggap sebagai raja dari Kerajaan/Kesultanan Banten yang pertama. Adapun Sunan Gunung Jati dianggap sebagai pendiri kerajaan Banten.

8. Kerajaan Makassar
Pada abad ke- 16 di pulau Sulawesi berkembang banyak kerajaan diantaranya kerajaan Luwu,Gowa, Wajo, Soppeng, Tallo dan Bone. Diantara kerajaan-kerajaan tersebut terdapat persaingan perebutan hegemoni di Sulawesi Selatan dan kawasan Indonesia bagian Timur. Dua kerajaan berhasil memenangkan persaingan tersebut, yaitu Gowa dan Tallo yang kemudian lebih dikenal sebagai Kerajaan Makassar. Kerajaan Makassar mencapai puncak kejayaannya pada masa Sultan  Hasanuddin (1653-1669 M).

9. Kerajaan Ternate dan Tidore
Kerajaan Ternate dan Tidore merupakan dua kerajaan di kepulauan Maluku. Kedua kerajaan ini bersaing. Persaingan antara kerajaan Ternate dan Tidore diperburuk dengan ikut campurnya bangsa Portugis yang membantu Ternate dan bangsa Spanyol yang membantu Tidore. Setelah memperoleh keuntungan, kedua bangsa barat tersebut bersepakat untuk menyelesaikan persaingan mereka dalam Perjanjian Saragosa ( 22 April 1529). Hasil perjanjian tersebut, Spanyol harus meninggalkan Maluku dan menguasai Philipina, sedangkan Portugis tetap melakukan perdagangan di kepulauan Maluku.


 

Mengenal Walisongo

Walisongo Periode Pertama

Pada waktu Mehmed I Celeby memerintah kerajaan Turki, Sang Sultan kemudian mengirim surat kepada pembesar Islam di Afrika Utara dan Timur Tengah. Isinya meminta para ulama dikirim ke pulau Jawa. Maka terkumpullah sembilan ulama yang secara umum dinamakan Walisongo.

Hal yang sangat khas dari walisongo adalah sangat intensnya pertemuan di antara mereka saat bersama-sama menjalankan tugas dakwah Islam. Mereka berkali-kali melakukan pertemuan khusus di antara sesama mereka. Dalam pertemuan itu, mereka melakukan sharing strategi. Dan juga yang sangat penting, dalam pertemuan-pertemuan itu, para wali tersebut menetapkan atau menerima anggota walisongo yang baru. Dalam satu kasus, mereka bahkan bersidang dalam rangka memecat keanggotaan wali.

Para wali itu sebenarnya terdiri dari beberapa angkatan. Para Walisongo tidak hidup pada saat yang persis bersamaan, namun satu sama lain mempunyai keterkaitan erat, baik dalam ikatan darah atau karena pernikahan, maupun dalam hubungan guru-murid. Bila ada seorang anggota majelis yang wafat, maka posisinya digantikan oleh tokoh lainnya.

Dari nama para Walisongo tersebut, pada umumnya terdapat sembilan nama yang dikenal sebagai anggota Walisongo yang paling terkenal, yaitu:

 

Hasil Peradaban

1. Pengukuhan konsep hubungan antar-bangsa yang ideal menurut ajaran Islam.

2. Terjadi revolusi budaya literasi dalam skala yang sangat luas.

3. Perubahan pandangan hidup secara revolutif.