KHAWARIJ DAN MURJI’AH
(Disusun untuk memenuhi salah satu syarat mata kuliah Ilmu Kalam)
Dosen Pengampu: Ahmad Subandi, S.Sos.I
Makalah
Oleh:
Harkaman & Afendi Cahya
SEKOLAH TINGGI FILSAFAT ISLAM SADARA
TAHUN AKADEMIK 2013
Jl. Pejaten Raya No. 19 Jakarta Selatan
1
KATA PENGANTAR
Segala puji bagi Allah SWT yang telah memberikan Rahmat dan Hidayah-Nya serta pengetahuan yang telah dititipkan kepada Manusia. Karena hanya atas izin-Nyalah kami bisa menyelesaikan sebuah makalah yang berjudul “Khawarij dan Murji‟ah”.
Untuk membahas judul yang telah kami tentukan itu, banyak hambatan yang kami dapatkan, misalnya mencari referensi yang tepat dan hambatan yang besar yang harus dilewati adalah waktu yang terbatas untuk bisa menulis. Mengingat hal tersebut cukup berat. Tapi semua itu sudah berlalu, itu karena doa‟a orangtua, bantuan teman, dan semangat perjuangan disuntikkan ke dalam jiwa kami oleh dosen pengampu. Taak lupa kami ucapkan terima kasih kepada pihak perpustakaan yang telah bersedia melayani kami dengan ikhlas ketika mencari referensi yang dibutuhkan.
Makalah ini ditulis agar bisa menjadi gerak awal bagi para calon-calon mujahid muslimin. Khususnya sebagai bahan diskusi ilmiah. Namun kami sangat sadar akan berbagai kekurangan yang telah perbuat, mengingat keilmuan kami masi rendah. Sehingga permohonan maaf tidak lupa kami ucapkan kepada para segenap pembaca.
Kritik dan saran kami juga harapakan, semoga kedepannya karya yang dihasilkan lebih baik dari yang sekarang. Aamiin.
Jakarta, 17 Maret 2013
Penulis
2
DAFTAR ISI
Halaman Judul…………………………………………………………………. 1
Kata Pengantar……………………………………………………………..… 2
Daftar Isi……………………………………………………………………….. 3
Bab I Pendahuluan…………………………………………………………… 4
1.1.1. Latar Belakang Masalah…………………………………….…….…. 4
1.2. Rumusan Masalah……………………………………………….…….… 4
1.3.Hipotesis…………………………………………………………….….…. 4
1.4.Tujuan Penulisan………………………………………………………….. 5
1.5.Manfaat Penulisan………………………………………….…..………… 5
Bab II Khawarij Dan Murji’ah………………………………………………. 6
2.1. Sejarah Kemunculan Khawarij………………………………………….. 8
2.2. Pokok Ajaran Khawarij………………………………………………… 10
2.3. Kelompok-kelompok, Ajaran Pokok dan Tokoh-tokoh Khawarij…… 13
2.4. Sejarah Kemunculan Murji’ah………………………………………….. 14
2.5. Pokok Ajaran Murji’ah………………………………………………….. 15
2.6. Kelompok-kelompok, Ajaran Pokok dan Tokoh-tokohMurji’ah………12
Bab III Penutup……………………………………………..……………….. 22
3.1. Kesimpulan………………………………………………………………. 22
3.2. Saran………………………………………………………………………. 22
Daftar Pustaka…………………………………………………………………. 22
3
BAB I
PENDAHULUAN
1.1.Latar Belakang Masalah
Seringkali ditemukan orang berbicara tentang suatu golongan, sedang dia tidak mengetahuinya dengan pasti apa yang dibicarkannya itu. Kebanyakan berbicara sangat subjektif, akibatnya menimbulkan pemahaman yang berbeda di tengah-tengah umat. Oleh karena itu, kita mengklarifikasi aliran-aliran kalam dalam Islam.
Dalam hal ini ada satu aliaran kalam yang pertama kali muncul di zaman sahabat Nabi Muhammad SAW, yaitu ketika Ali bin Abi Thalib menjadi khalifah. Dan literature Islam yang mebahas asal kelompok itu adalah pecahan dari Ali bin Thalib. Kelompok ini sangat keras, mereka menanamkan konsep dosa besar dan setiap pelaku dosa besar halal darahnya.
Di sisi lain ada kelompok yang mencul setelahnya, yaitu Murji‟ah, kelompok ini justru berlawanan konsep dengan yang ditawarkan khwarij. Mereka mengatakan pelaku dosa besar itu tetap dihukumi sebagai muslim dan darahnya tidak halal. Urusan surge dan neraka adalah urusan Tuhan.
Tentunya terpecahnya umat atas beberapa aliran kalam, menimbulkan banyak pertanyaan dan persoalan. Semua ini harus dijawab dengan rasional, dengan tidak adanya keterpihakan kepada satu aliran, harus diselesaikan dengan sesubjektif mungkin. Jika sifat fanatik yang digunakan maka tidak akan bisa menyelesaikan masalah.
Semoga dengan adanya orang-orang yang masih peduli dengan umat, membuat cahaya ilahi tetap terpancar kepermukaan bumi ini dan semua umat manusia dapat merasakan hal demikian. Dengan pemikiran yang sama yaitu Islam. Mereka senang tiasa mengatakan I’m Muslim (saya Islam) tidak memperkenalkan cirikhas kemazhaban, tapi keislamanlah yang ditampakkan secara kaffah.
4
1.2.Rumusan Masalah
Dari penjelasan tersebut di atas, kami akan mencoba merumuskan sebuah titik permasalahan yang akan menjadi kajian utama, yaitu sebagai berikut.
1.2.1. Bagiamana sejarah kemunculan Khwarij dan Murji‟ah? Jelaskan!
1.2.2. Sebutkan tokoh-tokoh dan pokok ajaran Khwarij dan Murji‟ah!
1.3.Hipotesis
Berdasarkan Rumusan Masalah yang telah dirumuskan sebelumnya, maka akan kami berusaha memberikan sebuah kesimpulan, yang tentunya sifatnya masih sementara saja.
Khawarij merupakan aliran politik yang pertama kali muncul, kemudian menjadi sebuah aliran teologi ketika membahas persoalan kafir yang ditimbulkan oleh dosa besar. Kelompok Khawrij memebentuk barisan sendiri dengan cara memisahkan diri dari barisan Sayyidina Ali Ibn Abi Thalib. Karena tidak menyepakati tahkim.
Kini konsep dosa besar muncul dari Khawarij, Sayyidina Ali Ibn Abi Thalib dan Mu‟awiyah ibn Abi Sofyan dianggapnya sebagai pelaku dosa besar dan darahnya halal. Setelah Khawarij ini kemudian merejalelah di tengah-tengah umat, sebuah kersahan pun muncul, karena hal itu belum bisa menyelesaikan persoalan.
Tindakan pengkafiran terhadap Ali bi Abi Thalib, Muawiyah bin Abi Sofyan, Amr bin Ash, Abu Musa al-Asy‟ari yang dilakukan oleh kalangan Khawarij, mengundang sikap kekhawatiran di tengah umat Islam. Khususnya para ulama. Munculnya Murji‟ah itu sangat erat kaitannya dengan Khawarij, di mana golongan yang dipimpin oleh Ghilan al-Dimasyai berusaha bersikap netral. Golongan tidak sepaham dengan khwarij yang mengkafirkan para sahabat tersebut.
5
Murji‟ah sendiri mempunyai konsep yang sesuai dengan arti dari kelompoknya, yaitu menangguhkan. Jadi persoalan Sayyidina Ali Ibn Abi Thalib dan Mu‟awiyah ibn Abi Sofyan harus ditangguhkan hingga kahirat kelak, kita tidak menghukumi mereka. Kita tidak boleh menghukumi dengan hukuman dunia, sehingga masuk surga atau neraka tidak bisa ditentukan, karena diakhiratlah nanti yang menjadi sah.
1.4.Tujuan Penulisan
Adapun tujuan ditulisnya makalah ini adalah utuk memberikan sebuah bacaan yang simpel kepada umat Islam, bagaimana agar dapat memahami aliran-aliran dalam Islam khsususnya Khawarij dan Murji‟ah. Bagiamana agar mampu mengklarifikasi dan memberikan penilaian kepada kelompok tersebut.
Di sisi lain kami mengingkan sebuah sikap keterbukaan dan menanggalkan sikap fanatik, karena telah memahami aliran-aliran yang ada di dalam Islam. Setidaknya melalui tulisan ini dapat memberikan kontribusi penting untuk umat Islam.
1.5.Manfaat Penulisan
Orang yang mengerti tentang sekte-sekte dengan baik yang ada di dalam Isalm, tentunya sangat memberikan pengaruh positif. Kerena tidak mudah menyalahkan orang lain dan tidak fanatik, yang menganggap bahwa kelompoknyalah yang paling benar di antara kelompok yang lain.
Dengan demikian dapat menciptakan pribadi yang benar-benar Islami, mempunyai jiwa jihad di jalan Allah, dan selalu bersuha untuk memajukan Islam. Tidak pernah berhenti belajar, untuk kepentingan bangsa, negara dan khususnya untuk kepentingan umat Islam.
6
BAB II
KHAWARIJ DAN MURJI’AH
2.1. Sejarah Kemunculan Khawarij
Setelah wafatnya Nabi Muhammad Saw, terjadi perpecahan di antara kaumnya-yang mengklaim setiap golongan merekalah yang berhak menjadi pemimpin pengganti Nabi. Dan hal ini terjadi hingga masa kekhalifahan Sayyidina Ali ibn Abi Thalib. Dimana saat itu terdapat gencatan dari muawiyah-gubernur Damaskus dan keluarga dekat bagi Sayyidiina Utsman ibn Affan. Selain itu juga, Thalhah dan Zubair yang ikut serta tidak mengakui kekhalifahan Sayyidana Ali.
Ketidak pengakuan mereka terhadap Ali inilah yang kemudian memunculkan pertempuran. Pertempuran ini tepatnya di Shiffin hingga disebut sebagai perang Shiffin. Dalam pertempuran di antara keduanya ini, tentara Ali ibn Abi Thalib dapat mendesak tentara Muawiyah, hingga bisa dikatakan kemenangan bagi Ali ibn Abi Thalib berada selangkah didepan mata. Namun „Amar bin Ash-tangan kanan muawiyah yang terkenal licik ini, membuat tipu daya dengan mengangkat al-Qur‟an sebagai tanda damai. Sehingga pasukan Ali ibn Abi Thalib berhenti dan menaggalkan senjata, sehingga barisan Ali menarik diri dari peperangan itu. Dan mereka merespons seruan Amar ibn Ash.
Sayyidina Ali ibn Abi Thalib berkata: “ Kalian telah melakukan tindakan yang melemahkan kekuatan Islam, mengurangi kekuatan Islam , serta mewariskan kelemahan dan kehinaan. Ketika kalian berhasil dan musuh-musuh kalian khawatir terkalahkan karena perang itu telah menghantam mereka dan mereka merasa sakit akibat luka-luka, maka mereka mengangkat al-Quran, menyeru kalian untuk memperhatikan sesuatu yang dapat meredakan (serangan) kalian atas mereka dan mengakhiri perang antara kalian dan mereka, serta menimbulkan rasa takut mati. Itu hanya tipu daya dan trik. Apa yang kalian lakukan ? kalian menuruti keinginan mereka, dan mengikuti tipu daya mereka. Demi allah, setelah kalian tak mengikuti pandaganku dan tak memilki ketetapan
7
hati ( setelah tak mengikuti) komitmenku, aku tak melihat kalian akan memiliki petunjuk.”1
Kemudian ajakan arbitrase itu dijawab oleh sebagian pasukannya yang mengusulkan Abu Musa untuk tahkim. Dan dalam hal ini Sayyidina Ali setuju karena sebagian pasukannya berambisi tetap setuju. Sayyidina Ali berkata “ Demi Allah aku tidak setuju melakukan ini dan aku tidak mau kalian juga setuju. Namun demikian , kalian tetap saja setuju. Akupun terpaksa setuju. Karena telah setuju , maka tidak pantas bagiku mencabut setelah setuju, dan tak layak berubah setelah menerima. Berarti aku melawan Allah jika aku melanggar kesepakatan yang telah dibuat ini, berarti jua aku melanggar kitab-Nya jika aku membatalkan secara sepihak. Karena itu, perangilah siapa saja yang melanggar perintah Allah.”2
Dalam arbitrase itu, terjadi kesepakatan antara dua utusan ini. Abu Musa dan Amr ibn Ash untuk menurunkan keduanya dan menyerahkan kepada umat. Akan tetapi Amar ibn Ash mengumumkan sebaliknya, bahwa ia dan Abu Musa sepakat untuk menjatuhkan kepemimpinan atau kekhalifahan Sayyidina Ali dan mengangkat Muawiyah. Sayyidina Ali di saat itu berada dalam kondisi sangat ditekan oleh banyak hal, pertama terdapat sebagian kelompok dari tentara beliau yang merespon seruan tangan kana Muawiyah untuk memperhatikan al-Qur‟an. Dan juga ada kelompok yang pada pertamanya mereka jua yang mendorong untuk arbitrase yang kemudian menolak itu, keluar dari barisan Sayyidina Ali – sekitar 4000 tentara pendapat lain 1200 tentara. Dan juga dikatakan bahwa mereka yang keluar dari pasukan Sayyidina Ali ini merasa tidak puas atas gencatan senjata yang disepakati Sayyidina Ali i dan Muawiyah 3
Mereka bersemboyan bahwa tiada hukum kecuali dari Allah, sehingga arbitrase sebagai jalan untuk menyelesaikan persengketaan tentang khilafah dengan Muawiyah ibn Abi Sofyan , dan timbullah klaim mereka yang
1 Dalam kitab Tarikh Al-kamil. Jil. 3. Hal. 322; Bihar al-Anwar. Jil. 8. Hal. 592
2 Tarikh Thabari. Jil. 5. Hal. 59 ; Tarikh al-Kamil. Jil. 3. Hal. 322; Bihar al-Anwar. Jil. 8. Hal. 593
3 Asy-Syahrastani. Al-Milal wa al-Nihal. (Surabaya, PT Bina Ilmu). Hal. 101.
8
mengatakan Sayyidina Ali telah menyimpang dari agama, menganggap Sayyidina Ali telah berdosa dan murtad, dan wajib untuk di bunuh. Dan kaum khawarij ini memutuskan untuk membunuh, baik itu dari Sayyidina Ali ataupun dari Muawiyah. Karena, mereka mempunyai selogan bahwa mansuia tidaklah berhak menghukumi sesutupun kecuali Allah. Maka menurut mereka Sayyidina Ali ataupun Muawiyah sama saja.
Mereka dinamakan Khawarij karena keluar dari pasukan Ali ibn Abi Thalib. Dan selain itu, mereka menamakan diri mereka sebagai orang yang keluar dari rumah lari kepada Allah dan rasulnya- dalam surat an-Nisa ayat 100, dan mereka memandang surat ini sebagai landasan bahwa merekalah yang mengabdikan diri mereka hanya untuk mengabdi pada Allah. Selanjutnya mereka menyebut diri mereka Syurah, dari kata yasri sesuai dengan ayat 207 surat al-Baqarah. Dengan pendapat mereka bahwa mereka menjual diri mereka demi keridhaan Allah. Ada juga nama lain diberikan pada mereka yaitu haruriah, dari kata harura. Di tempat inilah mereka sejumlah 12000 orang pendapat lain 4000 orang keluar dari barisan Sayyidina Ali, dan mengangkat Abdullah bin Wahb al-Rasyidi sebagai imam mereka.
2.2. Pokok Ajaran Khawarij
Ada beberapa hal yang menjadi poin penting daripada golongan ini, khsusnya pada persoalan imamah atau kepemimpinan. Oleh karena itu, kami akan menguraikan prinsip-prinsip dasar Khawarij. Adapun prinsip-prinsip dasar tersebut adalah sebagai berikut:
Pertama,pemilihan khalifah tidak berlaku kecuali dengan demokratis dan benar yang diikuti oleh seluruh ummat islam, dan bukan hanya dipilih oleh satu golongan saja. Dan kepemimpinan itu berlanjut selama ia masih hidup dan menegakkan keadilan, menjalankan syariat, menjauhi segala yang dilarang oleh aturan Islam. Dan jika melanggar maka dia wajib di pecat atau dibunuh.
9
Kedua, dalam kekhalifahan bukan hanya pada mereka bangsa Arab saja (Quraiys), melainkan Ajam (non-arab) juga punya hak dalam kepemimpinan. Bahkan mereka kaum Khawarij lebih mengutamakan orang Ajam dalam hal ini, atas dasar mereka yang mengatakan , agar tiadanya sebuah fanatisme dan pengkhususan. Sehinngga mereka mengangkat Abdullah ibn Abi Wahb al-Rasyidi sebagai imam walaupun bukan dari Quraiys.
Ketiga, sekte nadjat berkeyakinan bahwa eksistensi seorang imam itu yajuz (boleh) adanya, bukan wajib syar‟i. bagi mereka imam tidak diperlukan lagi jika masyarakat melakukan yang baik dan menjauhi yang buruk. Dan keberadaan imam adakalanya dibutuhkan disaat kesejahteraan mulai tidak terwujud lagi.
Keempat, mereka juga epakat tentang pelaku dosa, tidak ada beda antara dosa kecil atau besar, dan juga kesalahan dalam pendapat itu merupakan dosa. Landasan itu karena hal-hal itu dapat menimbulkan permasalahan dan perbedaan kebenaran daam pandangan. Dan ini adalah salah satu prinsip mereka yang kemudian berani mengkafirkan Sayydina Ali, hingga keluar dari barisannya.
Dan prinsip-prinsip dasar mereka itulah yang membuat mereka keluar dari jumhur muslimin. Dan setiap orang yang tidak sepakat dengan prinsip ini dianngap musyrik. Dan atas hal ini mereka mempunyai hujjah (alasan dan bukti kuat). Ibn Abi al-Hadid dalam bukunya “Syarhu Nahji al-Balaghah”, yang mana dalil-dalil ini menunjukan pemikiran mereka, kaum khawarij salah satunya adalah:
“Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu bagi orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah. Barangsiapa mengingkari ( kewajiban haji ini), maka sesungguhnya Allah maha kaya dari semesta alam.“ ( Q.s, Ali Imran: 97). Tafsir mereka: meninggalkan haji adalah kafir, karena meninggalkan haji adalah dosa, dan setiap orang yang dosa adalah kafir
.
10
2.3. Kelompok-kelompok, Ajaran Pokok dan Tokoh-tokohKhawarij
2.3.1. Al-Muhakkimah
Golongan Khawarij asli dan terdiri dari pengikut-pengikut Sayyidina Ali, dan kelompok inilah disebut al- Khawarij al-Muhakkimah. Bagi mereka Sayyidina Ali, Muawiyah dan dua utusan di dua belah pihak, dan semua yang setuju atas arbitrase itu kafir. Hingga berlanjut hukum kafir ini, yang mereka luaskan maknanya sehingga termasuk kedalamnya tipe orang yang berbuat dosa besar adalah kafir.
Orang khawarij dari kelompok ini bernama Zulkhuwairisah dan yang kedua adalah Zultsadiyah. Mereka juga yang menciptakan dua bid‟ah yaitu: Pertama, tentang imamah yang menurutnya selain dari Qurayspun boleh menjadi pengganti setelah Nabi. Dan mereka yang diangkat adalah orang-orang yang adil dan jikalau melanggar wajib di bunuh. Kedua, Sayyidina Ali menurut mereka telah banyak melakukan kekeliruan.
2.3.2. Al-Azariqah
Setelah golongan al-Muhakkimah hancur, muncullah golongan yang dapat menyusun barisan baru dan kuat lagi besar. Mereka berkuasa di diperbatasan Iraq dan Iran. Nama ini diambil dari Nafi‟ ibn al-Azraq ( seorang pemberontak atas pemerintahan Sayyidina Ali) yang memilki pengikut 20 ribu orang.
Ajaran yang di ajarkan al-khawarij yang dipelpori oleh Abu Rayid Nafi‟ ibn al-Azraq ini adalah :
Pertama, mereka mengkafirkan Ali ibn Abi Thalib. Dalam hal ini juga mereka membenarkan tindakan Abdul Rahman ibn Muljam yang telah membunuh Sayyidina Ali.
Kedua, berdasarkan prinsip ini Azariqah mengkafirkan Utsman, Thalhah, Zubair, Aisyah, Abdullah ibn Abbas, dan kaum muslimin yang tidak sependapat dengan mereka, adalah kafir dan pasti masuk neraka serta kekal didalamnya.
11
2.3.3. An-Najadaat al-„Aziriah
Kelompok ini adalah kelompok yang mengikuti pemikiran seorang yang bernama Najdah ibn Amir al-Hanafi yang dkenal sebagai Ashim yang menetap di Yaman. Najdah ibn amir al-Hanafi inilah sebagai tokoh dari kaum khawarij ini, yang kemudian melahirkan sebuah ajaran, bahwa ajaran agama itu ada dua yaitu:
Pertama, mengenal Allah Swt, para Rasul, haram membunuh sesama muslim, mengikuti secara umum apa yang diturunkan Allah. Wajib setiap orang mengenalnya, dan kejahilan menurut mereka bukan sebagai landasan untuk tidak mau mengenalnya.
Kedua, mereka juga mengatakan bahwa kemungkinan saja mujtahid itu tersalah alam menetapkan hukum sebelum adanya bukti yang kuat.
2.3.4. Al-Baihasiah
Abu Baihas al-Haisyam ibn Jabir salah seorang dari suku Bani Saad Dhubai‟ah, merupakan tokoh dalam kelompok ini sehingga dinamakan al-Baihasiah. Ia mengkafirkan Ibrahim dan Ma‟mun dikarenakan berbeda pendapat dengannya tentang perjualan budak wanita.
Ia memaparkan sebuah ajaran bahwa seseorang belum dikatakan muslim kecuali ia telah mengenal Allah dengan yakin, mengenal Rasul, dan mengetahui apa yang dibawa para Rasul, kepemimpinan hanya ditangan Allah bukan ditangan orang yang menjadi musuh-musuh Allah.
Dan sebagian besar dari kelompok ini mengatakan bahwa: ilmu pengetahuan dan perbuatan adalah iman. Dan adapun al-Baihas sendiri berkata bahwa: Iman menurutnya adalah pengetahuan terhadap yang benar dan bathil, sedangkan pengetahuan bukan termasuk ucapan dan perbuatan, karena itu katanya “ iman adalah pengakuan hati dan pengetahuan bukan hanya salah satu dari keduanya”.
2.3.5. Al-Ajaridah
12
Kelompok ini dipimpin oleh Abd al-Karim „Araj yang isi ajarannya sama mirip dengan ajara an-Najdiah. Ada yang mengatakan bahwa ia termasuk sahabat dekat Baihas. Menurut kelompok ini bahwa tidak boleh mengatakan kafir atau muslim kepada seorang anak muslim sampai usianya baligh. Sedangkan anak orang kafir bersama orang tuanya masuk kedalam neraka.
Kelompok ini terbagi menjadi tiga kelompok yaitu:
Pertama, ash-Shalthiah yang mengikuti ajaran-ajaran yang diajarkan Utsman ibn Abi Shalt, yang sependapat dengan apa yang dikatakan kelompok al-Jaridah tadi.
Kedua, al-Maimuniyyah yang mengikuti ajaran Maimun ibn Khalid. Yang mempunyai pandangan ajaran bahwa baik dan buruk itu berasal dari manusia
Ketiga, kelompok al-Hamziyyah yang berdasarkan ajaran hamzah ibn Adrak. Kelompok ini sependapat dengan al-Maimunah tentang qodar, namun berbeda pendapat dengan muslim atau kafir yang ditentukan pada seorang anak yang baru lahir.
2.3.6. At-Tsa‟alibah
Pendiri kelompok ini adalah Tsa‟alibah ibn Amir, menurutnya tidak ada yang mengikat antara orang tua dengan anaknya, baik anak itu menjadi patuh terhadap agama atau tidak, sampai anak itu mencapai dewasa telah sampai dakwah agama padanya. Dan tentunya hal ini bertentangan dengan al-Jaridah, dan Tsa‟alibah juga berkata bahwa jika seorang anak itu menerima ajaran agama maka ia muslim, jika sebaliknya maka ia kafir.
2.3.7. Al-Ibadhiyah
Al-Ibadhiyah adalah kelompok yang dipimpin oleh orang yang bernama Abdullah ibn Ibadh yang memberontak terhadap pemerintaha khalifah Marwan ibn Muhammad.
13
Menurut kelompok ini Negara yang dihuni ummat Islam yang tidak sependapat dengan mereka masih dianggap negara berketuhanan, kecuali benteng kepala negara termasuk Daru al-Harbi. Dan orang yang melakukan dosa masih dianggap ahlu tauhid tetapi bukan mukmin.
Mereka juga mengatakan bahwa semua hukum Allah itu berlaku umum, karena tidak diterangkan secara khusus kepada kelompok mana. Dan juga bahwa mukjizat yang ada pada Rasul bukanlah tanda kerasulan.
2.3.8. As-Shufriyyah az-Ziyadiyyah
Kelompok ini dipelopori oleh orang yang bernama Zayad ibn Ashfar, yang mana pemikirannya berbeda dengan perkembangan pemkiran Khawarij yang lain.
Kelompok ini tidak mengkafirkan orang yang ikut perang selama masih seagama dan satu akidah. Mereka mengakui adanya hukum rajam, dalam peperangan tidak boleh membunuh anak orang musyrik dan tidak mengatakan anak orang musyrik kekal didalam neraka, menurut mereka taqiyah tidak diperbolehkan dalam perkataan tapi boleh dalam perbuatan.
Tidak ada perbuatan yang dikategorikan dosa besar tanpa ada hukumannya seperti meninggalkan perang , shalat, dan orang yang seperti itu dikatakan kafir karena perbuatannya.
2.4. Sejarah Kemunculan Murji’ah
Tindakan pengkafiran terhadap Ali bi Abi Thalib, Muawiyah bin Abi Sofyan, Amr bin Ash, Abu Musa al-Asy‟ari yang dilakukan oleh kalangan Khawarij, mengundang sikap kekhawatiran di tengah umat Islam. Khususnya para ulama.
Munculnya Murji‟ah sangat erat kaitannya dengan Khawarij, dimana golongan yang dipimpin oleh Ghilan al-Dimasyai berusaha bersikap netral.
14
Golongan tidak sepaham dengan Khwarij yang mengkafirkan para sahabat tersebut.4
Khwarij yang menaruh rasa hormat kepada dua khalifah pertama, yaitu Abu Bakar as-Shiddiq dan Umar bin Khattab, tatapi membenci Ali ibn Abi Thalib dan Utsman ibn Affan yang sebenarnya bertentangan dengan pemahaman kaum muslimin pada umumnya. Sebagaimana dijelaskan di atas Murji‟ah menentang apa yang dipahami oleh kelompok Khwarij dengan dalil bahwa meraka tidak bisa menyelesaiklan kemusykilan tersebut.
Murji‟ah kemudian berusaha menyelesaikan dengan sebuahprinsip qawl al-Irja: Mendahulukan perkara Abu Bakar dan Umar dan menangguhkan urusan selalainnya hingga hari kiamat kelak.5 Hal ini sesuai dengan makna dari kelompok Murji‟ah itu sendiri, dimana akar katanya yaitu Irja’ yang berarti penangguhan.
2.5. Pokok Ajaran Murji’ah
Pokok ajaran dari golongan ini adalah orang Muslim yang melakukan dosa besar tidak boleh dihukumi dengan hukuman dunia, sehingga masuk surga atau neraka tidak bisa ditentukan, karena di akhiratlah nanti yang menjadi sah. Golongan ini memandang orang yang beriman tidak merusak iman ketika berbuat maksiat. Sama halnya dengan ketaatan bagi orang yang kafir.
Iman diartikan sebagai pengetahuan tentang Allah secara mutlak dan kafir adalah ketidaktahuan tentang Allah secara mutlak. Oleh karena orang Murji‟ah menganggap iman itu tidak bertambah dan tidak berkurang.6
Oleh karena itu dapat disimpulkan bahwa golongan ini mengganggap antara iman dan amal tidak ada hubungannya. Atau lebih tepatnya amal tidak
4 Harkaman01.wordpress.com/ makalah/ metodologistudiislam/ aliranaliran pemikiraniislam.
5Ja‟far Subhani. Al-Milal wan-Nihal “Studi Tematis Mazhab Kalam”. (Pekalongan, Penerbi al-Hadi: 1997). Hal.47
6 Harkaman01.wordpress.com. Op.Cit.
15
termasuk dalam keimanan, dengan demikian orang yang beriman tidak melakukan dosa besar, sebagaimana imannya para Malaikat dan para Nabi. Hal sesuai dengan semboyan mereka yang makruf: Mendahukukan iman dengan menagguhkan amal.
2.6. Kelompok-kelompok, Ajaran Pokok dan Tokoh-tokoh Murji’ah
Golongan Murji‟ah terbagi menjadi empat golongan besar , yaitu Murji‟ah al-Khawarij, Murji‟ah al-Qadariyah, Murji‟ah Jabariyah dan Murji‟ah Murni. Namun pada kami hanya akan membahas Murji‟ah Murni saja. Yaitu sebagai berikut:
2.6.1. Al-Yunusiyyah
Kelompok ini adalah kelompok yang mengikuti ajaran Yunus ibn „Aun an-Numairi. Pemimpin al-Yunusiyyah berpendapat bahwa iman adalah pengenalan kepada Allah dengan mentaatinya, meninggalkan keinginan, menyerahkan diri kepada-Nya dengan menafikan rencana pribadi, dan mencintai-Nya dengan sepenuh hati. Demikian inilah orang yang beriman apabilah berhasil menghimpun hal-hal tersebut. Adapun perbuatan taat tidak disebutkan karena tidak merusak keimnan walalaupun ditinggalkan. Tentunya tidak mendapatkan siksa selama iman mereka masih kuat dan mantap.
Kelompok ini juga berpandangan bahwa Iblis itu adalah makhluk yang arif billahi, dihukumi kafir hanya saja kerana ketakaburannya.
“Ia enggan dan takabur dan adalah ia termasuk golongan orang-orang yang kafir.” (Qs. Al-Baqarah: 34)
2.6.2. Al-„Ubaidiyyah
„Ubaid al-Mukta‟ib adalah pendiri dari kelompok ini, karena para pengikutnya menisbatkan padanya, dengan mengikuti ajaran-ajaran „Ubaid. Beberapa pokok ajarannya adalah tentang syirik, bahwa pelaku syirik akan diampuni dosanya oleh Allah. Selama ada katauhidan pada seseorang lantas
16
meninggal dunia, maka dia tidak binasa oleh kejahatan dan dosa besar. Diriwayatkan oleh Al-Yaman dan disandarkan kepada „‟Ubai dan para pengikutnya, bahwa Allah tidak (dibatasi) kitab Allah dan tidak bersifat, maka dari itu agama diapahmi bukan dari Allah. Selain itu Allah diapahami berwujud seperti bentuk manusia. Dengan dalil:
إن الله خلق آدم على صورة الرحمن الرحيم
“Sesungguhnya Allah telah menciptakan Adam dalam bentuk Yang Maha Pengasih”
2.6.3. Al-Ghasaniyyah
Kelompok yang dipimpin oleh Ghassan al-Kafi, berpandangan bahwa iman adalah pengetahuan kepada Allah dan Rasul, mengakui dengan lisan akan kebenaran yang diturunkan oleh Allah, namun secara global tidak perlu secara rinci. Juga menganggapo bahwa iman itu bersifat statis, artinya tidak bertambah dan tidak berkurang. Apabilah seseorang berkat “Aku tahu bahwa Allah mengharamkan babi, namun aku tidak tahu babi mana yang diharamkan” atau seseorang yang mengatakan”Aku tahu bahwa Allah memerintahkan kita untuk menunaikan ibadah haji di Ka‟bah, namun aku tidak tahu Ka‟nah mana yang dimaksud oleh Allah”. Orang tersebut masih dikatakan beriman.
Ghassan pernah meriwayatkan dari Abu Hanifah termasuk adalah orang Murji‟ah, dengan alasan bahwa Abu Hanifah pernah mengatakan bahwa iman adalah tashdiq dengan hati bahwa ia tidak bertambah dan tidak berkurang. Ucapan tersebut diartikan bahwa Abu Hanifah telah menangguhkan perbuatan dari iman, walau dietahui juga Abu Hanifah telah mengajak orang-orang untuk bekerja dan berusaha. Demikian ini menjadi bantahan atas ketidak mungkinan hgal tersebut. Mungkin saja hal ini juga kerena saat itu, Mu‟tazilah menganggapkelompok selalin dirinya adalah Murji‟ah.
2.6.4. Ats-Tsaubadiyyah
17
Ajaran ats-Tsaubadiyyah mengikuti Abu Tasaubah al-Murji‟ yang berpendapat bahwa iman adalah pengenalan dan pengakuan lidah kepada Allah, Rasul dan kepada semua perbuatan yang menurut akal tidak boleh dikerjakan dan perbuatan yang menurut akal boleh dikerjakan termasuk iman. Iman lebih dahulu dari amal. Beberapa penundaan amal dari iman relevan dengan apa yang telah dipahami oleh kelompok Ynussiyyah dan Ubaidiyyah. Ia berpednapat bahwa orang yang melakukan dosa besar tidak dikatakn kafir, karena ketaantan dan kemaskisatan bukan inti iman sehingga hilang karenanya.
Adapun tokoh-tokoh yang mendukung tsauban ini adalah Marwan Ghailan Ibn Marwan al-Damisqi, Abu Tsamar, Muwis ibn Umran, Al-Fadhal-Raqasyi, Muhammad ibn Syu‟aib, al-„Arabi, dan Shaleh Qubbah.
Tidak ada pelaku dosa besar yang kekal di dalam neraka, apabilah sudah mendapat siksaan maka akan dikeluarkan dari neraka. Seperti itulah yang dinukil dari Bisyar ibn Gayath al-Muraisi.
Keyakinan lainnya yang diapahami oleh Ghailan yang beragapan bahwa sumber keburukan adalah manusia. Dalam persoalan imamah boleh siapa saja, asalkan mengamalkan al-Qur‟an dan Sunnah dengan baik, tidak hanya dari kaum Quraisy saja, kesahihannya sendiri tergantung dari kesepakat umat secara ijmak. Walau terdapat keganjalan, karena mereka beranggapan bahwa ada kesepatan umat yang lebuh baik menjadi imam adalah dari suku Quraisy. Karena alsan inilah kelompok Anshar mengatakan, bagi kami seorang pemimpin dan seorang pemimpin bagimu. Sebenarnya kelompok ini menghimpun tiga pokok ajaran, yaitu Qadariyah, Mu‟tazilah dan Khwarij.
Dan dikatakan penganut Murji‟ah yang pertama adalah al-Hasan ibn Muhammad ibn „Ali ibn Abi Tahlib. Ia menulis beberapa surat tentang penuduhan iman yang mana didalmnya seperti dengan pemahaman Murji‟ah Yunusiyyah dan Ubaidiyyah. Ia berpendapat bahwa orang yang melakukan dosa besar tidak dapat dikatakan kafir, karena ketaatan. Dan kemaksiatan bukan inti iman sehingga dikatakn iman hilang karenanya.
18
2.6.5. Al-Tuminiyyah
Al-Tuminiyyah adalah kelompok yang berkiblat kepada Abu Muaz At-Tumini yang mentakan iman adalah terpelihara dari kekufuran, iman adalah nama perbuatan yang apabilkah ditinggalkan akan menjadi kafir, demikian juga kalau satu petbuatan saja ditinggalkan menjadi kafir. Karena itu tidak boleh beriman kepada sebagian saja dan kafir pada sebagian.
Sama halnya dengan kelompok sebelumnya, yang beranggapan bahwa unsur iman adalah makrifat tashdiq, mahabah, ikhlas dan mengakui melalui lisan terhadap apa yang disampaikan Rasul. Katanya: Mereka yang meninggalakan shalat dan puasa dengan niat menqhada tidak dikatakan kafir. Siapa yang membunuh Nabi atau memukulnya ia tidak termasuk kafir, kafir bukan karena membunuh atau karena memukul tapi karena menghina, memusuhi mereka dan membenci mereka.
Rawandi dan Bisyar ibn al-Muraisi cenderung kepada pendapat di atas, bahwa iman itu adalah tashdiq dengan hati dan lisan, kekafiran itu sendiri dikarena oleh perbuatan keras kapala dan ingkar. Adapun orang yang menyemabh matahari, bukan, dan sebagainya, tidak teransuk perbuatan kafir tapi hanya merupakan tanda kekafirran.
2.6.6. As-Shalihiyyah
Kelompok ini adalah kelompok yang terakhir yang akan dibicarakan. As-Shalihiyyah merupakan nama yang dinisbatkan kepada Shalih ibn „Umar ash-Shalihi, karena para pengikutnya berkiblat kepada dirinya. Ash-Shalihi, Muhammad Ibn Syu‟aib, Abu Syamar dan Ghailan, semuanya adalah pengikut Qadariyah dan Murji‟ah. Kelompok ini sendiri digolongkan kedalam Murji‟ah Murni, karena mereka mempunyai pendapat yang berbeda dengan kelompok Murji‟ah lain.
Mari lihat pendapat ash-Shalihi yang mengatakan bahwa iman adalah semata-mata pengenalan kepada Allah dan mengakui Allah sebagai pencipta alam
19
semesta. Ini mengindikasikan bahwa kekafiran itu adalah ketidaktahuan (jahil) terhadap Allah. Orang yang mengatakan bahwa Tuhan itu tiga, menurutnya, bukanlah kafir tetapi ucapan itu tidak akan keluar kecuali dari mulut orang kafir. Makrifah sendiri diartikan sebagai kecintaan dan ketundukan kepada Allah. Iman tumbuh dari pemberitaan Rasul dan menurut ukuran akal mungkin wajib beriman kepada Allah tapi tidak kepada Rasul.
Menurutnya shalat bukanlah ibadah , kecuali dari orang-orang yang briman kepada Allah, karena ia telah mengenal-Nya. Dan iman menurutnya hanya terdiri dari satu unsur yang tidak bertambah dan tidak berkurang, demikian juga kafir tidak bertambah dan tidak berkurang.
Menurut Abu Syamar al-Murji‟ al-Qadari iman adalah makrifat tentang Allah, cinta dan tunduk kepadanya, ini dibuktikan dengan pengakuan lisan, dengan menyatakan bahwa Allah itu Maha Esa, setelah adanya berita dari Nabi ikrar dengan lisan termasuk inti dari pada iman dan syarat di dalam unsur iman ialah mengenal keadilan Allah, serta memberikan pengakuan bahwa baik dan buruk bukan dari Allah.
Ghilan yang dikenal sebagai penganut Mutrji‟ah dan Qadariyah memberiakn makna yang sama tentang, iman masih pada seputar, makrifat, cinta dan ketundukan kepada Allah. Adapun makrifat yang pertama adalah bersumber dari naluri manusia yang merupakan sebuah fitrah, seperti pengetahuan bahwa alam semesta ada penciptanya.Makrifat ini tidak termasuk kedalam iman, karena tidak lahir dari kesadaran. Dan makrifat yang kedua, yaitu diperoleh dari dalil dan disebut sebagai iman.7
7Asy-Syahrastani. Op.Cit. Hal.174-180
20
21
BAB III
PENUTUP
3.1. Kesimpulan
Khawarij yang keluar dari kelompok Ali ibn Abi Thalib membuat barisan sendiri. Mereka mengkafirkna Sayyidina Ali dan Mu‟awiyah dengan alasan bahwa mereka berdua tidak berpegang kepada hukum Allah. Sehinnga mereka dinilai sebagai pelaku dosa besar dan pelaku dosa besar tentunya darahnya halal. Dengan dasar inilah kemudian kelompok Khawarij berusaha untuk membunuh kedua orang tesebut.
Tidak lama setelah Khawarij muncul lagi golongan yang bernama Murji‟ah, kelompok yang bersuha bersifat netral. Dengan menawarkan sebuah konsep penangguhan. Mereka menangguhkan amal dari iman. Jadi Sayyidina Ali dan Mu‟awiyah tidak bisa diputusakn dengan hukum dunia, namun nanti di akhirat kelak.
Perbedaan yang sangat mendasar di anatara Khawarij dan Murji‟ah adalah pada persoalan iman dan amal. Khawarij beranggapan bahwa amal merupakan bagian dari iman. Sedangkan Murji‟ah beranggapan bahwa amal bukan bagian daripada iman. Dan tidak merusak imanan hanya karena amal seseorang.
3.2. Saran
Mengingat hal ini hanya sebatas pengantar tentang memahami aliran Khawarij dan Murji‟ah, dan kami tidak bisa memberikan kebenaran 100% . Oleh karena teruslah mengkaji kedua aliran tersebut. Kami hanya menuliskan garis-garis besarnya saja. Silahkan anda merujuk kepada buku-buku yang membahas secara sepesifik dan bandingkan dengan apa yang telah kami tulis.
22
Berharap agar para pembaca dapat memperoleh manfaat, semabari mencicipi cahaya ilahi yang akan menuntun kita kepada-Nya. Tanpa mengurangi rasa hormat, mohon maaf atas segala kekurangannya.
23
DAFTAR PUSTAKA
Asy-Syahrastani. Al-Milal wa al-Nihal. Surabaya: PT Bina Ilmu
Harkaman01.wordpress.com/ makalah/ metodologistudiislam/ aliranaliran pemikiraniislam.
Subhani, Ja‟far. 1997. Al-Milal wan-Nihal “Studi Tematis Mazhab Kalam”. Pekalongan: Penerbit al-Hadi.
Tarikh Al-kamil. Jil. 3.; Bihar al-Anwar. Jil. 8.
Tarikh Thabari. Jil. 5.; Tarikh al-Kamil. Jil. 3.; Bihar al-Anwar. Jil. 8.