• Pengertian Qadah dan Qadar

Qadha memiliki arti penetapan hokum, atau pemutusan dan penghakiman sesuatu. Qadhi adalah sebutan bagi seseorang yang bertugas atau bertindak menghakimi dan memutuskan perkara antara kedua orang yang bersengketa di muka pengadilan.[1] Di dalam Al-Qur’an sendiri kadang-kadang kata ini digunakan dan dinisbahkan pada Allah dan kadang-kadang kepada manusia. Yang berfungsi untuk memisahkan dua pokok bahasan dalam pembicaraan dan juga untuk memisahkan antara dua penciptaan di alam ini.[2]

Qadar berarti kadar dan ukuran tertentu[3], Al-Qur’an sering menggunakan kata tersebut untuk menunjukan arti ini.

Muthahari mengatakan bahwa kejadian-kejadian alam, ditinjau dari sudut keberadaannya  di bawah pengawasan dan kehendak Allah yang pasti itu bisa dikategorikan sebagai qadha Ilahi. Dan jika dilihat dari sudut sifatnya yang terbatas pada ukuran dan kadar tertentu serta kedudukannya dalam ruang dan waktu dapat dikategorikan sebagai qadar Ilahi.

Muthahari mengatakan bahwa semua kejadian alam secara umum haruslah termasuk di antara tiga kemungkinan atau hipotesis.

  1. Semua kejadian tidak ada kaitannya sama sekali dengan masa  lalu yang mendahuluinya, baik hal itu bersifat keterdahuluan dalam hal waktu atau yang lainnya, oleh karena itu eksistensinya tidak memiliki keterkaitan dengan segala yang mendahuluinya. Begitu juga dengan segala ciri khas atau karakteristiknya, dengan hipotesis ini —menurut Murthada Muthahari— qadha dan qadar  tidak memiliki arti lagi, setelah adanya penyangkalan, adanya keterkaitan antara eksistensi serta berbagai karakteristiknya yang berhubungan dengan waktu dan tempat, dengan masa lalu yang mendahuluinya. Berdasarkan teori ini maka konsekwensinya adalah teori sebab-akibat harus pula diingkari, dan sebagai resiko/gantinya maka teori atau faktor “kebetulan” harus diterima sebagai tafsiran adanya segala sesuatu.

Padahal kita mengetahui bahwa sebab-akibat atau kausalitas umum dan keterkaitan yang dharuri dan pasti antara segala kejadian, sebagaimana setiap kejadian memperoleh kepastian dan keharusan serta kekhususan-kekhususan eksistensinya dari sesuatu atau berbagai hal lain yang mendahuluinya, merupakan sesuatu yang diterima tanpa ragu dan tidak memerlukan sanggahan.

  1. Hipotesis kedua adalah mengakui setiap kejadian itu memiliki suatu sebab yang mendahului, namun menolak adanya sistem sebab-akibat yang berlaku dalam setiap kejadian. Ini berarti bahwa segala sesuatu yang terjadi itu langsung berasal dari sebab yang pertama dan utama, yakni Allah SWT. Hal ini berarti bahwa di alam  ini tidak penyebab lain atau penyebab kecil melainkan hanya satu sebab, yakni Zat Ilahi, dari Dia lah muncul segala maujud secara langsung tanpa ada perantara. Di sini berarti Iradat-Nya berkaitan dengan setiap kejadian, secara sendiri-sendiri, terpisah dari iradat-Nya yang lain.[4]

Ini dapat diasumsikan seperti ini —Pandangan Muthahari— bahwa: Qadha berarti pengetahuan dan kehendak Ilahi berkenaan dengan terwujudnya suatu kemaujudan. Setiap kali, pengetahuan dan kehendak-Nya itu terpisah dari pengetahuan serta kehendak-Nya yang lain. Hal ini berarti memaksa kita untuk meyakini dan menerima bahwa taka da sebab lain kecuali Allah. Dapat dikatakan bahwa segala sesuatunya telah ditentukan sebelumnya kejadian “ini” akan terjadi pada waktu yang “ini”, peristiwa tersebut pasti terjadi tanpa sebab lain yang mempengaruhinya, bahwa pengetahuan Allah sejak zaman azali (dari dahulu dan permulaan zaman) telah menetapkannya.

Dalam pandangan ini berarti semua perbuatan manusia termasuk dalam kategori ini. Ini berarti bahwa setiap tindakan dan kejadian yang berlangsung itu terjadi secara langsung tanpa perantara, dalam hal ini ditentukan langsung oleh qadha dan qadarnya (pengetahuan dan iradat-Nya).

Perbuatan serta daya manusia dalam pandangan ini dinafikan,  kalaupun tampak, itu hanyalah dari sisi lahiriah saja (imajinatif). Dan ini merupakan inti dari ajaran jabr  yang artinya nasib berkuasa penuh atas diri manusia. Pandangan ini baik secara praktis dan sosial, tertolak oleh logika dan batal sepenuhnya dari sudut pandang filosofis dan dalil-dalil intelektual. Sebab keterkaitan antara sebab-akibat dari semua kejadian tak mungkin di pungkiri.

  1. Teori yang ketiga adalah teori yang menyatakan bahwa konsep dan sistem sebab-akibat umum berkuasa atas alam serta seluruh peristiwa dan kejadian di dalamnya. Dalam pandangan ini dikatakan bahwa setiap peristiwa memperoleh esensi wujudnya, bentuknya, karakteristiknya yang berkaitan dengan ruang dan bentuknya, karakteristiknya yang berkaitan dengan ruang dan waktu serta kekhasan wujudnya yang lainnya dari penyebab-penyebab yang mendahuluinya.[5] Begitupula bahwa ada ikatan yang kuat yang tak mungkin terlepas antara masa lalu, masa kini dan yang akan datang, dengan semua maujud dan sebab yang mendahuluinya. Dengan begitu, bahwa  nasib setiap maujud itu berada pada maujud yang lainnya. Dengan penjelasan bahwa penyebab yang telah mewajibkan kewujudannya dan memberinya kepastian dan keharusan serta seluruh karakteristik kewujudannya., dan pada akhirnya penyebab tersebut diakibatkan oleh penyebab lainya dan begitulah untuk selanjutnya.

 


[1] Lihat Murtadha Muthahari, Manusia Dan Takdirnya; Antara Free Will dan Determinisme, Bandung: Muthahari Paperbacks, 2001, Hal. 20, Cet. I

[2] Ibid

[3] Ibid

[4] Ini adalah argumen yang dikemukakan oleh Murtadha Muthahari, pejelasannya bisa dibaca secara jelas dalam bukunya edisi Indonesia Manusia Dan Takdirnya; Antara Free Will dan Determinisme, 2001

[5] Ibid, hal. 22