Kuliah 7
MAKNA ILMU HUDHURI
Coba kamu baca kata berikut ini : ‘T A K U T’. Saat kamu membacanya apakah kamu merasa takut? Tentu tidak. Jika demikian, berarti ada perbedaan antara ‘membaca kata TAKUT’ dengan ‘merasa takut’, meskipun keduanya sama-sama kita ketahui.
Ilustrasi di atas menunjukan dua jenis pengetahuan manusia. Yang pertama, saat membaca kata ‘TAKUT’ disebut dengan pengetahuan perolehan (ilmu hushuli) karena ‘kata takut’ tidak hadir langsung dalam diri kita. Sedangkan yang kedua, saat ‘merasakan takut’ disebut dengan pengetahuan kehadiran (ilmu hudhuri) karena ‘rasa takut’ tersebut langsung hadir dalam diri kita.
Dengan demikian, yang dimaksud dengan Ilmu hudhuri adalah ilmu yang didapat melalui objek asli yang diketahui, atau hadirnya secara langsung objek (sesuatu) yang diketahui pada subjek yang mengetahui (akal). Hal ini mengindikasikan, tiadanya perantara konseptual apapun antara subjek dan objek.
Ilmu hudhuri adalah jenis pengetahuan yang semua hubungannya berada dalam kerangka dirinya sendiri sehingga seluruh anatomi gagasan tersebut bisa dipandang benar tanpa implikasi apa pun terhadap acuan objektif eksternal yang membutuhkan hubungan eksterior. Artinya, hubungan mengetahui, dalam ilmu hudhuri adalah hubungan swaobjek tanpa campur tangan koneksi dengan objek eksternal. Akan tetapi, dalam penyuguhan gagasan ini, apa yang disebut objek objektif (objek eksternal) sama sekali tidak berbeda status eksistensialnya dari objek subjektif (objek internal). Maksudnya, objek pengetahuan yang bersifat imanen dalam pikiran subjek yang mengetahui, dalam ilmu hudhuri, sepenuhnya bersatu dengan objek objektif. Jadi, objek objektif tak lagi absen dan aksidental bagi nilai kebenaran ilmu hudhuri. Dengan perkataan lain, dalam ilmu hudhuri, objek objektif dan objek subjektif adalah satu dan sama. Karena itu, ilmu hudhuri terdiri dari pengertian sederhana tentang objektivitas yang langsung hadir dalam pikiran subjek yang mengetahui dan dengan demikian secara logis tersirat dalam defenisi konsepsi pengetahuan itu sendiri.[1]
Ilmu hudhuri merupakan landasan penting bagi seluruh konstruktivitas pengetahuan manusia, meskipun jumlah objek pengetahuannya sangatlah minim.
CIRI KHAS DAN PEMBAGIAN ILMU HUDHURI
Untuk mengenali ilmu hudhuri, ada beberapa ciri yang melekat khusus padanya, yaitu :
• Hadir secara eksistensial di dalam diri subjek. Ini berarti tidak ada perantara antara subjek dan objek pengetahuan.
• Bukan merupakan konsepsi yang dibentuk dari silogisme yang terjadi pada mental. Atinya, ilmu hudhuri bukan dihasilkan dari proses berpikir, karena ia merupakan keadaan esensial jiwa. Jika keadaan ini dikomunikasikan atau dipikirkan, maka ia akan menjadi ilmu hushuli.
• Bebas dari dualisme kebenaran dan kesalahan. Artinya, ilmu hudhuri senantiasa benar dan tidak akan mengalami kesalahan. Hal ini dikarenakan ilmu hudhuri tidak diperantarai oleh apa pun sehingga tidak ada proses korenpondensi dengan objek eksternal, yang mana proses korespondensi itulah yang menjadi sebab bagi kesalahan pengetahuan manusia. Karena kebenaran adalah kesesuaian subjek dengan objek, maka ilmu hudhuri yang kehadiran objek pada subjek secara langsung dan menyatu, maka ia mengimplementasikan kebenaran secara nyata.
• Bersifat personal, artinya, ilmu hudhuri tidak dapat dideskripsikan dan dipindahkan kepada orang lain. Sebab jika ditranfer melalui komunikasi atau pembelajaran, maka itu berarti menjadi ilmu hushuli.
• Bersifat spiritual, artinya subjek yang terlatih secara spiritual akan mendapatkan ilmu hudhuri tersebut dan akan mengalami degradasi dan fluktuasi sesuai dengan kondisi disiplin latihan spiritual yang dilakukan.[2]
Adapun jenis ilmu hudhuri, secara umum terbagai pada dua, yaitu:
1. Ilmu hudhuri sederhana, yaitu pengetahuan subjek yang mengetahui terhadap dirinya sendiri. Contohnya, ilmu Tuhan tentang zat-Nya, dan ilmu diri terhadap dirinya sendiri.
2. Ilmu hudhuri ganda, yaitu pengetahuan subjek atau manusia akan entitas atau objek-objek selain dirinya sendiri. Ilmu hudhuri jenis ini, terdiri dari beberapa hal yaitu :
• Ilmu sebab akan akibatnya
• Ilmu akibat akan sebabnya
• Ilmu subjek akan bentuk-bentuk konseptual atau mental atau bentuk diri material
• Ilmu subjek akan perbuatan-perbuatan dirinya seperti kehendak dan keputusan.
• Ilmu subjek akan kondisi psikologisnya seperti cinta, benci, dan takut.
• Ilmu subjek akan potensi-potensi dirinya sperti berpikir, bergerak, dan imajinasi.[3]
PEMBUKTIAN ILMU HUDHURI
Pembuktian ilmu hudhuri umumnya dimulai dengan pembuktian akan kesadaran eksistensial subjek (yang mengetahui) terhadap dirinya sendiri. Karena itu, persoalan pertama terhadap pembuktian ilmu hudhuri adalah bagaimana membuktikan bahwa seseorang benar-benar memiliki kesadaran akan dirinya sendiri? Pada dasarnya, ilmu hudhuri itu sangatlah jelas pada setiap orang, hanya saja karena kerendahan eksistensi atau sebab lainnya sering orang tidak menyadari akan dirinya atau hanya mengakui kulit luarnya saja yang bersifat fisik dan melupakan hakikat dirinya tersebut. Untuk itu secara umum kita dapat mengajukan dua model argumentasi untuk membuktikan kesadaran diri manusia, yaitu :
1. Secara langsung, yaitu ketika seseorang merenungi dirinya sendiri dan menampilkan pengetahuan tentang dirinya dalam pernyataan ‘aku mengetahui diriku’. Kesadaran ini kemudian berubah menjadi pengetahuan murni dengan cukup menyatakan ‘aku’, karena dengan menyatakan ‘aku’ telah menetapkan sebuah pengetahuan. Pada posisi ini, subjek dan objek adalah satu sehingga tidak ada keterpisahan kehadiran antara keduanya.
2. Secara tidak langsung, yaitu melalui penisbatan dengan mengetahui sesuatu selain dirinya. Misalnya, ketika diungkapkan pengetahuan kita dengan pernyataan ‘aku mengetahui objek A,B,C,…’ Dengan penisbatan pada ‘aku mengetahui’, berarti aku tersebut telah sadar akan diri sendiri, karena, jika tidak sadar, maka penisbatan (kepemilikan) suatu pengetahuan pada ‘aku’ menjadi tidak ada artinya. Dari sini ‘aku’ merupakan hasil reduksi dari pernyataan ganda ‘aku mengetahui objek A,B,C,…’ yang mewakili realitas ontologis ‘keakuan’ atau subjek yang mengetahui.[4]
Dua argumentasi di atas dengan jelas menegaskan bahwa setiap manusia memiliki akan kesadaran diri sendiri sebagai awal dari seluruh pengetahuan yang dibangun dalam persepsi dan usaha kemanusiaan. Untuk lebih jelasnya, akan diuraikan pandangan beberapa filosof dalam membuktikan adanya ilmu hudhuri.
Ibnu Sina pernah mengemukakan teori tentang ‘jiwa yang tergantung’ telah dengan tepat ditafsirkan sebagai modus utama pengetahuan dengan kehadiran. Penafsiran ini pertama kali diberikan oleh Nashirudin al-Thusi dalam komentarnya terhadap kitab al-Isyarat, yang di dalamnya dia mencirikan pengetahuan diri sebagai keidentikan antara mengetahui dan mengada. Sebagaimana dijelaskan al-Thusi, yang dimaksud Ibnu Sina dengan ilustrasi ‘jiwa yang tergantung’ di udara yang hening mutlak (seperti ruang hampa), adalah bahwa jiwa dalam kondisi ini tidak merasakan sesuatu di luar dirinya. Dalam keadaan inilah, jiwa menjadi alpa terhadap segala sesuatu, kecuali realitas murninya sendiri dan kenyataan bahwa ia eksis. Ini berarti, satu-satunya yang masih tetap dalam kesadaran dan diketahuinya adalah dirinya sendiri.
Allamah Thabathabai juga menjelaskan tentang bukti ilmu hudhuri dengan merujuk pada pengetahuan manusia akan dirinya sendiri. Menurut Thabathabai, pengetahuan manusia tentang diri dan esensinya adalah bentuk individuasi (tashakhus) yang bersifat personal sehingga tidak dapat diterapkan kepada sesuatu yang lain (berbeda dengan konsep dan bentuk mental). Dari sisi yang lain, kita mengetahui bahwa individuasi berbarengan dengan wujud dan dapat dicapai melalui wujud tersebut. Oleh karena itu, manusia memiliki pengetahuan yang menjadi bagian dari ilmu tentang wujud (diri; nafs), bukan ilmu tentang esensi dan bentuk-bentuk mental (hushuli).[5]
Begitu pula Suhrawardi, dengan mengajukan pandangan bahwa setiap manusia memiliki pengetahuan tentang esensinya dan pengetahuan tentang dirinya sendiri, sementara esensi orang lain tidak dapat diketahuinya. Jenis pengetahuan ini, bukanlah pengetahuan konseptual dan bukan berasal dari bentuk-bentuk mental atau gambaran objek. Bagi Suhrawardi, setiap bentuk ‘yang diketahui’ atau konsep yang dipahami oleh pikiran dalam hubungannya dengan dirinya sendiri, di mana dengan cara tertentu kebenarannya dapat diterapkan pada sesuatu yang lain, atau sesuatu yang lain itu dapat menggunakan istilah teknis bentuk atau konsep tersebut, maka ia disebut ‘universal’. Bentuk dan konsep (universal) ini tidak akan pernah, dalam hubungannya dengan esensinya sendiri, menolak masuknya penerapan-penerapan sesuatu selain dirinya. Kenyataanya, dalam pemahaman kita tentang diri dan esensi kita sendiri, kita melihat bahwa diri kita itu tidak dapat diterapkan pada sesuatu yang lain, karenanya ia tidak bersifat universal, ia justru bersifat personal dan individual. Sebaliknya, bentuk dan konsep ‘saya’ yang kita pahami memiliki sifat-sifat konsep sehingga ia disebut universal. Namun, persepsi tentang esensi dan diri tidak memiliki sifat universal tersebut. Oleh karena itu, seseorang yang memiliki pengetahuan yang bukan dari keserupaan (mitsali) dan bukan konseptual (mafhum), maka berarti itu adalah ilmu hudhuri.[6]
Ayatullah Misbah Yazdi menyebutkan bahwa pengetahuan kehadiran terhadap diri sendiri merupakan kesadaran diri yang tidak bisa dianalisis dan diuraikan (dalam konsep-konsep), seperti proposisi ‘saya adalah … (I am)’ atau ‘saya ada (I exist)’ yang tersusun dari dua konsep (saya + ada). Artinya, pengetahuan diri sendiri adalah kesadaran yang bersifat intuitif, sederhana, dan langsung tentang jiwa/ruh kita sendiri. Pengetahuan dan kesadaran ini merupakan keadaan esensial jiwa.[7]
Dari uraian para filosof di atas, jelaslah bahwa ‘pengetahuan tentang diri sendiri, merupakan bukti nyata yang sangat jelas dari ilmu hudhuri, karena pengetahuan ini bersifat intuitif, sederhana, dan langsung tentang dirinya sendiri.
RELASI SUBJEK DAN OBJEK DALAM ILMU HUDHURI
Hingga kini relasi struktur pengetahuan antara subjek dan objek tersebut merupakan problem epistemologis yang akut dan belum pernah terselesaikan dalam filsafat Barat modern sejak abad ke-17 M yang dipengaruhi oleh rasionalisme-dualistik Cartesian. Meski beberapa pemikiran muncul seperti teori konstruktivis, fenomenologi Husserl, dan bahkan eksistensialis Heidegger untuk menyelesaikannya, tetapi mereka belum berhasil mengatasi hakikat persoalan itu sendiri, yaitu jenis dan isi relasi antara subjek dan objek pengetahuan itu sendiri sedemikian rupa sehingga dapat mengungkap persoalan bagaimana pengetahuan itu hadir dalam subjek.
Subjek atau ‘Aku” merupakan eksistensi yang disadari oleh setiap diri, sebab itu, kehadirannya adalah secara eksistensial bukan secara esensial. Karena itu, berbeda dengan ilmu hushuli yang mengimplikasikan adanya korespondensi, maka dalam ilmu hudhuri, tidak terjadi korespondensi yang memisahkan antara subjek dan objek. Artinya, objek bukanlah sesuatu yang berada di luar subjek, melainkan merupakan diri yang tidak terpisahkan dari subjek.
Subjek atau ‘aku’ yang melakukan pencerapan dan pemikiran, yang dengan penyaksian batinnya (syuhud) sadar akan dirinya sendiri, tanpa sarana penginderaan, percobaan, (perolehan) bentuk-bentuk ataupun konsep-konsep mental. Dengan kata lain, diri itu sendiri adalah pengetahuan. Dan dalam pengetahuan serta kesadaran ini, ketiganya, yaitu subjek, objek, dan pengetahuan itu sendiri tidak dapat dipilah-pilah, sebab ‘kemanunggalan subjek dan objek pengetahuan adalah instanta (instance; mishdaq) paling sempurna dari kehadiran objek pengetahuan pada subjek pengetahuan”.[8]
GRADASI ILMU HUDHURI
Para filosof Muslim menyebutkan bahwa adanya gradasi ilmu hudhuri, yang mana ilmu hudhuri bisa berbeda-beda dari aspek kekuatan dan kelemahannya. Hal ini disebabkan adanya perbedaan tingkat keberadaan subjek-subjek pelaku persepsi sesuai dengan prinsip gradasi eksistensi (tasykik al-wujud).[9] Dan juga disebabkan perbedaan tingkat perhatian pada objek yang hadir. Misalnya, rasa sakit akan begitu terasa jika kita sendirian, dan akan berkurang rasa sakit tersebut jika kita beramai-ramai karena terpecahnya perhatian kita.[10]
Suhrawardi menyebutkan bahwa ilmu hudhuri yang dicapai oleh setiap diri dan wujud immateri memiliki tingkat kekuatan dan kelemahan yang tergantung kepada ekstensi immaterialitasnya, persepsi terhadap esensinya, dan apa saja yang terhijab dari diri dan wujud immateri tersebut. Persepsi terhadap esensi (zat) dan apa saja yang terhijab dari diri dan wujud immateri (yang lebih general disbanding berbagai aspek esensi atau eksistensi ontologism yang berbeda-beda) memiliki tingkat kekuatan dan kelemahan, dan jika persepsi wujud immaterial tersebut meningkat, maka kesadarannya pun juga kan bertambah.[11]
Gradasi ilmu hudhuri ini berimplikasi pada perbedaan tafsiran-tafsiran atau pemikiran-pemikiran subjek yang terkait dengannya. Contohnya, akibat rendahnya derajat ilmu hudhuri seseorang terhadap dirinya sendiri, maka ia membayangkan bahwa jati dirinya adalah tubuh fisikal materialnya saja sehingga karenanya seorang manusia akan memperhatikan kondisi lahiriahnya saja.[12]
HUBUNGAN ILMU HUDHURI DENGAN ILMU HUSHULI
Seperti dijelaskan sebelumnya, bahwa kita memiliki ilmu hushuli dan berbeda dengan ilmu hudhuri. Akan tetapi, jika dicermati secara substansial, maka ilmu hushuli sebagai ilmu yang didapat berdasarkan proses korespondensi dengan objek eksternal pada prinsipnya kembali dan berasal dari ilmu hudhuri. Hal itu karena, pengetahuan yang terhasilkan pada diri subjek merupakan bentuk dari sebuah objek yang hadir di dalam mental subjek. Kehadirannya pada alam mental tersebut tidak lain kecuali dalam bentuk eksistensi mental (wujud zihni), sehingga persepsi subjek terhadap objek yang masuk merupakan persepsi terhadap eksistensi mental dan hal tersebut merupakan makna ilmu hudhuri. Artinya, objek yang hadir pada diri subjek merupakan visual yang diciptakan mental sebagai eksistensi mental dari eksistensi eksternal dan tentu saja kehadiran yang terjadi pada diri subjek bukan terhadap eksistensi eksternal, akan tetapi pada eksistensi mental yang hadir. Ini berarti ilmu hudhuri merupakan landasan dari seluruh pengetahuan manusia.[13]
Banyak argumentasi yang diajukan untuk membuktikan bahwa ilmu hudhuri merupakan landasan seluruh pengetahuan manusia, termasuk landasan bagi ilmu hushuli, diantaranya :
1. Objek eksternal merupakan eksistensi eksternal, karena itu pencerapan melalui proses korespondensi (ilmu hushuli) menyampaikan pada diri subjek bentuk visual dari objek. Bentuk visual bukanlah substansi objek karena substansinya adalah eksistensinya. Jika pengetahuan subjek terhadap objek didasarkan kepada bentuk visual entitas yang hadir, sementara bentuk entitas objek bukanlah objek itu sendiri, maka subjek tidak memiliki ilmu terhadap objek eksternal tersebut, hal ini akan berujung pada skeptisisme.
2. Objek eksternal terikat pada ruang dan waktu serta mengalami proses perubahan dengan perjalanan waktu, tetapi pada objek mental yang merupakan bentuk ilmiah dari objek eksternal tidak bergantung pada ruang dan waktu serta bersifat tetap, sehingga kapanpun dan dimanapun ketika subjek menginginkan kehadirannya, maka objek mental tersebut akan hadir pada diri subjek. Hal ini membuktikan bahwa objek yang hadir pada diri subjek merupakan eksistensi mental dari eksistensi eksternal objek.
3. Dari bentuk mental yang hadir pada diri subjek, subjek dapat melakukan perubahan sehingga membentuk jenis eksistensi baru padahal objek eksternal tetap dalam kondisinya semula. Jika objek mental terikat pada objek eksternal tentulah tidak dapat terjadi perubahan apa pun sesuai dengan kondisi objek eksternal.
4. Objek eksternal memiliki efek spesifik seperti langit yang biru, bumi yang besar, bahtera yang tanpa batas, atau gunung yang tinggi. Dalam proses ilmu hushuli, tentulah tidak mungkin tercerapnya bentuk sebagaimana eksistensi eksternal dan jika yang dipersepsi oleh mental hanya visual entitas, kita kembali pada argumentasi pertama. Karenanya, jiwalah yang menciptakan eksistensi mental dari eksistensi eksternal.
5. Mental dapat melakukan pemilahan-pemilahan antara aksiden dan substansi yang terdapat pada objek mental. Misalnya, mental dapat memisahkan warna biru dari langit dari objek eksternal langit biru yang tidak mungkin terpisah antara aksiden dan substansinya.[14]
6. Kemustahilan regresi yang tak terhingga (tasalsul). Artinya, jika kita hanya mengakui pengetahuan dengan perolehan (ilmu hushuli), maka kita menjadi tidak berpengetahuan sama sekali. Hal ini karena, setiap ilmu hushuli membutuhkan argumentasi dan representasi. Misalnya, bila kita mengetahui A, mestilah kita anggap A itu sebagai representasi B, sedangkan B merupakan representasi C, dan C itu sendiri merupakan representasi D, dan begitulah seterusnya tanpa akhir. Dengan demikian, semua pengetahuan kita hasil representasi objek sebelumnya, dan jika tidak ada representasi pertama yang mengawali pengetahuan, maka mustahil ada representasi pengetahuan berikutnya. Lantas mengapa kita menyatakan bahwa kita memiliki pengetahuan? Satu-satunya jawaban bagi kesulitan ini adalah bahwa rentetan (representasi) pengetahuan manusia mesti berakhir pada satu pengetahuan yang tidak membutuhkan representasi, dan pengetahuan tersebut adalah pengetahuan kehadiran (ilmu hudhuri).
Dengan beragam argumentasi di atas, maka terbuktilah keberadaan eksistensi mental dan sekaligus menunjukkan bahwa ilmu hudhuri menjadi landasan bagi seluruh pengetahuan manusia. Ilmu hushuli berfungsi hanya sebagai kausa bagi jiwa untuk melakukan kreatifitasnya dalam mewujudkan aksistensi mental dari objek eksternal.
Uraian-uraian di atas menunjukkan bahwa ilmu hudhuri merupakan basis dari seluruh ilmu, karena jika ditelusuri lebih dalam, ilmu hushuli itu sendiri berakhir pada ilmu hudhuri karena tidak adanya pembatas kehadiran gambaran eksistensi (bentuk objek-objek) eksternal pada akal. Selain itu, karena bentuk-bentuk mental atau konseptual merupakan cerminan dari benda-benda eksternal.
Mungkin akan timbul masalah: jika ilmu hudhuri itu adalah objek yang diketahui itu sendiri, itu berarti bahwa bentuk-bentuk mental merupakan ilmu hudhuri sekaligus ilmu hushuli. Hal itu karena, pada satu sisi, bentuk-bentuk mental diketahui dengan kehadiran, sedangkan bentuk-bentuk mental itu, pada sisi lain, merupakan contoh-contoh ilmu hushuli dari benda-benda eksternal. Jadi, bagaimana mungkin satu pengetahuan merupakan ilmu hudhuri sekaligus ilmu hushuli?
Allamah Misbah Yazdi memberikan jawaban terhadap persoalan ini sebagai berikut : bentuk-bentuk mental mempunyai sifat ‘mencerminkan’ bentuk-bentuk eksternal dan mencerminkan (represent) benda-benda eksternal. Sebagai sarana untuk mengetahui benda-benda eksternal, bentuk-bentuk mental dapat dianggap sebagai contoh dari ilmu hushuli. Namun, sebagai hal-hal yang hadir dalam diri seseorang dan orang itu secara segera dan langsung menyadari kehadirannya, bentuk-bentuk mental dapat dianggap sebagai ilmu hudhuri. Kedua sisi bentuk-bentuk mental ini berbeda satu sama lainnya; sisinya sebagai ilmu hudhuri berkaitan dengan kesadaran langsung manusia akan keberadaan mereka, sedangkan sisinya sebagai ilmu hushuli berkaitan dengan sifatnya yang melukiskan dan menyantirkan benda-benda eksternal.
Diri kita, lanjut Yazdi, dapat memperhatikan bentuk-bentuk mental secara terpisah. Dengan cara itu, bentuk-bentuk mental tercerap manusia sebagai ilmu hudhuri. Pada sisi lain, bentuk-bentuk mental dapat menjadi sarana untuk mengetahui berbagai hal atau benda eksternal, yang dalam hal ini bentuk-bentuk mental itu menjadi ilmu hushuli. Mesti dicatat bahwa maksud dari penjelasan ini bukan untuk memilah kedua contoh di atas secara waktu, melainkan untuk memilah dua sudut pandang (respect). Oleh karena itu, bentuk-bentuk mental tidak lantas menjadi tidak diketahui atau kurang hadir dalam diri manakala ia dilihat sebagai ilmu hushuli.[15]
Jadi, disatu sisi, dilihat dari kehadiran langsung gambaran objek eksternal yang kemudian menjadi eksistensi mental pada subjek maka ilmu tersebut hudhuri, akan tetapi jika dilihat dari sisi hubungan objek eksternal (bukan gambarannya) maka kehadirannya secara tidak langsung, yang berarti ilmu hushuli. Menariknya, karena keeratan hubungan antara ilmu hudhuri dan ilmu hushuli tersebut, maka perlu diperhatikan, terkadang ilmu hudhuri serentak menghasilkan ilmu hushuli yang akan dapat mengelabui pengetahuan kita.
KESIMPULAN
Ilmu hudhuri merupakan asas utama dalam epistemologi Islam, karena, ia menjadi landasan utama semua pengetahuan manusia. Berbeda dengan ilmu hushuli yang merepresentasikan objek, dalam Ilmu hudhuri objek pengetahuan langsung hadir pada subjek sehingga tidak terjadi problem dualisme: kesalahan dan kebenaran.
________________________________________
[1] Mehdi Hairi Yazdi, Menghadirkan Cahaya Tuhan. (Bnadung: Mizan, 2003), h. 97-98.
[2] Lihat Khalid al-Walid, Tasawuf Mulla Sadra (Bandung: Muthahhari Pres, tt), hlm. 113; Mehdi Ha’iri Yazdi, Menghadirkan, hlm. 103-108; Misbah Yazdi, Buku Daras Filsafat Islam.(Bandung: Mizan, 2003), h. 93-99.
[3] Lihat Allamah Thabathabai, Nihayah al-Hikmah, (Qum: Muassasah Nasr al-Islami, 1405 H), h. 260;
[4] Lihat ulasannya dalam Mehdi Hairi Yazdi. Menghadirkan, h. 149-150. Di sinilah mengapa konsep kunci Descartes yakni ‘Cogito ergo sum’ (aku berpikir, maka aku ada) dianggap oleh para filosof Islam sebagai bukti yang lemah. Sebab, pernyataan Descartes ini, masih terjebak dalam dualisme ‘keakuan’ bahkan lebih parah lagi yaitu pengetahuan yang diperoleh adalah pengetahuan semu. Sebab, adanya jarak antara ‘aku yang pertama’ dengan ‘aku yang kedua’.
[5] Mas’oud Oumid, Epistemologi Suhrawardi dan Allamah Thabathabai: Sebuah Perbandingan, dalam Jurnal Al-Huda Vol. III, No. 9, Jakarta, 2003, h. 126.; Allamah Thabathabai, Nihayah al-Hikmah, h. 250-260; Allamah Thabathabai, Bidayah al-Hikmah. (Qum: Muassasah Nasr al-Islami, 1415 H), h. 139.
[6] Mas’oud Oumid, Epistemologi, h. 125-126.
[7] Misbah Yazdi. Buku Daras, h. 93-94.
[8] Misbah Yazdi, Buku Daras, h. 93.
[9] Tentang tasykik al-wujud (gradasi eksistensi) merupakan pembahasan ontologi yang akan dibicarakan pada bab khusus.
[10] Misbah Yazdi, Buku Daras, hlm. 98.
[11] Mas’oud Oumid, Epistemologi, h. 129.
[12] Misbah Yazdi, Buku Daras, h. 98.
[13] Khalid al-Walid, Tasauf, h. 115-116.
[14] Khlaid al-Walid, Tasauf, h. 118-119.
[15] Misbah Yazdi, Buku Daras, h. 97.
Tentang ilmu hushuli dan hudhuri
“Aku mengetahui sesuatu.”
Jika maksud dari kalimat diatas itu ditelusuri, kita akan temukan tiga hal yang pokok: “aku”, “tahu”, “sesuatu yang diketahui”.
Banyak sekali pembahasan rumit mengenai masalah ini. Yakni masalah bagaimana cara “aku” untuk “mengetahui”, apakah “yang aku ketahui” itu adalah benar-benar “sesuatu yang diketahui”, dan seterusnya. Tapi coba kita fikirkan secara sederhana.
Kita perjelas gambaran masalah ini dengan sebuah contoh: “Aku tahu bahwa baju yang kukenakan ini berwarna biru.”
Dalam contoh tersebut, ada tiga unsur “aku”, “pengetahuan bahwa aku memakai baju biru”, dan “baju biru yang dikenakan”.
Permasalahan-permasalahan rumit yang diperdebatkan mengenai masalah ini bertumpu pada pertanyaan ini: “Apakah pengetahuanku benar?” Mengapa ada pertanyaan seperti ini? Jawabnya karena ada jarak antara “aku” dan “yang diketahui”. Jarak itu berupa panca indera.
Dalam contoh di atas, aku mendapatkan pengetahuanku bahwa ada baju di badanku karena aku merasakannya dengan indera peraba di kulit tubuhku. Aku tahu baju itu berwarna biru karena aku melihatnya dengan mataku (indera pengelihatan). Namun aku tidak bisa berkata “Ya aku yakin sebenar-benarnya bahwa aku mengenakan baju berwarna biru!” karena bisa jadi perantara/panca indera membohongiku.
Kenapa tidak? Bukankah kita mengira langit berwarna biru padahal sebenarnya tidak? Bagaimana jika warna biru bajuku itu hanya kiraanku belaka? Sama seperti aku mengira langit berwarna biru? Bagaimana jika aku “menangkap” bahwa bajuku biru hanya karena kondisi sekarang saja? Pada kondisi yang lain, seperti di malam hari, aku tidak melihat bajuku berwarna biru. Atau saat aku berada di dalam ruangan yang penuh dengan cahaya berwarna merah, aku melihat baju ini berwarna lain.” Lalu mana yang benar? Jadi apa warna bajuku ini? Itu baru berkaitan dengan warna saja, belum masalah apakah aku benar mengenakan baju ini? Bagaimana jika indera perabaku membohongiku? Dan seterusnya.
Para filsuf Muslim membagi pengetahuan menjadi dua: Hushuli dan Hudhuri. Pengetahuan hushuli adalah pengetahuan yang kita dapat melalui perantara panca indera. Adapun pengetahuan hudhuri adalah pengetahuan yang kita dapat tanpa perantara, yakni kita dan apa yang kita ketahui itu adalah satu, bukan dua sesuatu yang terpisah. Ilmu hushuli memiliki kemungkinan untuk salah, karena ada kemungkinan perantara/panca indera mengalami masalah yang akhirnya salah menyampaikan informasi ke otak kita. Adapun ilmu hudhuri tidak mungkin salah, karena kita dan apa yang kita ketahui adalah satu.
Penjelasannya, pengetahuanku mengenai baju biru mungkin saja salah dan mungkin juga benar; karena ada jarak pemisah (berupa panca indera) antara aku dan baju tersebut. Namun pengetahuanku tentang “bahwa aku tahu baju itu berwarna biru” tidak mungkin salah; karena tidak ada pemisah antara aku dan pengetahuan yang kudapat itu.
Mengenai adanya jarak antar “aku” dan “yang diketahui, yakni kita memerlukan panca indera untuk mengetahui segala obyek di sekitar kita, adalah hal yang sangat jelas; karena tanpa panca indera kita tidak memiliki jalan untuk mendapatkan pengetahuan.
Adapun tidak adanya jarak antara “aku” dan “pengetahuan yang didapat”, itu sulit untuk dibuktikan. Karena salah satu dari keduanya adalah hal yang jelas yang dapat kita fahami, namun yang satu lagi adalah misteri. “Aku” adalah misteri. Saya menyebut “aku” itu sebagai “ruh”; yang mana Al Qur’an sendiri menjelaskan, “Katakanlah wahai Muhammad, ruh itu termasuk urusan Tuhanku.” Adapun “pengetahuan yang didapat melalui panca indera”, saya menyebutnya sebagai informasi yang tersimpan di dalam otak; dan itu telah dibuktikan oleh ilmu pengetahuan.
Berkenaan dengan adanya kemungkinan salah dalam pengetahuan kita terhadap obyek-obyek yang kita ketahui, sebagian orang terlalu membesarkannya dan menganggapnya salah; mereka penganggapnya sebagai scepticism. Ya, memang benar jika seseorang mengalami kelainan sehingga ia selalu meragukan segala sesuatu ia dapat disebut skeptis. Namun normalnya, kita sebagai manusia, meski tidak yakin secara 100 persen tentang kebenaran pemikiran kita, kita dapat memberi nilai 99 persen pada keyakinan kita.