BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Taqwa merupakan sesuatu yang ingin dicapai oleh setiap Umat. Pastinya, orang yang beriman kepada Allah Swt dan ingin mencapai derajat keimanan tertinggi di sisi-Nya. Karena itu, tema makalah saya yang berjudul “Taqwa (sebagai puncak kepribadian Islam) ini merupakan tema yang sangat urgen dalam hal keimanan dan ketauhidan.
Derajat taqwa adalah sesuatu yang tidak mudah didapatkan oleh orang yang ingin mencapainya. Karena itu, sebagaimana asli makna kata taqwa adalah ‘menghindar’ maka menghindar untuk menuju taqwa bukanlah sesuatu yang mudah sebagaimana kita mudah menyebutkan kata itu sendiri. Karena taqwa sendiri memiliki tingkatan-tingkatan sebagai mana tingkatan-tingkatan yang dilalui oleh orang-orang beriman sehingga mencapai posisi taqwa ini. Sebab itu, al-Qur’an memberikan gambaran-gambaran dan kriteria-kriteria orang bertaqwa tersebut. Salah satu Surah yang menyebutkan kriteri-kriteria tersebut adalah surah al-Baqarah ayat 1-5 dan surah Ali Imran ayat 133-136. Adapun, kriteria pertama yang harus dimiliki oleh orang yang ingin menuju taqwa adalah beriman kepada Allah sebagai Wujud Tunggal yang telah menciptakannya dan yang memberikan petunjuk kepadanya melaui al-Qur’an Yang Mulia. Jika kriteria pertama ini sudah ia miliki dengan sempurna, maka orang yang ingin mencapai derajat taqwa tersebut juga harus mengimani apa yang berkaitan dengan tanda-tanda Allah sebagai Wujud Tunggal. Atas ini, maka dapatlah kita sandangkan gelar taqwa kepada orang tersebut.
B. Rumusan Masalah
Pada pembahasan ini, pemakalah akan merumuskan tiga masalah yaitu:
1. Pengertian dan hakikat taqwa?
2. Kriteria orang-orang yang Takwa?
3. Bagaimana perspektif al-Qur’an tentang Takwa (sebagai puncak kepribadian Islam)?
C. Tujuan dan Manfaat
Tujuan: Makalah ini dibuat untuk memenuhi tugas dan syarat kelengkapan perkuliahan “Ma’arif Qur’ani” yang diampu oleh dosen Abdul Rauf.
Manfaat: Semoga makalah ini bisa bermanfaat buat saya pribadi sebagai pemakalah dan bermanfaat bagi pembaca yang budiman. Aaaamiiin.

BAB II
PEMBAHASAN
1. Pengertian dan Hakikat Taqwa
Dalam buku Ensiklopedia al-Qur’an Kajian Kosakata yang ditulis oleh Prof. Dr. M. Quraish Shihab, secara etimologi kata taqwa merupakan bentuk mashdar dari kata ittaqa-yattaqi, yang berarti ‘menjaga diri dari segala yang membahayakan’. Sementara pakar berpendapat bahwa kata ini lebih tepat diterjemahkan dengan ‘berjaga-jaga atau melindungi diri dari sesuatu’. Secara terminologi syar’i (agama), kata taqwa mengandung pengertian ‘menjaga diri dari segala perbuatan dosa dengan meninggalkan segala yang dilarang Allah SWT dan melaksanakan segala yang diperintahkan-Nya’. Terambil dari makna ‘menghindar’ tersebut, Prof. Qurasih berpendapat bahwa takwa mencangkup tiga tingkat penghindaran. Pertama, menghindar dari kekufuran dengan jalan beriman kepada Allah. Kedua, berupaya melaksanakan perintah Allah sepanjang kemampuan yang dimiliki dan menjauhi laranganNya. Ketiga, dan yang teratas, adalah menghindar dari segala aktifitas yang menjauhkan fikiran dari Allah SWT.
Dalam KBBI, Taqwa memiliki tiga arti: pertama, terpeliharanya diri untuk tetap taat melaksanakan perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya. Kedua, keinsafan diri yang diikuti dengan kepatuhan dan ketaatan dalam melaksanakan perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya. Ketiga, kesalehan hidup.
Menurut Allamah Thabathab’i, Taqwa adalah menjaga diri dari kedurjanaan. Ketakwaan atau menjaga diri dari kedurjanaan bukan sebuah kualitas terpuji khusus kelompok tertentu orang beriman. Ketaqwaan bukan juga seperti perbuatan kebajikan, sikap rendah hati di hadapan Allah, atau kesucian niat yang digolongkan sebagai beragam posisi, derajat, kualitas atau status orang beriman. Akan tetapi, ketakwaan adalah sebuah kualitas terpuji paripurna, lengkap, komprehensif, inklusif yang meliputi semua posisi atau level keimanan sejati.
Menurut Syekh Manshur Makarim Siraji dalam tafsir al-Amtsal, Takwa berasal dari kata al-wiqayah yang berarti “menjaga”. Dengan kata lain, takwa adalah alat pengendali internal yang menjaga manusia menghadapi keserakahan syahwat. Oleh karena itu, Amir al-Mu’minin ‘Ali a.s. menyifati takwa, bahwa takwa adalah benteng yang menjaga manusia dari bahaya-bahaya penyimpangan. Beliau berkata, “Ketahuilah, wahai hamba-hamba allah. Sesungguhnya takwa adalah benteng yang kokoh. Puncak dari taqwa adalah pasrah terhadap kebenaran dan menerima sesuatu yang sesuai dengan akal dan fitrah.
2. Kriteria Orang-Orang Bertaqwa
a. Surah al-Baqarah ayat 1-5
Allamah Thabathaba’i memberikan kriteria dalam kitab tafsir mizan sebagai berikut :
1. Mengimani yang ghaib.
2. Mendirikan sholat.
3. Membelanjakan dengan penuh kebajikan dari apa yang telah diberikan Allah.
4. Mengimani apa yang diwahyukan Allah kepada para rasul-Nya.
5. Yakin akan akhirat.
Prof. M. Qurasy Shihab memberikan kriteria dalam kitab tafsir al-Misbah sebagai berikut :
1. Percaya kepada yang ghaib.
2. Melaksanakan shalat secara benar dan berkesinambungan.
3. Menafkahkan sebagian dari apa yang Kami anugerahkan kepada mereka.
4. Beriman kepada yang telah diturunkan kepadamu (Muhammad) dan yang telah diturunkan sebelummu (Muhammad).
5. Tentang (kehidupan) akhirat mereka yakin.
Syekh Nashir Makarim Sirazi memberikan kriteria dalamn kitab tafsir al-Amtsal sebagai berikut :
1. Beriman kepada yang gaib
2. Berhubungan dengan Allah SWT (mendirikan sholat)
3. Berhubungan dengan manusia (menginfakkan sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepada mereka)
4. Beriman kepada Para Nabi dan ajaran mereka
5. Beriman kepada Hari Kiamat

b. Surah Ali Imran ayat 133-136
Abu Ja’far Muhammad bin Jarir ath-Thabari memberikan kriteria dalam kitab tafsir thabari sebagai berikut:
1. Orang-orang yang menginfakkan harta dalam kondisi yang menyenangkan serta juga dalam kondisi yang menyengsarakan.
2. Orang yang bisa menahan amarahnya dan orang yang suka memberi maaf.
3. Orang-orang yang suka memberikan kenikmatan dan kemurahan tanpa pamrih
4. Orang-orang yang apabila melakukan perbuatan jelek atau mereka melakukan dosa, mereka segera ingat diri, ingat janji dan ancaman Allah SWT.
c. Perspektif al-Qur’an tentang Taqwa (sebagai puncak kepribadian Islam)
Surah al-Baqarah ayat 1-5
Tafsir Mizan
Sebagaimana dikatakan dalam tafsir Mizan terkait ulasan umum surah al-baqarah ayat 1-5 ini, Allamah Thabathaba’I menjelaskan bahwa seseorang tidak akan menjadi abdi atau hamba Allah yang sejati sebelum dia mengimani semua yang telah diwahyukan kepada para Rasul Allah tanpa membeda-bedakan rasul ini dan rasul itu; karena itu surah ini mengutuk orang-orang kafir, orang-orang munafiq dan orang-orang ahlu kitab yang memperselisihkan tentang agama Allah dan membeda-bedakan antara rasul Allah yang ini dan rasul Allah yang itu.
Ayat
Kitab ini, tidak ada keraguan di dalamnya, (adalah) sebuah petunjuk bagi orang-orang yang menjaga diri (terhadap kedurjanaan), orang-orang yang mengimani yang ghaib. Di dalam tafsir mizan, kata muttaqin diartikan sebagai orang-orang yang menjaga diri dari kedurjanaan. Ketakwaan atau menjaga diri dari kedurjanaan bukan sebuah kualitas terpuji khusus kelompok tertentu orang beriman. Ketaqwaan bukan juga seperti perbuatan kebajikan, sikap rendah hati di hadapan Allah, atau kesucian niat yang digolongkan sebagai beragam posisi, derajat, kualitas atau status orang beriman. Akan tetapi, ketakwaan adalah sebuah kualitas terpuji paripurna, lengkap, komprehensif, inklusif yang meliputi semua posisi atau level keimanan sejati. Karena alasan tersebut maka Allah tidak mengkhususkan kata sifat atau kata keterangan ini untuk kelompok tertentu orang berimana mana pun. Melihat dari penafsiran ini, jelaslah bahwa ‘Allamah Thabatabha’i menyimpulkan dan membedakan antara kualiatas orang muttaqin yang derajatnya lebih ditinggikan dibandingkan orang beriman.
Ada lima sifat dan kualitas yang disebutkan dalam ayat ini:
1. Mengimani yang ghaib
2. Mendirikan sholat
3. Membelanjakan dengan penuh kebajikan dari apa yang telah diberikan Allah
4. Mengimani apa yang diwahyukan Allah kepada para rasul-Nya
5. Yakin akan akhirat
Orang-orang takwa memperoleh kualitas-kualitas spiritual diatas melalui petunjuk dari Allah, sebagaimana dituturkan dalam ayat setelahnya: “Mereka menjadi takwa dan menjaga diri mereka sendiri terhadap kedurjanaan karena Allah telah menunjuki jalan kepada petunjuk yang lurus dan benar”. Ketika mereka mendapatkan kualitas itu, al-Qur’an menjadi sebuah petunjuk bagi mereka: “Kitab ini…(adalah) sebuah petunjuk bagi orang-orang yang takwa (orang-orang yang menjaga diri dari kedurjanaan).
Dari ini, jelas memperlihatkan bahwa ada dua petunjuk, petunjuk sebelum mereka menjadi orang-orang takwa, dan petunjuk setelah mereka menjadi orang-orang takwa; dan segera setelah itu Allah menaikkan status mereka melalui petunjuk Kitab-Nya.
Dengan demikian, orang-orang takwa itu dikelilingi dua petunjuk. Petunjuk pertama, mereka mendapat petunjuk, panduan, bimbingan dari sebuah psikologi yang sehat, tidak lemah, tidak tercemari, lengkap dan sempurna. Karena itu, petunjuk pertama pastilah sebelum al-Qur’an. Jika fitrah manusia itu sempurna dan tidak cacat, maka fitrah pastilah akan memahami bahwa psikologi tersebut tergantung pada sesuatu yang berada diatasnya.
Dengan demikian, pastilah fitrah yakin bahwa harus ada satu Wujud yang tidak akan mengabaikan detail paling kecil ketika menyangkut kesempurnaan kreatif makhluk-makhluk-Nya. Hal ini membuat dia menyadari bahwa sang Pencipta tersebut tidak mungkin membiarkan manusia mengembara tanpa tujuan dalam kehidupan, bahwa pastilah Dia telah menyediakan bagi manusia sebuah petunjuk, panduan, bimbingan untuk membimbingnya dengan benar dalam hal perbuatan dan moralnya. Melalui pemikiran logis atau argument sehat ini, manusia mengimani satu Tuhan, mengimani kenabian dan Hari Kebangkitan. Dengan iman seperti ini, maka imannya kepada asas-asas keagamaan menjadi lengkap. Keimanan ini menuntun dirinya untuk senantiasa memperlihatkan kehambaannya dihadapan Tuhannya, untuk memanfaatkan segala yang di milikinya baik berupa kekuasaan, kekayaan, martabat, pengatahuan, superioritas dan kualitas lainnya senatiasa menghidupkan iman ini dan menyampaikannya kepada orang lain.
Ayat-ayat di atas juga memberikan indikasi bahwa manusia memiliki kehidupan yang lain, sebuah kehidupan yang tersembunyi dibalik kehidupan nyata yang sekarang ini.
“mereka yang beriman kepada yang ghaib “ : “al iman” = ( keyakinan, iman, agama, akidah, beriman, percaya) memperkuat keyakinan di dalam hati. Kata iman ini berasal dari al amn = ( keselamatan, merasa aman ) orang-orang beriman mendapatkan keselamatan dari keragu-raguan karena keyakinan, iman dan akidahnya. “ al ghaib (yang nyata) “adalah lawan atau kebalikan dari “yang nyata, yang kelihatan”. Kata ini digunakan untuk Allah, dan tanda-tanda agung-Nya, diantaranya adalah wahyu yang disebut-sebut dalam ayat “ Dan yang mengimani apa yang telah di wahyukan kepadamu dan apa yang telah diwahyukan sebelum kamu”. Akan tetapi dalam ayat ini, iman kepada wahyu dan kepada akhirat disebutkan secara terpisah. Karena itu, “yang ghaib” tentulah digunakan untuk Allah saja.
Dengan kondisi ini, al-Quran menekankan bahwa manusia tidak boleh membatasi pengetahuan dan keyakinannya hanya pada persepsi ; Al-quran menasehati manusia untuk mengikuti logika yang sehat dan pemahaman yang rasional.

Tafsir al-Mishbah
Sebagaimana di dalam ayat takwa tersebut di dahului dengan kata hudan, yang mana kata hudan tersebut adalah bentuk kata “jadian atau masdar”. Bentuk ini tidak mengandung infomasi tentang waktu. Dapat berarti masa kini, atau datang dan lampau, berbeda dengan bentuk mudhari’ ( kata klerja masa kini dan masa yang akan datang ). Atau madhi ( kata kerja masa lampau ). Atas dasar itu maka petunjuk al-Quran kepada manusia, dapat dipahami dalam arti kitab suci itu kini sedang memberi petunjuk kepada orang-orang yang bertakwa yang hidup pada masa kehadiran al-Quran. Yang dimaksud orang yang bertakwa dalam hal ini adalah yang mempersiapkan jiwa mereka untuk menerima petunjuk atau yang sudah mendapatkannya tapi masih mengharapkan kelebihan, karena petunjuk Allah tidak terbatas. “……dan Allah akan menambah petunjuk kepada mereka yang telah mendapat petunjuk “ ( QS. Maryam : 76 )
Penggalan ayat itu juga dapat berarti bahwa al-Quran telah memberi petunjuk orang-orang yang bertakwa pada masa lampau. Dalam konteks ini tentu saja petunjuk al-Quran yang dimaksud adalah ayat-ayat yang turun sebelum surah al-Baqarah ini, katakanlah ayat-ayat al-Quran yang turun di Mekkah telah berhasil memberi petunjuk kepada orang-orang yang telah bersungguh-sungguh menghindar dari siksa Ilahi. Makna ini menunjukan bahwa petunjuk-petunjuk kiatab suci al-Quran bukan sekadar teori, tetapi telah terbukti kemampuannya dalam kenyataan sehingga telah berhasil memberi petunjuk keselamatan bagi orang-orang sebelum ini. Makna ketiga, yang di kandung oleh penggalan ayat diatas , adalah bahwa kitab suci al-Quran merupakan petunjuk di masa mendatang untuk orang-orang yang sebentar lagi akan datang, yaitu mereka yang benar-benar akan menjaga dan terjaga dari segla gangguan dan petaka duniawi dan ukhrawi itu sendiri. Sama hal kata hudan mengandung makna yang dalam dan yang tidak diperoleh bila kata itu diganti dengan kata dalam bentuk lain.
Takwa tidaklah satu tingkat dari ketaatan kepada Allah, tetapi dia adalah penamaan bagi setiap orang yang beriman dan mengamalkan amal sholeh. Orang yang sampai pada puncak ketaatan adalah orang bertakwa, namun yang belum mancapai puncaknya pun, bahkan yang belum luput sama sekali dari dosa, juga dapat dinamai orang bertakwa, walaupun ketakwaannya belum mencapai puncak. Takwa adlah nama yang mnghimpun semua amal-amal kebajikan. Siapa yang mengerjakan sebagian darinya, maka ia telah menyandang ketakwaan.
Sayyid Quthub memperoleh kesan dari penyifatan al-Quran dengan hudan li al-muttaqin, antara lain bahwa siapa yang ingin mendapatkan hidayah al-Quran, maka hendaklah ia datang menemuinya dengan hati yang bersih lagi tulus. Ia harus datang kepadanya dengan hati yang takut lagi bertakwa yang berupaya menghindar dari saksi ilahi, berhati-hatiu sehingga ia tidak berada dalam kesesatan atau di pengaruhi olehnya. Atas ketika itulah akan terbuka rahasia dan cahaya al-Quran dan terhunjam atau tercurah ke dalam hati yang datang ke dengan sifat dan keadaan yang dilukiskan di atas.
Ayat ke tiga sampai dengan lima menyebutkan sebagian kriteria dan sifat-sifat orang bertakwa.
Pertama, adalah percaya kepada yang ghaib. Setelah menjabarkan peran dari al-Qur’an, sebagai “hudan li al-muttaqin” dijelaskannya kriteria atau sifat-sifat orang bertakwa yaitu mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang puncaknya benar-benar beriman kepada Allah. Serta melaksanakan sholat secara bersinambung dan sempurna, yakni sesuai dengan rukun dan syaratnya dan dengan khusyu’ kepada Allah, dan disamping itu mereka menafkahkan sebagian rezeki yang kami limpahkan kepada mereka baik harta maupun selainnya baik bersifat wajib maupun sunnah dan selanjutnya mereka yang beriman kepada yang telah diturunkan kepada mu wahai Muhammad yakni al-Qur’an dengan cara membenarkan semua isi kandungannya dan meyakini bahwa yang menurunkannya adalah Allah SWT. Dan demikian juga mereka percaya kepada wahyu Ilahi yang telah diturunkan sembelummu, dan yang diwahyukan kepada para Nabi dan Rasul serta tentang kehidupan akhiran mereka beriman. Mereka itulah yang kriteria atau sifat-sifatnya sebagaimana disebutkan diatas berada diatas petunjuk dari Tuhan Pemelihara dan Pembimbing mereka, dan mereka itulah orang yang benar-benar beruntung.
Yang dimaksudkan oleh ayat ini adalah ghaib yang di informasikan oleh al-Quran dan Sunnah. Karena banyak hal yang ghaib bagi manusia dan bermacam-macam pula tingkat keghaiban. Kemudian dari kedua sumber ajaran islam itu diketahui bahwa ada yang ghaib mutlak dan juga ada yang ghaib relatif. Ada yang memahami bahwa yang di imani pastilah abstrak, tidak terlihat atau terjangkau oleh indra. Puncaknya adalah percaya kepada wujud dan keesaan Allah, serta informasi-informasi dari-Nya. Sebab itulah ada yang memahami kata “ al-ghaib “ pada ayat di atas adalah Allah SWT. Jadi, sifat pertama orang bertakwa adalah percaya atau beriman kepada Allah.
Sifat kedua, dari orang bertakwa dan mendapat manfaat dari kehadiran kitab suci ini adalah mereka yang melaksanakan shalat secara benar dan berkesinambungan. Di sini prof Quraish Shihab, mengartikan kata “Yuqimuna as-shloah” dengan arti melaksanakan sholat secara benar dan berkesinambungan karena beliau tidak menemukan seorang ulama pun yang memahaminya dalam arti “berdiri dan mendirikan” sebagaimana terjemahan pada umumnya yang kita lihat.
Sifat ketiga adalah menafkahkan sebagian dari apa yang Kami anugerahkan kepada mereka. Makna dari kata “menafkahkan” pada ayat ini adalah mengeluarkan apa yang dimiliki dengan tulus setiap saat dan secara berkesinambungan yang wajin atau yang sunnah.
Sifat yang keempat adalah orang-orang bertakwa senantiasa sepanjang saat percaya menyangkut apa yang diturunkan kepadamu hai Muhammad, yakni al-Qur’an dan apa yang diturunkan kepada para Nabi sebelum-mu yakni Taurat, Injil, dan Zabur serta dengan keniscayaan kehidupan hari akhirat seperti adanya hari perhitungan, surga, neraka sedang mereka sangat yakin.
Tafsir al-Amtsal
Dari ayat ini, orang-orang yang bertakwa ialah kesatuan perasaan yang positif dan aktif. Suatu kesatuan yang menghimpun di dalam jiwa mereka, iman kepada yang ghoib dengan menunaikan kewajiban, iman kepada para rasul secara keseluruhan, dan sesudah itu yakin akan adanya kehidupan akhirat inilah kelengkapan yang menjadi ciri khas Akidah Islam, menjadi ciri khas jiwa yang beriman dengan akidah ini dan layak menjadi akidah terakhir untuk diterima semua manusia dan untuk menjaga kemanusiaan seluruhnya.
Mengapa budaya al-Quran di khususkan untuk orang-orang bertakwa?
Sebagaimana yang kita ketahui bahwa al-Quran adalah petunjuk untuk semua manusia namun, mengapa ayat ini di khususkan petunjuk untuk orang-orang bertakwa?
Sebabnya adalah bahwa manusia tidak menerima petunjuk kitab-kitab samawi dan ajaran para nabi selagi dia belum sampai pada peringkat tertentu dari ketakwaan, yaitu peringkat pasrah terhadap kebenaran dan menerima sesuatu yang sesuai dengan akal dan fitrah.
Dengan kata lain, “keaktifan pemberi” adalah syarat dari adanya hidayah takwiniyyah dan hidayah tasyri’iyyah, demikian pula “ keaktifan penerima” adalah syarat lain dari keduanya.
Tanah yang tandus tidak akan menumbuhkan pohon sekalipun hujan turun atasnya seribu kali, karena pohon akan tumbuh di atas tanah yang potensial untuk itu. Demikian pula keadaanya, manusia tidak akan menerima benih hidayah selagi dirinya belum di bersihkan dari kekerasan hati dan fanatisme. Oleh karna itu, allah berfirman : “… sebagai putunjuk untuk orang-orang yang bertakwa.
Ulasan
1. Konsistensi dalam Keimanan
Ayat-ayat di atas selalu menggunakan fi’il mudhari’ (kata kerja bentuk “sedang”) yang biasanya menunjukan keberlangsungan. Hal ini menunjukan bahwa orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang benar-benar beriman melakukan kehidupan mereka dengan bahan dan konsistensi tanpa berhenti dan stagnan.
Sejak awal mereka bergerak dengan penuh semangat mencari kebenaran. Itulah yang menyebabkan mereka menyambut ajakan al-Qur’an dan setelah itu dalam diri mereka terdapat lima kriteria tersebut.
2. Apakah Hakikat Takwa?
Takwa berasal dari kata al-wiqayah yang berarti “menjaga”. Dengan kata lain, takwa adalah alat pengendali internal yang menjaga manusia menghadapi keserakahan syahwat.
Oleh karena itu, Amir al-Mu’minin ‘Ali a.s. menyifati takwa, bahwa takwa adalah benteng yang menjaga manusia dari bahaya-bahaya penyimpangan. Beliau berkata, “Ketahuilah, wahai hamba-hamba allah. Sesungguhnya takwa adalah benteng yang kokoh.
Surah Ali Imran ayat 133-136
Tafsir Thabari
Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa,
“Bersegeralah melakukan amal yang dapat mengantarkan kepada ampunan Tuhan atas dosa-dosa kalian, yang dapat memasukkan kalian ke surga yang luasnya disediakakan oleh Allah untuk orang yang mau bertakwa, melaksanakan semua perintahnya dan menjauhi semua larangan-Nya.
Surga yang disediakan untuk orang-orang bertakwa. Hal ini terbukti bahwa surga sudah diciptakan dan tempatnya ghaib dari alam nyata sekarang ini.
Kemudian ayat selanjutnya menggambarkan ciri-ciri orang bertakwa:
1. Orang-orang yang menginfakkan harta dalam kondisi yang menyenangkan serta juga dalam kondisi yang menyengsarakan.
Mereka adalah orang-orang yang tidak pernah melalaikan infak (beramal), baik dalam keadaan mudah dan sulit, mereka pantang mundur terus beramal sesuai dengan kondisi kemampuan mereka. Menunjukkan ketakwaan karena harta biasanya sangat disayang, untuk menginfakkannya biasanya terasa berat. Menginfakkan harta guna menghapus rasa takabbur, sombong, dan cinta harta. Selain itu dianjurkannya dalam keadaan susah, karena biasanya manusia lebih condong meminta dari pada memberi. Namun, sekalipun mereka dalam keadaan sempit, mereka masih bisa dan melapangkan untuk meninfakkan harta mereka ke jalan Allah.
2. Orang yang bisa menahan amarahnya dan orang yang suka memberi maaf.
Orang yang mampu melampiaskan amarah tapi memilih berlapang dada dan memaafkan kesalahan orang lain, merupakan tingkatan penguasaan diri dan pengendalian jiwa yang jarang bisa dilakukan oleh setiap orang. Oleh karenanya, orang yang bisa melakukannya akan disifati orang yang bertakwa.
3. Orang-orang yang suka memberikan kenikmatan dan kemurahan tanpa pamrih
Allah swt mencintai orang-orang yang suka menolong hamba-hamba-Nya yang sengsara, dan menyantuni mereka dengan sebagian nikmat yang telah diberikan Allah sebagai tanda syukur atas limpahan karunia-Nya.
4. Orang-orang yang apabila melakukan perbuatan jelek atau mereka melakukan dosa, mereka segera ingat diri, ingat janji dan ancaman Allah SWT.
Orang yang bertakwa adalah orang yang berusaha menghindari dosa, namun apabila mereka lalai dan melakukan dosa maka mereka segera ingat diri dan bertaubat kepada Allah SWT. Karena ayat setelahnya menyampaikan bahwa mereka itu balasannya ialah ampunan dari Tuhan mereka dan surga yang di dalamnya mengalir sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya; dan itulah sebaik-baik pahala orang-orang yang beramal.
Tafsir Mizan
Kata “u’iddat li al-Muttaqin” (itu disiapkan untuk orang-orang saleh), menciptakan suatu kondisi bagi dimungkinkannya deskripsi tentang karakteristik-karakteristik orang-orang saleh atau takwa. Ide utamanya adalah menggambarkan karakteristik-karakteristik orang-orang beriman yang relevan dengan situasi yang tengah terjadi sekarang, yaitu setelah perang uhud (ketika mereka memperlihatkan, dan menderita akibat, kelemahan dan ketidakpatuhan), karena mereka diharapkan berpartisipasi dalam pertempuran-pertempuran semisal lainnya dan menghadapi kondisi-kondisi yang sama, dimana mereka akan sangat membutuhkan persatuan, harmonisasi dan solidaritas.
Kemudian ayat setalahnya, dapat pula disimpulkan dari QS. Al-Ankabut :69. Seseorang bisa disebut berusaha keras hanya jika dia melakukan sesuatu yang bertentangan dengan keinginan-keinginan dan naluri-naluri natural dalam dirinya. Ini baru dapat terjadi kalau seseorang kokoh kepercayaannya kepada hal-ihwal yang menuntut pengorbanan dan ketagaran semacam itu dalam menghadapi hawa nafsu dan keingianan-keinginan. Ini membutuhkan iman yang kokoh dan keyakinan yang hakiki, mereka harus mengatakan, Tuhan kami adalah Allah, dan kemudian berjalan terus dengan tegar dan mengharuskan tindakan-tindakan yang relevan, yaitu mereka harus menguatkan iman dan kayakinan ini dengan berusaha keras dalam ibadah tulus kepada Allah SWT
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Setelah membuat makalah ini, tiba saatnya saya sedikit menyimpulkan terkait pembahasan saya “Taqwa (sebagai puncak kepribadian Islam)”. Sebagaimana judul yang harus saya pelajari serta mencari berbagai referensi terkait, maka saya dapat menyimpulkan bahwa taqwa merupakan sebuat derajat yang sempurna, lengkap, komprehensif, dan paripurna. Karena itu, setiap pribadi Islam pasti ingin mencapai derajat taqwa tersebut. Pada fitrahnya, di dalam setiap diri manusia sudah pasti ada untuk beriman kepada Allah sebagai Wujud Tunggal yang harus diakui. Namun, potensi tersebut harus dijaga terus secara konsisten agar tidak tercemari dan dikotori. Jika potensi ini terus tumbuh dan konsisten bersamaan dengan iman yang semakin bertambah dan yakin, maka pribadi Islam itu bisa mencapai derajat kesempurnaan sebagai orang taqwa.

DAFTAR PUSTAKA
Abdurrahman, Abdullah bin Muhammad bin. 2008. Tafsir Ibnu Katsir. Jakarta: Pustaka Imam Syafi‟i Ali
Digital: http://www.alquran-digital.com
Ath-Thabari, Abu Ja‟far Muhammad bin Jarir. 2009. Tafsir Ath-Thabari. Jakarta: Pustaka Azzam
Kamus Besar Bahasa Indonesia: http://kbbi.web.id
Shihab, M.Quraish. 2008. Ensiklopedia Al-Qur‟an “Kajian Kosakata”. Jakarta: Lentera Hati
Shihab, M. Quraish. 2002. Tafsir Al-Misbah. Jakarta: Lentera hati
Sirazi, Nashir Makarim. 1992. Tafsir Al-Amtsal. Beirut: Mu’assasah al-Bi’tsah
Thabathaba’i, Sayyid Muhammad Husain. Tafsir Al-Mizan.