BAB1
PENDAHULUAN
A. Latar belakang
Berawal dari mata kuliah tentang pengantar Tasawuf yang membimbing saya untuk berpikir sembari melambaikan salam perkenalan dengan kajian ini bagi saya pertamakali memasuki gerbang kajian tentang studi pengantar tasawuf adalah sesuatu yang baru dan asing. Untuk itu step by step pertanyaan demi pertanyaan terbesit dibenak, apakah Tasawuf itu?. Niat saya untuk merangkai tulisan ini sebenarnya berawal dari adanya rasa penasaran sebuah pada sebuah pernyataan bahwa seorang sufi jika sudah sampai pada maqam ma’rifat tinggi akan sampai pada Tuhannya dengan tersingkapnya tirai dan tidak ada sesuatu pun yang bisa dengan menghalangi antara seorang sufi yang suci dengan Tuhannya melalui istilah Fana (penyatuan /lebur).Nah, dari tema tersebut muncul pertanyaan apakah penyaksian tersebut sama dengan kita menyaksikan manusia biasa atau ada makna yang tersirat dibalik ini. Teringat dengan kisah ulama Nusantara yang menganut Tasawuf falsafi ibnu Arabi yaitu Hamzah Al Fanshuri yang juga menganut konsep Fana akhirnya mendapat kritikan dari berbagai pihak pihak Abdu Rauf sinkile dari Aceh. Pertentangan ini mulai menajam dan meruncing saat karya monumental Hamzah Al Fansuri berupa tafsir itu dibakar karena dianggap menyimpang dan bertentangan dengan ajaran islam yang mirip dengan Al-Ghazali (fana) terkadang lupa dengan dirinya(maka dikala mereka berkata-kata dianggap aneh), yangtersisa hanya puisi itu sampai saat ini dalam hal tasawwuf. Singkat kata pembahasan fana ini fana harus diluruskan jangan sampai dipahami oleh masyarakat awam dengan pemahaman yang awam pula. Karena saya pun kadang mengalami kebuntuan dalam berfikir bahkan sempat negative thinking bahwah mungkin karena inilah orang menjauhi tasawuf karena kajiannya terlalu tinggi dan untuk mempelajari tasawuf dan sampai pada sebuah maqom itu hanyalah para Sufi yang suci dan terkadang hal-hal yang di ungkap dalam kajian ini di luar jangkauan otak manusia. seperti apa penjelasan perkenankanlah saya menyampaikan dari apa yang saya dapat penjelasan dari berbagai referensi. Dengan Judul “Meluruskan pemahaman konsep Fana dalam Tasawuf”.
B. Rumusan Masalah
• Apa yang dimaksud dengan Konsep Fana ?
• Bagaimana kita sampai pada kefanaan ?
• Bagaimana gradual konsep fana dalam Tasawuf?
• Bagaimana pendapat kaum Sufi mengenai konsep Fana ini?

C. Tujuan dan Manfaat
• Untuk menambah khasanah keilmuan dan wawasan tentang salah satu tema tasawuf
• Mencoba meluruskan suatu pemahaman yang sering kali disalah tafsirkan oleh orang awam.
• Untuk mehahami pemikiran kaum sufi tentang Konsep kefanaan ini.

BAB 11
PEMBAHASAN
A. Pengertian Fana
Fana dari segi Etimologi adalah berasal dari kata Faniya yang berarti Musna atau lenyap. AlJunaid menngartikan hilangnya kesadaran kalbu dar hal-hal yang bersifat inderawi karena ada sesuatu yang dilihatnya.
Fana’ dalam glosarium Tasawuf merupakan peluruhan atau person kemanusiaan dalam (kebersatuan dengan) Allah. Inilah “hilang”-nya batas-batas individu dalam keadaan keastuan. Fana ini sebagai tahap akhir dalam kenaikan (mi’raj) menuju Allah Subhana wa Ta’ala.
Menurut Abu Yazid, manusia pada hakikatnya seesensi dengan Allah, dapat bersatu, dapat bersatu dengan-Nya apabila ia mampu meleburkan eksisistensi sebagai suatu pribadi sehingga ia tidak menyadari pribadinya ( fana’an nafs). Fana’an nafs adalah hilangnya kesadaran kemanusiaanya dan menyatu kedalam iradah Allah, bukan jasad tubuhnya yang menyatu dengan Zat Tuhan.
Menurut Junaid, Al- Fana dalam pengertiannya yang umum yaitu “Hilangnya daya kesadaran qalbu dari hal-hal yang bersifat inderawi karena adanya sesuatu yang dilihatnya. Situasi yang demikian akan berani karena hilangnya sesuatu yang terlihat itu berlangsung terus secara silih berganti sehingga tiada lagi yang disadari dan dirasakan oleh indera.
Amir bin berkata : aku tidak peduli apakah aku melihat seseorang perempuan ataukah sebuah dinding (dia menganggap sama atau tidak sama sekali terhadap apa yang dihadapinya). Tidak ada jalan sampai kepadanya kecuali melalui ittikad bahwa semua hal adalah hak Alllah Ta’ala semata-semata, inilah yang dikehendaki dengan terlingdung dosa ( Al’ishmah). Sabda rasululullah :
كنت له سمعا وبصرا
“ Aku menjadi pendengaran dan penglihatan bagi-Nya.
Dibalik Fana ada pula istilah Baqa, tingkatan spiritual yang ada pada para Nabi, mereka bersifat tenang apa-apa yang menimpa mereka tidak dapat mencegah dari kesibukan melaksanakan kewajiban-kewajiban mereka kepada Tuhan dan tidak dapat mencegah anugerah Allah yang diberikan kepadanya. Sebagaimana firman Allah dalam (QS.Al–Maidah 5:54) ” … itu semua merupakan keutamaan (anugerah) Allah yang didatangkan kepadanya hamba-Nya”. Dari fana’ yang mereka kehendak yaitu seseorang akan fana ( lenyap) dari sifat-sifat kemanusiaanya yang ada pada dirinya dan akan kekal dengan sifat-sifat yang Maha Haq.
Dari pengertian ini terlihat, bahwa yang lebur (fana) itu adalah kemampuan dan kepekaan menangkap yang bersifat materi dan inderawi, sedangkan materi (jasad) manusianya tetap utuh dan sama sekali tidak hancur. jadi yang hilang hanyalah kesadaran akan dirinya sebagai manusia, sebagaiman penjelasan Al-Qusyairi.
B. Proses dalam konsep Fana
Dalam proses al-fana ada empat situasi getaran psikis yang dialami seseorang yaitu:
1. al-Sakar adalah situasi kejiwaan yang terpusat penuh kepada suatu titik sehingga ia melihat dengan perasaanya, seperti apa yang dialami oleh Nabi Musa As diTursina.
2. Sathohat secara etimologi berarti gerakan, sedangkan dalam teminologi tasawuf dipahami sebagai suatu ucapan yang terlontar diluar kesadaran, kata-kata yang diucapkan dalam sakar.
3. Zawal Al-Hijab, nampaknya diartikan dengan bebas dari dimensi sehingga getar jiwanya dapat menangkap gelombang cahaya dan suara Tuhan (al-Mukasyafa).
4. Ghalab al-syuhud diartiakan sebagai tingkat kesempurnaan musyahadah, pada tingkat mana ia lupa pada dirinya dan alam sekitarnya, yang diingat dan dirasa hanya seutuhnya.
Dalam literatur Arab ditemukan pengertian al-fana sebagai “ The Passing away of the sufi from his Phenomenal exsistence, involves baqa, the contnouance of his real exsisitence. Apabilah dilihat dari sudut kajian psikologis, terlihat suatu karasteristik mistik, yaitu hilangnya kesadaran dan perasaan, dimana seseorang(sufi) tidak merasakan lagi apa yang terjadi dalam organismenya dan tidak pula merasakan ke-aku-annya serta alam sekitarnya. Dengan demimikian terlihat, bahwa fana adalah kondisi intuitif dimana seseo rang untuk beberapa saat kehilangan kesadaran terhadapnya egonya.
Melalui penjelasan diatas itulah sebenarnya yang ingin disampaikan oleh Al- Qusyairi diatas bahwa fana itu adalah terkesimanya seseorang dari segala rangsangan dan yang tinggal hanyalah satu kesadaran dan . Hanya satu daya yang mendonminasi dirinya yakni daya Dzat Mutlak. yang disebut fana dari Makhluk. Oleh karena sifatnya yang demikian maka fana bersifat incidental, artinya tidak berlangsung secara terus menerus. Menurut penganut paham ini kemampuan itu adalah karunia Allah sehingga tidak dapat diperoleh melalui latihan bagaimanapun.
Melalui penyucian jiwa tersingkaplah cahaya dan kecemerlangan ini menghapus semua batas kemanusiaan yang telah menghalangi dari menyaksikan diri hakekat Tuhan mereka. Akhirnya mereka pun menyadari bahwa diri mereka tidak ada. Alih-alih mereka sendiri yang tidak memiliki realitas berarti, hanyalah Allah yang memiliki realitas hakiki. Dan penafsiran Rumi atas ucapan ekstase Al-Hallaj, inilah maqam ketika ia mengatakan” Ana Al-Haqq”
Istilah kefanaan berasal dari ayat Al-Qur’an “ Segala Sesutu diatasanya (bumi )akan fana dan abadilah wajah Tuhanmu, pemilik keagungan dan kemulian”( Qs. Ar-Rahman [55]: 26-27).
C. Kemoderat Sufi dalam konsep Fana
Dalam perkembangannya yang awal, nampaknya ada dua aliran al¬-Fana satu yang aliran yang ber paham moderat yang diwakili oleh al-Junaid al- Baghdadi, biasanya disebut
• Fana fit-tauhid yang merupakan seorang yang larut dalam makhrifatullah dan ia tidak menyadari segala sesutau selain Allah, maka ia telah fana dalam tauhid.
• Aliran fana yang kedua dipelopori oleh Abiu Yazid Al-Busthami yang mengartikan fana sebagi sebagai penyatuan dirinya dengan Tuhan. Namun sebelum masa Busthami fana diartikan sebagai pengabdian kualitas diri. Tetapi setelah mun culnya Ibnu Arabi devenisi kemudian berubah.
D. Konsep Fana Menurut Ibnu Arabi.
Ibn Arabi telah mendefenisikan fana ke dalam dua pengertian yakni:
1) Fana dalam pengertian mistis, yaitu “ Hilangnya “ ketidaktahuan dan tinggalah pengetahuan sejati yang diperoleh melalui intuisi tentang kesatuan esensial keseluruhan itu. sufi tidak menghilangkan dirinya, tetapi ia “menyadari “non eksistensi esensial itu sebagai sutu bentuk.
2) Fana dalam pengertian metafisika, yang berarti hilangnya bentuk-bentuk” dunia fenomena dan berlangsungnya substansi universal yang satu”. Maksudnya disini adalah menghilangnya suatu bentuk adalah”fananya” bentuk itu pada saat Tuhan memanifestasi (tajalli) dirinya dalam bentuk lain. oleh karena itu kata Ibn arabi fana yang benar itu adalah hilangnya diri dalam keadaan pengetahuan intuitif dimana kesatuan esensial dari keseluruhan itu diungkapkan.
E. Relasi fana dengan Insan kamil
Menurut Ibn Arabi manusia ialah tempat tajalli yang paling sempurna karena manusia adalah kaun al-jami’ merupakan sentral wujud, yaitu sebagai mikrokosmos yang tercermin pada sifat ketuhanan pada manusia terhimpun rupa rupa Tuhan dan rupa alam, dimana substansi Tuhan dengan segala sifat dan asmanya tempat padanya. Manusia disebut mikrokosmos karena dia adalah roh semesta alam (makro kosmos). Insan kamil adalah hanya Nur Muhammad yaitu roh Ilahi yang ditiupkan kepada Nabi Adam a.s.Ia adalah esensi kehidupan dan awal manusia, oleh karena itu insan kamil adalah al-haqiqih Muhammadiyah. Dan untuk mencapai maqam ini harus melalui dua tahap :
1. Fana fillah, sirna di dalam wujud Tuhan hingga kaum sufi menjadi saru dengan-Nya.
2. Baqa’ Kelanjutan wujud bersama Tuhan sehingga dalam pandangannya Tuhan ada pada kesegalaan ini. yang diperoleh melalui pengembangan daya intuisi.
F. Gradual konsep Fana Ibn Arabi
Untuk sampai pada tingkatan fana ini tentunya melalui sebuah proses panjang seperti tazkiyatun Nafs, dengan meningkatkan ibadah spiritual, mulai dari ibadah secara Syariat, thariqah dan maqam yang paling tinggi yatu Ibadah yang hakikat. Nah dari sinilah seorang sufi dapat mencapai kefanaan dengan karunia Tuhan. Ibnu Arabi berpendapat bahwa ada tujuh tahap. Berikut tahap-tahapannya.
1.Fana’an Ma’ashi, meninggalkan dosa.
2.Menjauhkan diri dari semua perbuatan apapun. Artinya seorang sufi harus mampu menyadari bahwa hanya Tuhan satu-satunya ”agen” dan mutlak dialam ini.
3. Menjauhkan diri dari sifat-sifat dan kualitas-kualitas dari wujud-wujud kontingen (mumkinul wujud). Si Sufi harus menyadari bahwa segala macam bentuk-bentuk yang ada, sebenarnya adalah kepunyaan Tuhan.
4. Menyingkir dari personalitas dirinya sendiri. menyaring non eksistensi dari fenomena dirinya sendiri serta “ ke- Tuhan-an” dari substansi yang tidak bisa berubah.
5. Fana An Kulli Al-Alam, meninggalkan seluruh alam, yakni mengabikan dan mengehentikan penglihatan terhadap aspek fenomena dunia dan penyadaran terhadap aspek nyata merupakan hakikat dari fenomena.
6. Menghilangkan kesadaran terhadap diri sendiri sebagai seorang seorang “pelihat” pemirsa, tetapi Tuhan itu sendiri yang melihat dan yang dilihat, ia dilihat dari manifestasi-manifestasinya.
7. Memandang Tuhan sebagai Esensi alam ketimbang terhadap sebab dari alam itu. Sufi itu tidak memandang alam ini sebagai suatu akibat dari sebab tetapi sebagi suatu realitas dari penampakan.
Melalui pemjelasan tersebut ibn Arabi mempunyai tujuan akhir dari tasawuf yaitu pencapaian” pengetahuan sejati” dan kebahagiaan puncaknya sebagai penyadaran melalui intuisi mistik, yakni kesatuan esensialnya dengan Tuhan. Apa yang diperolehnya dari pengetahuan sejati( ilm alyaqin) adalah esensi dari kepastian( ainul yaqin). dan pada saat dia mentrasendenkan tahap dualitas dari pemberitahuan dan yang “diketahui” ia tiba di di puncak kehidupan mistikal pada saat mana ia saling berhadapan dengan Tuhan( haqqul Yaqin).
G. Tingkatan Fana dalam Tasawuf
a. Ittihad
Apabila seorang Sufi telah sampai kepada fana yang paling di atas, maka pada saat itu ia telah menyatu dengan Tuhan. sehingga wujudiyahnya kekal atau al- baqa. Didalam perpaduan itu ia menemukan hakikat jati dirinya sebagai manusia yang berasal dari Tuhan, itulah yang dimaksud dengan Ittihad.
Menurut Bayazid menyebut ittihad sebagai tajrid Fana al Tauhid, yaitu perpaduan dengan Tuhan tanpa diantarai sesuatu ataupun. Bahkan beliau menjelaskan dengan puitis. Kalimat Ittihad berarti hilangnya pelanggaran dan pelaksanaan( syariat), hilannya bagian jiwa dari dunia dan tetapnya keinginan terhadap akhirat, hilangnya sifat-sifat tercela dan tetapnya sifat-sifat terpuji, hilangnya keraguan dan tetpnya keyakinan serta hilangnya kelalaian dan tetapnya zikir kepadad Allah swt.
Syair ini dimaknai diawal ungkapnnya itu melukiskan alam Makrifat dan selanjutnya memasuki alam fana’an Nafsu. sehingga ia berada sangat dekat dengan Tuhan dan akhirnya terjadi perpaduan. Bahkan Bayazid memperjelas lagi berkata “semua mereka kecuali engkau, adalah makhluk-ku Aku pun berkata: Aku adalah Engkau dan Engkau adalah Aku.
Dengan ucapannya Aku adalah Engkau bukan ia maksudnya bukan bayazid pribadi. Dialog yang terjadi pada hakikatnya adalah monolog. Kata-kata itu adalah sabda Tuhan yang disalurkan melalui lidah Bayazid yang sedang dalam keadaan Fana’an nafs. Ketika itu hanya ada satu wujud yaitu Tuhan, sehingga hakikatnya ucapan itu pada hakikatnya adalah kata-kata Tuhan. Bayazid menjelaskan : Sebenarnya Dia berbicara melalui lidah saya sedangkan saya sendiri dalam keadaan fana. Oleh karena itu Bayazid tidak mengaku dirinya Tuhan sebagaimana Fir’aun, tetapi pada proses Ittihad ini jiwa manusia kehadirat Ilahi, Bukan melalui reinkarnasi.Dalam kitab, al-hawi’ al-fatawi ketahuilah bahwa dalam ungkapan sufi terdapat lafal ittihad sebagai syarat untuk menunjukkan hakikat tauhid (mengetahui yang satu dan Esa). Dan meskipun sebagian kalangan menganggap Bayazid ini sesat, tapi menurut para urafa’ sebagai seorang yang mengalami kemabukan mistis(sukr) dia mengungkap kata itu pada saat ia ekstasi (keadaan meluapnya spritual). Bayazid mempunyai tujuan adalah hidup Zuhud yang terbagi pada beberapa fase: Zuhud dunia, Zuhud akhirat,dan Zuhud pada selain Allah. Pada fase ketiga inilah yang kondisi mental menjadikan dirinya tidak mengingat apa-apa kecuali Allah (fana an nafs). yaitu hilangnya eksistensi diri pripadi sehingga ia tidak menyadari lagi eksistensi jazad kasarnya karena kesadaranya telah menyatu kepada Allah. Dan melalui penjelasan ini penulis ingin menegaskan bahwa yang menyatu adalah iradahnya dan bikan Menyatui dengan wujud Tuhannya. Dan beliau juga mengatakan perinta fana itu ia bermimpi dan bertanya dalam mimpinya: “Tuhanku apa jalannya untuk sampai kepada-Mu? Tuhan Menjawab: Tinggalkan dirimu dan datanglah!”. serta dalam Syairnya mengatakan:” Aku adalah rahasia dari yang Mahabesar, bukanlah yang Maha besar itu aku,aku hanya salah satu yang benar, oleh karena itu bedakanlah diantara kami”. Dan beliaulah yang membawa paham iitihad yang dicapai melalui pintu fana dan diikuti baqa’.
b. Hulul
Hulul adalah tingkatan tinggi dari paham ittihad yang ditampilkan pertama kali oleh Husein Ibn Mansur Al-Khallaj, yang meninggal karena pahamnya yang ia sebarkan dipandang sesat oleh pengusa disaat itu. Pengertian al-hulul secara singkat ialah Tuhan mengambil tempat dalam tubuh manusia tertentu, yaitu manusia yang telah dapat membersikan dirinya dari sifat-sifat kemanusiaannya melalui fana atau ekstase. Sebab menurut al-Hallaj manusia mempunyai sifat dasar yang ganda, yaitun sifat ke-Tuhan-an ( Lahut) dan sifat kemanusiaan ( Nasut). Pada aspek lahut terdapat keimanan serta pengetahuan tentang kebaikan dan keburukann di dalam ruh. Sedangkan Aspek nasut dalam konteks ini adalah membuat manusia lupa, yang cenderung menutupi atau melenakan manusia tentang ilham, yakni keimanan dan kebenaran yang ada di dalam ruh. Sebuah ungkapan “Summiyah al-insanalinisynihi, yakni (insan) dinamai manusia disebabkan kkecenderungan untuk lupa(Nisyan). dan jika tidak secepatnya dibunuh, ia akan terus membuta kita lupa.
Apabila seseorang dapat menghilangkan sifat-sifat nasutnya dan mengembangkan sifat-sifat lahutnya melalui fana, maka Tuhan akan mengambil tempat dalam dirinya dan fana terjadilah kesatuan manusia dengan Tuhan dan inilah yang dimaksud Hulul. Teori lahut dan Nasut berangkat dari pemahamannya tentang proses kejadian manusia. Al-Hallaj berpendapat bahwa Adam sebagai manusia pertama diciptakan Tuhan sebagai Copy dari diri-Nya¬¬(Shuroh min nafsi) dengan segenap sifat dan kebesaranya, sebagaiman dalam Syairnya”
Maha Suci Dzat yang menampakkan nasutnya * Seiring cemerlang bersama lahut-Nya,
Demikian padu makhluk-Nya pun terlihat nyata * Seperti manusia makan dan minum layaknya.
Beliau juga memahami surat al-Baqarah ayat 34 adanya Allah agar Malaikat sujud kepada Adam itu adalah karena Allah telah menjelma dalam diri Adam sehingga Ia harus disembah sebagaimana penyembah Allah. Sebagaimana ungkapannya berikut:
Berbaur sudah sukma-Mu dalam rohku jadi satu* Bagai anggur dan air bening berpadu,
Bila engkau tersentuh, terusik pula aku* Karena itu Kau dalam segala hal adalah aku.
Aku yang Kurindu, dan yang ku rindu Aku jua* Kami dua jiwa padu jadi satu raga.
H. Fana dalam pehamanan Hindu Dan Budha
Dalam konsep agama budha dan hindu ada istilah yang disebut “mokṣa” Artinya ialah kelepasan atau kebebasan dari ikatan duniawi dan lepas juga dari putaran reinkarnasi atau Punarbawa kehidupan. Dalam Hinduisme, atma-jnana (kesadaran akan “sang diri”) adalah kunci untuk meraih moksa. Umat Hindu boleh melakukan suatu bentuk dari beberapa macam Yoga Cara mencapai moksa yang dianjurkan oleh tiga tradisi tersebut bervariasi.
Pertama,Adwaita Wedanta (pendirinyaAdi Shankara) menekankan Jnana Yoga sebagai cara utama untuk mencapai moksa. Melalui pemilahan antara hal yang nyata dan yang tak nyata, sadhaka (praktisi spiritual) akan mampu melepaskan diri dari jerat ilusi dan menyadari bahwa dunia yang teramati sesungguhnya dunia adalah ilusi, fana, dan maya, dan “kesadaran” tersebut merupakan satu-satunya hal yang nyata, yaitu Persatuan Atman (percikan Tuhan dalam diri) dan Brahman(esensi alam semesta). Kedua Tradisi non-dualis memandang Tuhan sebagai objek kasih sayang yang paling patut disembah, misalnya personifikasi konsep monoteistik akan Siwa atau Wisnu.
BAB 111
PENUTUP
Kesimpulan
Fana merupakan, yaitu hilangnya kesadaran dan perasaan, dimana seseorang(sufi) tidak merasakan lagi apa yang terjadi dalam organismenya dan tidak pula merasakan ke-aku-annya serta alam sekitarnya. Pada dasarnya Bayazid tidak mengaku dirinya Tuhan sebagaimana Fir’aun, tetapi pada proses Ittihad ini jiwa manusia kehadirat Ilahi, Bukan melalui reinkarnasi. Apabila seseorang dapat menghilangkan sifat-sifat kemanusiaan(nasut) dan mengembangkan sifat-sifat Ilahiatnya(lahut) melalui fana maka Tuhan Akan mengambil tempat dalam dirinya dan fana terjadilah kesatuan manusia dengan Tuhan dan inilah yang dimaksud Hulul. Dan melalui penjelasan ini penulis ingin menegaskan bahwa yang menyatu adalah iradahnya dan bukan Menyatui dengan wujud Tuhannya. Kalimat Ittihad berarti hilangnya pelanggaran dan pelaksanaan( syariat), hilannya bagian jiwa dari dunia dan tetapnya keinginan terhadap akhirat, serta hilangnya kelalaian dan tetapnya zikir kepadad Allah swt. Begitu pula konsep fana dalam agama budha dan hindu ada istilah yang disebut “mokṣa” Artinya ialah kelepasan atau kebebasan dari ikatan duniawi dan lepas juga dari putaran reinkarnasi atau Punarbawa kehidupan. dengan menyadari bahwa Tuhan bersifat tak terbatas dan mampu hadir dalam berbagai wujud, baik bersifat personal maupun impersonal. Alhasil, mengalami fana atau tidak, punya keramat, seorang sufi hanya bisa dibilang sebagai sufi kalau ia menanamkan pada dirinya akhlaqul karimah. dan memberi manfaat besar dan concern pada sesamanya. Iman Khomeini tak perna menyebut dirinya mengalami fana apalagi keramat justru ia sering mencela dirinya dan erus berdoa atas banyak kekurangan kepada Allah Swt.

DAFTAR PUSTAKA
 Bagir, Haidar. Buku Saku Tasawuf . Bandung:Penerbit Arasy Mizan. 2005
 Chittick, William C. TASAWUF di Mata Kaum Sufi. Bandung: Penerbit Mzan. 2002
 Jumantoro, Totok dan Munir Amin, Samsul. Kamus Ilmu Tasawuf. Jakarta: Penerbit:Amzah.2005

 Muthahari,Murthada. Mengenal Tasawuf .Jakarta: Penerbit Pustaka Zahra. 2002
 Munir, Amin Samsul .Ilmu Tasawuf. Jakarta: Penerbit Amzah,2012)
 Muhammad al-kalabadzi, Abu Bakar. Ajaran-ajaran Sufi. Bandung: Penerbit Mizan.1995
 Nata, Abuddin.ilmu Kalam, Filsafat Dan Tasawuf. Jakarta: Penerbit RajaGrafindo. 2001 Cet.5
 Qadir Isa, Abdul. Hakekat Tasawuf. Jakarta: Penerbit Qisty Press 2005)
 Siregar, Rivay. Tasawuf Dari sufisme Klasik Ke Neo-Sufisme. Jakarta: Penerbit Raja Grafindo Persada.2002. cet-2
http://id.wikipedia.org/wiki/Bahasa_Sanskerta: diakses 15-06-2013)
 Nasr, Sayyed Hossein. Ensiklopedia Tematis Spritualitas Islam. Bandung:Penerbit Mizan. 2003.Cet.1.